FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bearish Range 0,71400 – 0,70800
Mata uang Aussie terhadap mata uang Dollar AS mengalami tekanan terbatas dan nampaknya hanya sementara. Hal tersebut karena Dollar Australia bertahan di dekat level tertingginya sejak awal Juni karena aksi jual obligasi global membuat investor tetap berhati-hati. Meningkatnya kekhawatiran mengenai defisit anggaran dan tingkat utang AS mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (*Treasury*), sementara pasar Australia menghadapi tekanan akibat ekspektasi bahwa suku bunga mungkin perlu dipertahankan pada tingkat tinggi lebih lama guna meredam inflasi. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga RBA sebesar 25 basis poin menjadi 4,60% pada 29 September sebesar 54%, naik dari hanya 10% seminggu sebelumnya, sementara probabilitas kenaikan lebih lanjut menjadi 4,85% berada di angka 40%. Ekspektasi kenaikan suku bunga ini menguat meskipun data terkini mengindikasikan melemahnya momentum ekonomi; data ekspor neto dan belanja pemerintah menunjukkan adanya perlambatan ekonomi pada kuartal kedua. Investor kini menantikan laporan PDB kuartal kedua yang akan dirilis pada hari Rabu, dengan para ekonom memperkirakan pertumbuhan hanya 0,3% secara kuartalan dan pertumbuhan tahunan melambat menjadi 1,8% dari 2,5%. Meskipun demikian, inflasi inti tetap tinggi di angka 3,6%, sehingga terus menekan RBA untuk menaikkan suku bunga lagi.
Pivot : 0,71540
R1 : 0,71697 S1 : 0,71279
R2 : 0,71958 S2 : 0,71122
R3 : 0,72115 S3 : 0,70861
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 160,100 – 160,600
Pelemahan mata uang Yen terhadap mata uang Greenback terus berlangsung, bahkan sudah sentuh level 160-an. Terpuruknya mata uang Yen ini bertahan di level psikologis penting yang memicu kekhawatiran akan kemungkinan intervensi lanjutan oleh pihak berwenang. Yen telah kehilangan lebih dari separuh keuntungan yang diperolehnya pasca-intervensi pasar mata uang gabungan Jepang-AS pada akhir Juli, dengan kelemahan struktural yang terus menekan mata uang tersebut. Yen tetap berada di bawah tekanan akibat selisih suku bunga yang lebar, kekhawatiran fiskal yang meningkat di Jepang, serta tingginya harga minyak yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Para investor juga terus mencermati prospek kebijakan moneter Bank of Japan menyusul laporan bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak Perdana Menteri Satsuki Katayama dan Gubernur BOJ Kazuo Ueda untuk menaikkan suku bunga. Ekspektasi meningkat terhadap kenaikan suku bunga dari bank sentral Jepang pada bulan September di tengah kekhawatiran atas pelemahan yen yang berkelanjutan dan inflasi yang didorong oleh impor.
Pivot : 160,018
R1 : 160,407 S1 : 159,771
R2 : 160,654 S2 : 159,382
R3 : 161,043 S3 : 159,135
GBPUSD
Opportunity : Bearish menuju : 1.3473 – 1.3441
Di luar perkiraan, Pounds ditutup melemah pada perdagangan Selasa kemarin. GBP/USD kembali turun menuju area rendah 1,3500. Poundsterling gagal mempertahankan momentum positif yang muncul pada Senin. Tidak banyak data ekonomi Inggris yang menjadi perhatian pada perdagangan berikutnya. Karena itu, pasar akan mengalihkan fokus ke final S&P Global Services PMI yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 3 September. Disisi lain Dolar AS dan pasar global kembali bergerak volatil pada perdagangan Selasa. Indeks Dollar AS (DXY) berhasil memulihkan sebagian besar kerugian pada Senin dan sempat menembus level 99,60. Penguatan Dollar terjadi saat pasar menghadapi tekanan baru dari meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut juga mendorong kenaikan imbal hasil Treasury AS dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kenaikan dolar AS juga terdukung lonjakan harga minyak mentah WTI sebesar +5% pada hari Selasa ke level tertinggi dalam 6 minggu meningkatkan ekspektasi inflasi, yang berpotensi mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga—sebuah faktor yang mendukung Dollar. GBP masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang akan dibayangi oleh penguatan U.S Dollar.
Open : 1.3515 Pivot 1.3527
R1 : 1.3548 S1 : 1.3494
R2 : 1.3580 S2 : 1.3473
R3 : 1.3618 S3 : 1.3441
EURUSD
Opportunity : Bearish menuju 1.1560 – 1.1536
Euro ditutup melemah pada perdagangan Selasa kemarin. Mata uang Euro kembali melemah dan turun di bawah 1,1600. Pergerakan tersebut menghapus sebagian besar penguatan pasangan mata uang ini pada awal pekan. Data inflasi awal zona Euro kembali meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga ECB pada September. Namun, penguatan dolar AS tetap menjadi tekanan bagi Euro. Pasar selanjutnya akan mencermati final S&P Global Services PMI Jerman dan zona euro. Data Producer Prices zona euro juga akan menjadi perhatian pada 3 September. Disisi lain Indeks Dollar AS berakhir naik pada hari Selasa, terdukung lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan komentar hawkish pejabat Fed. Indeks Dollar AS ditutup naik 0,24% pada 99,65. Demikian juga, pernyataan hawkish dari Gubernur The Fed Michael Barr memberikan dukungan bagi dolar; ia menyatakan, “Jika inflasi tampaknya tidak melandai secara memadai, maka menurut saya kita harus bertindak tegas untuk menaikkan suku bunga.” Kenaikan Dollar AS juga terdukung lonjakan harga minyak mentah WTI sebesar +5% pada hari Selasa ke level tertinggi dalam 6 minggu meningkatkan ekspektasi inflasi, yang berpotensi mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga sebuah faktor yang mendukung Dollar. EUR masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang dibayangi oleh penguatan U.S Dollar.
Open : 1.1592 Pivot : 1.1600
R1 : 1.1616 S1 : 1.1576
R2 : 1.1640 S2 : 1.1560
R3 : 1.1656 S3 : 1.1536
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8155 – 0.8185
Sesuai perkiraan, Franc Swiss ditutup melemah pada perdagangan Selasa kemarin. Menguatnya data Retail Sales Swiss yang rilis Selasa kemarin tidak mampu menopang nilai mata-uang Swiss Franc. Disisi lain indeks Dollar AS ditutup naik 0,24% pada 99,65. Indeks Dollar AS berakhir naik pada hari Selasa, terdukung lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan komentar hawkish pejabat Fed. Kenaikan Dollar AS juga terdukung lonjakan harga minyak mentah WTI sebesar +5% pada hari Selasa ke level tertinggi dalam 6 minggu meningkatkan ekspektasi inflasi, yang berpotensi mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga sebuah faktor yang mendukung Dollar. CHF masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini mengingat ketegangan AS-Iran kian meningkat.
Open : 0.8115 Pivot : 0.8105
R1 : 0.8135 S1 : 0.8085
R2 : 0.8155 S2 : 0.8055
R3 : 0.8185 S3 : 0.8036
DXY
Opportunity: Bullish Range 99,600 – 99,900
Kebangkitan mata uang Greenback terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya kembali nampak di market. Tanda tersebut terlihat pada Indeks Dollar AS (DXY) yang bergerak naik dan sentuh level tertinggi pada level 99,722. Kondisi Dollar AS ini melanjutkan pemulihan dari titik terendah tiga bulan di angka 98,8 yang tercatat pada 21 Agustus, serta bergerak seiring dengan lonjakan imbal hasil di seluruh kurva akibat risiko inflasi yang selaras dengan prospek sikap Federal Reserve yang lebih hawkish. AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan, yang semakin meredupkan harapan tipis akan membaiknya arus energi melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat. Kenaikan harga energi menambah tekanan inflasi tak lama setelah sejumlah anggota FOMC, termasuk Ketua Warsh, memperingatkan bahwa inflasi dapat memicu kenaikan suku bunga. Ketua juga mencatat bahwa pasar tenaga kerja baru-baru ini berada dalam kondisi full employment (pemanfaatan tenaga kerja penuh), sejalan dengan revisi tahunan data nonfarm payrolls yang jauh di bawah angka penurunan yang dilaporkan sebelumnya. Sementara itu, bukti inflasi yang lebih tinggi di Zona Euro menambah konsensus tentang kenaikan suku bunga ECB, sehingga membatasi pemulihan DXY.
Pivot : 99,576
R1 : 99,799 S1 : 99,430
R2 : 99,945 S2 : 99,207
R3 : 100,168 S3 : 99,061

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Sell Limit di area 65.895 – 65,950
Indeks Nikkei 225 turun 2,5% menjadi di bawah 64.600 sementara Indeks Topix yang lebih luas turun 1,6% menjadi 4.115 pada hari Rabu, dengan Nikkei mencapai titik terendah empat minggu karena lonjakan imbal hasil obligasi global dan harga minyak sangat membebani pasar saham. Harga minyak naik untuk sesi ketiga berturut-turut di tengah meningkatnya permusuhan antara AS dan Iran, meningkatkan risiko inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi global lebih tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun mencapai 3% untuk pertama kalinya sejak 1996, juga didukung oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan bulan ini. Saham-saham teknologi dan terkait AI memimpin penurunan, dengan kerugian yang signifikan dari Kioxia Holdings (-1,1%), Advantest (-2,3%), Fujikura (-1,4%), Tokyo Electron (-4,6%) dan SoftBank Group (-4,6%). Saham-saham keuangan, konsumen, dan industri juga mencatat penurunan tajam.
Pivot : 66,092
R1 : 66,528 S1 : 65,328
R2 : 67,292 S2 : 64,892
R3 : 67,728 S3 : 64,128
HANGSENG
Opportunity: Bearish ke 25,138
Indeks Hang Seng turun 0,9%, atau 237 poin, dan ditutup pada 25.330 pada hari Selasa, karena ketegangan AS-Iran yang kembali meningkat mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan kekhawatiran atas inflasi dan pengetatan moneter lebih lanjut. Minyak mentah Brent melanjutkan kenaikannya setelah eskalasi terbaru meningkatkan risiko gangguan berkepanjangan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz. Penurunan ini terjadi meskipun ada tanda-tanda perbaikan aktivitas manufaktur Tiongkok. PMI Manufaktur RatingDog Tiongkok naik menjadi 51,5 pada Agustus dari 50,9 pada Juli, menunjukkan ekspansi yang lebih kuat dalam aktivitas pabrik sektor swasta. Sementara itu, Shein melakukan debutnya yang telah lama ditunggu-tunggu di Hong Kong, tetapi sahamnya jatuh tajam setelah pembukaan, turun lebih dari 9% tak lama setelah perdagangan dimulai. Perusahaan tersebut mengumpulkan HK$13,6 miliar dalam IPO-nya dengan harga HK$48,56 per saham, yang memberi nilai sekitar US$26,5 miliar. Pelemahan yang kembali terjadi di sektor properti Tiongkok juga membebani sentimen pasar. Saham-saham yang mengalami penurunan signifikan antara lain Tencent (-2,6%), Z.AI Co. (-1,3%), MiniMax (-3,5%), dan Meituan (-2,9%).
Pivot : 25,488
R1 : 26,141 S1 : 25,261
R2 : 25,840 S2 : 25,136
R3 : 25,965 S3 : 24,909
NASDAQ
Opportunity: Sell Limit: 29,170| SL: 29,300 | TP: 29,950
Kontrak berjangka saham AS stabil pada hari Rabu setelah indeks utama mencatat sesi penurunan lagi, tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran atas inflasi dan kenaikan suku bunga. Dalam perdagangan reguler pada hari Selasa, Dow Jones turun 0,79%, S&P 500 turun 0,71%, dan Nasdaq Composite turun 1,03%, dengan ketiga indeks acuan tersebut memperpanjang tren penurunan mereka untuk sesi ketiga berturut-turut. Tujuh dari 11 sektor S&P berakhir lebih rendah, dipimpin oleh penurunan di sektor barang konsumsi non-esensial, industri, dan material. Pergerakan ini terjadi seiring intensifikasi aksi jual obligasi global, mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun ke level tertinggi sejak awal 2025. Harga minyak juga melonjak di tengah meningkatnya permusuhan antara AS dan Iran, meningkatkan risiko gangguan lebih lanjut terhadap aliran energi dari Timur Tengah. Investor kini menunggu data penggajian swasta ADP dan Beige Book dari The Fed, bersama dengan laporan pendapatan dari Broadcom, Hewlett Packard, dan Snowflake, di antara lainnya.
Pivot : 29,637.92
R1 : 29,684.83 S1 : 29,606.58
R2 : 29,716.17 S2 : 29,559.67
R3 : 29,763.08 S3 : 29,528.33

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bearish, namun indikator RSI mulai memasuki area oversold sehingga membuka peluang terjadinya rebound. Meski demikian, selama harga masih berada di bawah area 4.396–4.464, tren bearish masih tetap terjaga.
Harga emas bergerak di bawah level US$4.350 per troy ounce pada perdagangan Rabu setelah mengalami tekanan signifikan dan terkoreksi hampir 3% pada sesi sebelumnya. Pelemahan harga emas terutama dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve, menyusul kenaikan tajam imbal hasil obligasi global serta meningkatnya harga minyak yang kembali memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kenaikan yield obligasi membuat aset berbunga menjadi relatif lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Sentimen hawkish terhadap Federal Reserve semakin kuat setelah Kevin Warsh menegaskan komitmennya untuk memerangi inflasi. Perubahan ekspektasi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 70% terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini. Kenaikan yield Treasury AS yang sebelumnya sempat turun setelah pengumuman program buyback yang diperluas oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, kembali memberikan tekanan terhadap emas. Dengan meningkatnya yield riil dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, ruang bagi emas untuk mempertahankan momentum kenaikannya menjadi semakin terbatas.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data ketenagakerjaan AS, terutama laporan ADP employment yang dirilis Rabu dan laporan nonfarm payrolls pada Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi indikator penting bagi investor dalam menilai seberapa kuat perekonomian AS serta apakah tekanan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja cukup kuat untuk mendorong The Fed mempertahankan atau meningkatkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pivot : 4.396
R1 4.396 R2 4.464 R3 4.508
S1 4.311 S2 4.262 S3 4.223
Oil
Opportunity : Bullish, namun indikator RSI mulai memasuki area overbought sehingga membuka potensi koreksi. Meski demikian, selama harga masih bertahan di atas 87,64, tren bullish tetap terjaga.
Harga minyak mentah melanjutkan penguatannya pada perdagangan Rabu, dengan WTI bergerak menuju US$91 per barel dan mencatat kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut. Harga tersebut merupakan level tertinggi dalam hampir enam minggu. Penguatan minyak terutama didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur perdagangan energi di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur strategis bagi distribusi minyak global.
Ketegangan meningkat setelah militer AS melancarkan serangan baru terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap upaya Iran memasang ranjau di jalur perairan tersebut serta serangan sebelumnya terhadap pangkalan militer AS. Trump juga memperingatkan bahwa respons AS dapat diperbesar secara signifikan apabila Iran melakukan serangan balasan. Di sisi lain, Iran menyatakan telah merespons dengan menargetkan pangkalan AS di kawasan tersebut dan meluncurkan rudal ke arah Yordania. Eskalasi ini meningkatkan risiko gangguan terhadap arus perdagangan minyak dan mendorong investor memasukkan geopolitical risk premium yang lebih besar ke dalam harga crude oil.
Risiko terhadap pasokan global menjadi semakin penting mengingat besarnya volume minyak yang melewati Selat Hormuz. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut sekitar 17 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz pada Senin, sekaligus menyatakan bahwa Iran tidak memiliki kendali penuh atas jalur strategis tersebut. Pernyataan tersebut sedikit mengurangi kekhawatiran mengenai kemungkinan terhentinya seluruh aliran minyak, tetapi selama konflik terus meningkat, pasar tetap akan sensitif terhadap potensi gangguan transportasi dan pasokan. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperburuk tekanan inflasi global, sehingga menciptakan keterkaitan erat dengan pergerakan emas melalui jalur ekspektasi suku bunga.
Pivot: 89,30
R1 91,78 S1 89,30
R2 93,43 S2 87,64
R3 95,42 S3 85,07
DAILY ECONOMIC DATA


WEBINAR HARI INI (Rabu, 2 September 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Waspadai Volatilitas Emas Jelang Rilis Data ADP Non-Farm Employment
Catat jam dan waktunya ya!
| Rabu, 2 September 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
