Market Summary
Kekhawatiran inflasi kembali membayangi pasar global dan menekan harga emas secara signifikan. Logam mulia tersebut turun hingga 8% ke level $4.100 per ounce pada awal pekan, sekaligus menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir.
Penurunan ini terjadi setelah harga minyak melonjak tajam akibat konflik Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu lonjakan ekspektasi inflasi dan mengubah sentimen pasar terhadap kebijakan moneter global.
Eskalasi Konflik Dorong Ketidakpastian
Ketegangan meningkat setelah Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran merespons dengan ancaman terhadap aset strategis Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Pasar menilai situasi ini berpotensi memperpanjang gangguan pasokan energi global. Dampaknya, harga minyak tetap tinggi dan memperkuat tekanan inflasi di berbagai negara.
Dolar AS Menguat di Tengah Permintaan Safe Haven
Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke kisaran 99,80 dan mencatat kenaikan dalam dua sesi berturut-turut. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, ekspektasi kebijakan ketat dari Federal Reserve turut menopang penguatan dolar. Kenaikan harga energi dinilai memperkuat tekanan inflasi, sehingga bank sentral cenderung mempertahankan sikap hawkish.
Ekspektasi Suku Bunga Masih Tinggi
Kekhawatiran inflasi membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun. Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% setelah hasil voting mayoritas dalam pertemuan terakhir.
Di sisi lain, European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan juga menahan suku bunga, namun memberi sinyal siap memperketat kebijakan jika tekanan inflasi berlanjut.
Peluang Trading Emas di Tengah Volatilitas
Kekhawatiran inflasi menciptakan volatilitas tinggi pada pergerakan emas. Kondisi ini membuka peluang trading jangka pendek, terutama saat harga bergerak tajam mengikuti sentimen pasar.
Pasar menilai bahwa selama inflasi tetap tinggi dan suku bunga berpotensi naik, pergerakan emas akan cenderung fluktuatif. Pelaku pasar dapat memanfaatkan momentum tersebut dengan memperhatikan perkembangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral secara ketat.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih cenderung bearish, dengan level pivot berada di 4.380. Selama harga tetap bergerak di bawah level tersebut, potensi penurunan masih terbuka untuk menguji area support di 4.098, kemudian 4.000, hingga 3.890.
Sebagai skenario alternatif, apabila harga mampu menembus dan bergerak di atas 4.380, maka potensi kenaikan dapat berlanjut untuk menguji area resistance di kisaran 4.500 hingga 4.610.
Resistance 1: 4.380 Resistance 2: 4.500 Resistance 3: 4.610
Support1: 4.098 Support 2: 4.000 Support 3: 3.890
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan tekanan bearish yang kuat setelah harga turun tajam dan bergerak di bawah SMA 50, menandakan tren turun masih dominan. Saat ini, fokus utama berada pada area support krusial di kisaran 4.503–4.403 yang menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 terlihat mulai kembali menguat setelah berhasil bertahan di atas area support 92,09–94,71, yang kini berfungsi sebagai zona demand sekaligus penopang tren naik jangka pendek. Harga juga bergerak di atas SMA 50, mengindikasikan momentum bullish mulai terbentuk kembali.
Week Ahead: 23–27 Maret 2026
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, dengan level pivot di 96,20. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji area support di 91,45, kemudian 90,00, hingga 88,00.
Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan bearish kuat setelah menembus beberapa level support penting dan bergerak jauh di bawah SMA 50, yang mengonfirmasi dominasi seller dalam jangka pendek. Penurunan terbaru berlangsung tajam dan saat ini harga masih berada di atas zona support kuat 4.503–4.403, sehingga area tersebut belum tersentuh dan tetap menjadi potensi demand utama apabila pelemahan berlanjut.
Pergerakan US Oil pada time frame terlihat harga masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah reli kuat sebelumnya, dengan harga kini berada di sekitar area support 92,50 yang berdekatan dengan SMA 50, sehingga zona ini menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya. Struktur harga menunjukkan momentum bullish mulai melemah setelah gagal mempertahankan posisi di bawah resistance 99,99, sementara penurunan terbaru mengindikasikan tekanan jual jangka pendek sedang meningkat.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan GBP/USD masih berpotensi bearish pada time frame H4, dengan level pivot di 1.3300. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan penurunan diperkirakan berlanjut dengan target support terdekat di 1.3240. Jika level ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju area support berikutnya di 1.3215 hingga 1.3190.
Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan bearish setelah penembusan kuat di bawah area support 4.961 dan 4.900. Harga saat ini bergerak di bawah SMA yang mulai menurun, mengindikasikan tren turun masih dominan, sementara RSI berada di area oversold namun belum menunjukkan sinyal pembalikan yang signifikan.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish setelah harga berhasil bertahan di atas area support 92,50 dan didukung oleh posisi harga yang masih berada di atas SMA yang menanjak. Saat ini harga sedang menguji resistance 99,99, sehingga jika mampu ditembus, potensi kenaikan dapat berlanjut menuju 104,73 hingga 108,00.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih cenderung bearish, dengan level pivot di 5.025. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, potensi penurunan masih berlanjut dengan support terdekat di 4.981. Jika level ini ditembus, penurunan berikutnya berpotensi menguji area 4.965 hingga 4.945.
Pergerakan XAU/USD pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan setelah gagal bertahan di atas area 5.061 dan saat ini bergerak konsolidasi di sekitar 5.000 dalam range sempit. Harga juga masih berada di bawah SMA yang mulai menurun, yang mengindikasikan momentum bearish jangka pendek masih dominan.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish setelah harga mampu bertahan di atas area support 92,50. Saat ini harga bergerak konsolidasi di sekitar 95,00 setelah sebelumnya mengalami lonjakan tajam. Posisi harga yang masih berada di atas SMA juga mengindikasikan bahwa tren kenaikan jangka pendek masih terjaga. Selama harga tetap bertahan di atas 92,50, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance terdekat di 99,99, kemudian berpeluang melanjutkan penguatan menuju area 104,73 hingga 108,00.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan AUD/USD pada time frame H4 masih memiliki kecenderungan bullish, dengan level pivot berada di 0.7040. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance terdekat di 0.7100. Jika level ini berhasil ditembus, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistance berikutnya di 0.7130 hingga 0.7150.
