Weekly Review dan Outlook kali ini menyoroti pekan yang penuh gejolak di pasar global. Data tenaga kerja AS yang kuat mengguncang ekspektasi suku bunga, harga minyak melonjak akibat konflik Iran-AS, dan emas tertekan oleh penguatan dolar. Pekan depan, investor akan mencermati data inflasi AS, keputusan suku bunga ECB, dan sejumlah rilis data penting dari Asia Pasifik.
Kilas Balik Pasar Pekan Lalu
Data Tenaga Kerja AS Mengangkat Dolar
Indeks dolar naik ke level 99,3 pada hari Jumat. Angka ini memulihkan posisi dolar dari level terendah dua minggu setelah data ketenagakerjaan AS keluar jauh lebih kuat dari perkiraan. Payroll nonpertanian AS bertambah 162.000 pada Agustus, melompat dari revisi kenaikan Juli sebesar 23.000. Pasar sebelumnya hanya memperkirakan kenaikan 56.000.
Tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Pertumbuhan upah tahunan justru melambat ke 3,1%, meski penurunannya tidak sebesar dugaan pasar. CME FedWatch Tool kini mencatat probabilitas kenaikan suku bunga September mencapai hampir 60%.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, memberi sinyal penting dalam pidatonya di simposium Jackson Hole bulan lalu. Ia menegaskan bahwa FOMC mungkin perlu mempertimbangkan pengetatan lebih lanjut, kecuali disinflasi menunjukkan konsistensi bulan ke bulan yang lebih jelas.
Wall Street Bergerak Variatif
Bursa saham AS menutup pekan hingga 4 September 2026 dengan hasil beragam. Data pekerjaan yang solid serta ketegangan geopolitik yang meningkat mendorong imbal hasil obligasi dan harga minyak naik.
Nasdaq naik 0,4%. S&P 500 hanya bergerak datar, naik tipis 0,1%. Dow Jones Industrial Average justru melemah sekitar 0,2%–0,3%.
Di sisi korporasi, saham Lululemon Athletica anjlok sekitar 17% setelah perusahaan merilis proyeksi kuartalan yang lemah. Tesla juga tertekan hingga turun 6% menyusul pembukaan investigasi regulator terhadap data sertifikasi Cybercab.
Imbal hasil Treasury turut terkerek naik. Yield Treasury 2 tahun mencapai 4,38%–4,39%, sementara yield 10 tahun naik ke kisaran 4,78%–4,80%.
Minyak Melonjak akibat Konflik Iran-AS
Harga minyak naik signifikan pada hari Jumat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali melancarkan serangan militer pada bulan ketujuh konflik mereka. Harga solar ritel AS bahkan mencetak rekor tertinggi.
Brent crude berakhir di 96,28 dolar per barel, naik 76 sen atau 0,8%. West Texas Intermediate menutup di 91,48 dolar per barel, naik 18 sen atau 0,20%. Sepanjang pekan, Brent melonjak 7,6% sementara harga minyak AS naik hampir 10% karena jalur pasokan Timur Tengah masih terganggu perang.
Reli harga minyak, ditambah kenaikan tajam harga bahan bakar, mendorong inflasi dan biaya pinjaman pemerintah naik di berbagai negara. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru soal perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Emas Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Harga emas melemah pada hari Jumat setelah rilis data pekerjaan AS yang kuat memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini. Penguatan dolar turut menekan harga logam mulia tersebut.
Harga emas spot turun 1% ke 4.430,61 dolar per ons. Kontrak berjangka emas melemah 1,4% ke 4.477,34 dolar per ons. Sepanjang pekan, harga spot tercatat turun 0,6% sedangkan kontrak berjangka merosot 1,2%.
WEEK AHEAD
(07 – 11 September 2026)
Outlook Pekan Depan
Weekly Review dan Outlook pekan ini juga mencakup agenda ekonomi global yang padat. Lalu lintas tanker di Selat Hormuz akan terus dipantau menyusul eskalasi serangan antara Iran dan AS yang memperpanjang guncangan pasokan energi dari kawasan tersebut.
Amerika: Data Inflasi Jadi Penentu Arah The Fed
Pekan depan lebih pendek karena libur Labor Day pada hari Senin. Meski begitu, investor akan mencermati data inflasi Agustus sebagai input utama sebelum pertemuan kebijakan The Fed pada 16 September.
Inflasi konsumen AS diperkirakan naik 0,4% pada Agustus, mempercepat dari kenaikan 0,1% pada Juli. Inflasi inti diproyeksikan naik 0,2%. Di sisi produsen, PPI headline dan inti sama-sama diperkirakan naik 0,3%, juga mempercepat dari bulan sebelumnya.
Indeks Sentimen Konsumen Michigan periode awal September kemungkinan masih menunjukkan pesimisme konsumen yang dalam. Data penjualan rumah, ekspektasi inflasi konsumen, indeks bisnis NFIB, inventori grosir, dan laporan anggaran bulanan pemerintah juga akan dirilis pekan ini.
Departemen Keuangan AS turut memperbesar program pembelian kembali obligasi dan surat utang bertenor panjang untuk menahan laju kenaikan yield jangka panjang. Selain itu, pasar akan mencerna hasil kuartalan dari Oracle, GameStop, Sunbelt Rentals Holdings, dan Adobe.
Eropa: ECB Diproyeksikan Naikkan Suku Bunga
ECB dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pekan depan. Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral tersebut menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, membawa suku bunga deposito acuan ke 2,5%. Langkah ini akan menyusul kenaikan serupa pada Juni, yang menandai kenaikan suku bunga pertama dalam tiga tahun di tengah lonjakan inflasi.
Trader juga akan mencermati panduan ke depan dari ECB, meski pengetatan lanjutan belum terlihat dalam waktu dekat. Estimasi final PDB zona euro kuartal kedua serta data ketenagakerjaan final periode yang sama juga akan dirilis.
Jerman akan merilis data produksi industri, yang diperkirakan naik sedikit lebih cepat sebesar 0,3%. Data inflasi final Jerman kemungkinan mengonfirmasi kenaikan pada Agustus, sementara data perdagangan negara tersebut juga dijadwalkan terbit.
Inggris memiliki agenda padat dengan rilis data output, PDB, dan produksi industri bulanan. PDB diperkirakan stagnan pada Juli. Produksi industri diproyeksikan naik 0,1%, membaik dari penurunan 0,2% pada Juni. Data perdagangan dan Indeks Harga Rumah Lloyds turut dijadwalkan.
Asia Pasifik: China dan Jepang Rilis Data Kunci
China akan merilis data perdagangan dan inflasi Agustus. Surplus perdagangan diperkirakan melebar, sementara inflasi CPI diproyeksikan mempercepat ke 0,9% dari 0,5%.
Jepang memiliki agenda ekonomi yang cukup banyak, mencakup revisi PDB kuartal kedua, data upah Juli, dan neraca berjalan. PPI Agustus diperkirakan menunjukkan inflasi produsen mempercepat ke 7,4%. Cadangan devisa terbaru, pinjaman bank, pesanan mesin perkakas, dan indeks survei bisnis Jepang juga akan terbit pekan ini.
Di Australia, perhatian pasar akan tertuju pada kepercayaan konsumen dan bisnis, ekspektasi inflasi konsumen, serta angka final persetujuan pembangunan. Taiwan turut merilis data perdagangan yang bisa memberi petunjuk soal permintaan infrastruktur AI global.
Data Mingguan Perdagangan Emas (31 Agustus – 04 September 2026)
Open : 4.439,53 High : 4.510,99 Low : 4.282,06 Close : 4.430,22 Range : 228,93
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.305 | R1 4.533 |
| S2 4.179 | R2 4.637 |
| S3 4.076 | R3 4.762 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (31 Agustus – 04 September 2026)
Open : 84,66 High : 93,08 Low : 84,07 Close : 91,20 Range : 9,01
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 85,82 | R1 94,83 |
| S2 80,44 | R2 98,46 |
| S3 76,81 | R3 103,84 |
Oil Outlook : Bullish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 31 Agustus – 04 September 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
