FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bullish Range 0,71700 – 0,72300
Kondisi mata uang Dollar Australia terhadap mata uang Greenback berusaha mempertahankan penguatannya. Bahkan saat ini Aussie mencapai level tertinggi dalam sebelas minggu dan menuju kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut—rentetan kenaikan mingguan terpanjang sejak tahun 2020—di tengah pelemahan Dollar AS secara luas. Dollar AS tetap berada di bawah tekanan setelah rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS yang mengejutkan gagal menenangkan pasar obligasi. Investor mempertanyakan apakah intervensi tersebut dapat memberikan keringanan yang berkelanjutan dari tingginya biaya pinjaman jangka panjang, yang memicu kenaikan kembali imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memperkuat kekhawatiran atas defisit fiskal negara yang semakin melebar dan beban utang yang berat. Melemahnya Dollar AS lebih dari cukup untuk mengimbangi tekanan dari data ketenagakerjaan Australia yang lebih lemah, yang menunjukkan penurunan lapangan kerja pada bulan Juni dan pengangguran naik ke level tertinggi dalam hampir lima tahun terakhir, yaitu 4,5%. Meskipun demikian, data tersebut tidak dianggap cukup lemah untuk sepenuhnya menghilangkan ekspektasi pengetatan lebih lanjut dari RBA. Para pelaku pasar mengindikasikan hanya ada peluang 13% untuk kenaikan suku bunga menjadi 4,6% bulan depan, tetapi kenaikan pada Februari tahun depan sudah diperkirakan sekitar 68%.
Pivot : 0,71515
R1 : 0,71991 S1 : 0,71236
R2 : 0,72270 S2 : 0,70760
R3 : 0,72746 S3 : 0,70481
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 159,000 – 159,500
Pergerakan mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Dollar AS tidak banyak mengalami perubahan, namun masih berada di jalur pelemahan. Yen Jepang tidak banyak berubah di kisaran 159 setelah mengalami volatilitas tinggi di awal minggu, data menunjukkan tingkat inflasi Jepang meningkat selama dua bulan berturut-turut, yang memperkuat argumen bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar berspekulasi mengenai kemungkinan langkah tersebut pada September mendatang, dengan Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengisyaratkan bahwa otoritas dapat mulai menormalisasi kebijakan dengan laju yang lebih cepat. Yen sempat melonjak hampir 1% pada Rabu setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan pembelian kembali utang dalam jumlah lebih besar untuk menekan biaya pinjaman, namun kemudian kehilangan lebih dari separuh kenaikan tersebut keesokan harinya akibat kekhawatiran bahwa rencana pemerintah AS itu mungkin hanya menjadi solusi sementara. Mata uang lokal ini juga tetap berada di bawah tekanan jangka panjang akibat selisih suku bunga yang lebar, kekhawatiran fiskal yang meningkat, serta tingginya biaya energi dan impor.
Pivot : 158,826
R1 : 159,306 S1 : 158,524
R2 : 159,608 S2 : 158,044
R3 : 160,088 S3 : 157,742
GBPUSD
Opportunity : Bullish menuju : 1.3702 – 1.3730
Pounds ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan kemarin. Poundsterling diperdagangkan di kisaran pertengahan 1,3600, turun dari puncak tengah pekan. Kalender Inggris nyaris kosong, sehingga Cable bergerak mengikuti arah Dolar dan pidato Warsh di Jackson Hole. Risikonya adalah pergerakan datar hingga pidato tersebut disampaikan, lalu reaksi tajam ke salah satu arah setelahnya. Disatu-sisi Indeks Dollar AS (DXY) menutup pekan hampir tanpa perubahan dari Kamis, bertahan di kisaran 98,80. Sama seperti sehari sebelumnya, indeks ini sempat turun ke area 98,50 sebelum pulih di akhir sesi perdagangan. Saat ini, Indeks Dolar AS berada di level terendah sejak Mei. GBP masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini seiring pelemahan mata-uang U.S Dollar. Pelemahan ini bukan murni akibat data ekonomi, melainkan akibat langkah Departemen Keuangan AS yang setidaknya menggandakan pembelian kembali (buyback) surat utang bertenor panjang. Kebijakan ini menekan imbal hasil obligasi dan mengurangi daya tarik Dolar, meskipun data flash Purchasing Managers Index (PMI) Jumat justru menunjukkan aktivitas ekonomi AS masih tumbuh.
Open : 1.3618 Pivot 1.3645
R1 : 1.3672 S1 : 1.3615
R2 : 1.3702 S2 : 1.3588
R3 : 1.3730 S3 : 1.3558
EURUSD
Opportunity : Bullish menuju 1.1727 – 1.1744
Euro ditutup sedikit lebih rendah diperdagangan Jumat kemarin. EUR/USD menutup pekan di kisaran 1,1680, tertahan di bawah 1,1700 setelah gagal menembus level tersebut. Kalender domestik Zona Euro minim hingga rilis inflasi flash Jumat, sehingga pasangan mata uang ini masih bergantung pada arah Dolar dan hasil Jackson Hole. Inflasi HICP yang lebih tinggi dari perkiraan akan mengurangi ekspektasi pelonggaran ECB dan memberi dukungan bagi Euro menjelang akhir bulan. Indeks Dollar AS (DXY) menutup pekan hampir tanpa perubahan dari Kamis, bertahan di kisaran 98,80. Sama seperti sehari sebelumnya, indeks ini sempat turun ke area 98,50 sebelum pulih di akhir sesi perdagangan. Saat ini, Indeks Dollar AS berada di level terendah sejak Mei. Zona Euro memiliki agenda padat pekan ini. Survei IFO Jerman dan data final Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua rilis Selasa, notulen rapat terakhir Bank Sentral Eropa (ECB) terbit Kamis, dan inflasi flash Harmonized Index of Consumer Prices (HICP) Augustus rilis Jumat. Pejabat ECB, Cipollone dan Schnabel, dijadwalkan memberi pidato yang melengkapi rangkaian data tersebut. EUR masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini seiring dengan pelemahan mata-uang U.S Dollar.
Open : 1.1672 Pivot : 1.685
R1 : 1.1701 S1 : 1.1658
R2 : 1.1727 S2 : 1.1642
R3 : 1.1744 S3 : 1.1616
USDCHF
Opportunity : Bearish menuju : 0.7966 – 0.7951
Swiss Franc ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan kemarin. Pelemahan mata-uang Swiss terjadi ditengah lemahnya mata-uang U.S Dollar akibat langkah Departemen Keuangan AS yang setidaknya menggandakan pembelian kembali (buyback) surat utang bertenor panjang. Kebijakan ini menekan imbal hasil obligasi dan mengurangi daya tarik Dolar, meskipun data flash Purchasing Managers Index (PMI) Jumat justru menunjukkan aktivitas ekonomi AS masih tumbuh. Indeks Dolar AS (DXY) menutup pekan hampir tanpa perubahan dari Kamis, bertahan di kisaran 98,80. Sama seperti sehari sebelumnya, indeks ini sempat turun ke area 98,50 sebelum pulih di akhir sesi perdagangan. Saat ini, Indeks Dolar AS berada di level terendah sejak Mei. CHF berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini seiring dengan melemahnya mata-uang U.S Dollar.
Open : 0.8007 Pivot : 0.8004
R1 : 0.8027 S1 : 0.7989
R2 : 0.8042 S2 : 0.7966
R3 : 0.8064 S3 : 0.7951
DXY
Opportunity: Bullish Range 98,800 – 99,000
Menutup pekan kemarin tekanan yang terjadi pada mata uang Dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya nampaknya masih membayangi pergerakan market. Pelemahan tersebut terlihat pada Indeks Dollar AS (DXY) yang masih berada di level 98,800-an. Kondisi Greenback saat ini berada di jalur pelemahan hampir 1% pekan lalu, karena rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS meningkatkan volatilitas pasar serta mendorong permintaan terhadap logam safe-haven dan mata uang lainnya, yang berdampak negatif bagi Dollar AS. Indeks Dollar AS anjlok tajam pada Rabu setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan pembelian kembali utang yang lebih besar yang bertujuan untuk menekan biaya pinjaman. Imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang awalnya turun pada Rabu sebelum pulih kembali sehari kemudian di tengah kekhawatiran bahwa rencana pemerintah mungkin hanya memberikan solusi sementara. Pergerakan pasar ini menyoroti kekhawatiran mengenai peningkatan utang pemerintah AS, sehingga membuat Dollar AS kurang menarik bagi para investor. Sementara itu, kenaikan harga minyak seiring dengan persiapan sanksi ekonomi baru yang luas dari AS terhadap Iran juga menambah kekhawatiran akan inflasi.
Pivot : 98,770
R1 : 98,979 S1 : 98,630
R2 : 99,119 S2 : 98,421
R3 : 99,328 S3 : 98,281

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke 64,700
Indeks Nikkei 225 turun 0,2% menjadi di bawah 65.900 pada hari Senin, memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya karena para pedagang tetap berhati-hati di tengah tingginya imbal hasil obligasi global dan ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah. Imbal hasil global tetap mendekati level tertinggi multi-tahun karena pengumuman pembelian kembali obligasi yang mengejutkan oleh Departemen Keuangan AS pekan lalu gagal meredakan kekhawatiran atas inflasi dan meningkatnya utang pemerintah. Risiko geopolitik juga tetap menjadi fokus, dengan AS diperkirakan akan mengumumkan sanksi baru terhadap Iran pada hari itu juga, meskipun para pemimpin Iran mengatakan langkah-langkah tersebut tidak akan melemahkan Teheran. Investor juga menunggu laporan pendapatan Nvidia minggu ini untuk mendapatkan petunjuk tentang apakah reli ekuitas yang didorong oleh AI baru-baru ini dapat dipertahankan. Saham-saham yang terkait dengan chip dan AI memimpin penurunan, termasuk Kioxia Holdings (-0,6%), Advantest (-1,1%), Fujikura (-3,1%), SoftBank Group (-1,4%), dan Furukawa Electric (-1,7%). Saham sektor keuangan dan konsumen juga diperdagangkan lebih rendah, dengan Mitsubishi UFJ turun 0,3% dan Toyota Motor kehilangan 0,6%.
Pivot : 62,930
R1 : 64,550 S1 : 62,085
R2 : 65,395 S2 : 60,465
R3 : 67,015 S3 : 59,620
HANGSENG
Opportunity: Bullish ke 26,270
Indeks Hang Seng naik 0,8%, atau 203 poin, dan ditutup pada 25.698 pada hari Kamis, karena kenaikan saham sektor kesehatan dan teknologi mendorong pasar. Saham sektor kesehatan dan bioteknologi termasuk yang berkinerja paling kuat. Everest menjadi yang paling menonjol setelah melaporkan peningkatan pendapatan semester pertama sebesar 157,3% secara tahunan menjadi RMB1,15 miliar dan peningkatan laba bersih non-IFRS menjadi RMB97,2 juta, yang sebagian besar didorong oleh pengobatan penyakit ginjal NEFECON. Saham teknologi juga mengalami kenaikan, dengan Tencent melaporkan lonjakan belanja modal (capex) kuartal kedua sebesar 176% secara tahunan menjadi RMB52,8 miliar untuk investasi AI, sementara pendapatan naik 11% dan laba yang disesuaikan meningkat 9%. Sentimen semakin didukung oleh kebijakan China yang mempertahankan suku bunga acuan jangka pendek (LPR) satu tahun dan lima tahun tidak berubah pada 3,00% dan 3,50%. Imbal hasil obligasi global juga menurun setelah Departemen Keuangan AS menggandakan pembelian kembali utang jangka panjangnya, yang mendukung selera risiko. Saham-saham yang mengalami pergerakan signifikan antara lain Tencent (0,9%), Xiaomi (1,2%), CSPC Pharmaceutical (9,6%), Genscript Biotech (13,6%), dan MiniMax (6,2%).
Pivot : 25,894
R1 : 26,141 S1 : 25,762
R2 : 26,273 S2 : 25,515
R3 : 26,520 S3 : 25,383
NASDAQ
Opportunity: Sell Limit: 29,547| SL: 29,700 | TP: 29,234
Kontrak berjangka saham AS merosot pada hari Senin karena investor tetap berhati-hati menyusul kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah yang menekan indeks utama pekan lalu. Dow Jones turun 0,8% pekan lalu untuk penurunan mingguan kedua berturut-turut, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 1,4% dan 2%, mengakhiri kenaikan selama tiga minggu berturut-turut. Aksi jual terjadi karena imbal hasil obligasi pemerintah AS 30 tahun naik di atas 5,3%, mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade, sementara imbal hasil obligasi di Jepang, Prancis, dan Jerman juga naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Investor tetap khawatir bahwa konflik AS-Iran yang berkepanjangan dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu inflasi, membatasi ruang lingkup penurunan suku bunga. Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent akan mengumumkan sanksi baru terhadap Iran, sementara pasar menunggu laporan inflasi PCE Juli dan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akhir pekan ini. Pendapatan Nvidia dan Marvell Technology juga akan dipantau secara cermat pekan ini.
Pivot : 29,378.75
R1 : 29,538.25 S1 : 29,220.75
R2 : 29,696.25 S2 : 29,061.25
R3 : 30,013.75 S3 : 28,743.75

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bullish menguji resistance 4.652. Namun, indikator RSI yang mulai overbought bisa membuka ruang koreksi.
Harga emas menguat ke sekitar US$4.620 per troy ounce pada Senin dan mencapai level tertingginya sejak pertengahan Mei. Penguatan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pengelolaan utang Amerika Serikat dan keberlanjutan kondisi fiskal pemerintah. Sentimen tersebut semakin kuat setelah Departemen Keuangan AS secara tak terduga meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah berjangka panjang. Langkah ini mendorong penurunan imbal hasil obligasi dan nilai dolar AS, sehingga kembali menghidupkan debasement trade, yakni strategi investor untuk mengalihkan sebagian aset ke emas sebagai lindung nilai terhadap risiko pelemahan nilai mata uang dan meningkatnya beban utang pemerintah.
Sentimen positif terhadap emas juga diperkuat oleh pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mengisyaratkan bahwa program pembelian kembali obligasi masih dapat diperluas. Pemerintah AS juga disebut akan segera memperkenalkan sejumlah kebijakan untuk menekan biaya pinjaman yang saat ini berada di level tinggi. Kondisi tersebut membuat emas semakin menarik karena penurunan imbal hasil obligasi mengurangi biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Di sisi lain, kenaikan harga emas masih menghadapi potensi hambatan dari harga minyak yang tetap tinggi. Tekanan terhadap harga energi dapat meningkatkan inflasi dan pada akhirnya mengurangi ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga. Meski demikian, untuk saat ini faktor penurunan imbal hasil obligasi dan dolar AS tampak lebih dominan dalam mendukung permintaan emas. Dengan kenaikan sekitar 13% sepanjang bulan ini, emas menunjukkan momentum yang sangat kuat, meskipun kenaikan tajam tersebut juga membuat pasar rentan terhadap aksi ambil untung apabila dolar kembali menguat atau ekspektasi penurunan suku bunga AS melemah.
Pivot : 4.573
R1 4.652 R2 4.721 R3 4.773
S1 4.573 S2 4.529 S3 4.450
Oil
Opportunity : Bullish selama support 84,28 bertahan, testing kembali resistance 87,63.
Harga minyak mentah turun ke sekitar US$86 per barel setelah mengalami reli kuat dalam sepekan sebelumnya. Penurunan tersebut terutama mencerminkan aksi ambil untung investor menjelang pengumuman Amerika Serikat mengenai sanksi tambahan terhadap Iran. Pasar sebelumnya telah memperhitungkan potensi gangguan pasokan akibat kebijakan tersebut, sehingga sebagian pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan setelah harga mengalami kenaikan tajam.
Tekanan terhadap pasokan global tetap menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Washington akan menerapkan sanksi yang disebut sebagai yang “terberat” dalam sejarah, dengan tujuan menciptakan isolasi ekonomi terhadap Iran serta memberikan tekanan kepada Iran dan mitra dagangnya. Kebijakan tersebut berpotensi semakin membatasi ekspor minyak Iran, yang sebelumnya telah mengalami gangguan signifikan. Penurunan penawaran kepada pembeli di China juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap perdagangan minyak Iran mulai memberikan dampak terhadap arus pasokan.
Risiko geopolitik semakin besar karena ketegangan di sekitar Selat Hormuz masih tinggi, sementara lalu lintas kapal melalui jalur strategis tersebut masih berada jauh di bawah kondisi normal. Apabila gangguan distribusi berlanjut atau sanksi AS benar-benar mempersempit ekspor Iran, pasar minyak dapat menghadapi tekanan pasokan yang lebih besar dan memberikan dukungan tambahan terhadap harga. Namun, kenaikan harga yang terlalu tinggi juga berpotensi menekan permintaan serta meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Pivot: 84,28
R1 84,26 S1 87,63
R2 82,68 S2 89,19
R3 81,24 S3 90,49
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Rabu, 19 Agustus 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Supply & Demand Jadi Panduan Trading di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Catat jam dan waktunya ya!
| Senin, 24 Agustus 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:

















