Inflasi AS Mendekati Target The Fed
Ringkasan Pasar & Proyeksi Ekonomi menunjukkan bahwa inflasi Amerika Serikat melambat dan memberikan sinyal positif bagi pasar keuangan global. Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen tahunan naik 2,4%, lebih rendah dari perkiraan 2,5%. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk mulai menurunkan suku bunga tahun ini.
Penurunan inflasi membawa indikator semakin dekat dengan target jangka panjang bank sentral sebesar 2%. Perlambatan ini muncul setelah laporan tenaga kerja yang kuat, sehingga pasar mulai menyesuaikan ekspektasi waktu pelonggaran kebijakan moneter. Investor kini melihat peluang pemangkasan suku bunga setidaknya dua kali sepanjang 2026.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter ini meningkatkan optimisme terhadap stabilitas ekonomi dan konsumsi domestik di Amerika Serikat. Penurunan harga energi dan kendaraan turut membantu menjaga daya beli konsumen.
Wall Street Bergerak Beragam di Tengah Ketidakpastian
Saham global bergerak terbatas karena investor mengevaluasi dampak inflasi terhadap kebijakan moneter. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,10% ke 49.500,93, sementara S&P 500 menguat tipis 0,05% ke 6.836,17. Sebaliknya, Nasdaq Composite turun 0,22% ke 22.546,67 akibat tekanan pada sektor teknologi.
Pergerakan sektor teknologi menjadi perhatian karena potensi disrupsi dari perkembangan kecerdasan buatan. Investor mengurangi eksposur pada saham teknologi setelah reli kuat sebelumnya. Secara mingguan, ketiga indeks utama masih mencatat pelemahan tipis, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar.
Di Eropa, indeks STOXX Europe 600 turun 0,13%, meskipun tetap mencatat kenaikan tipis secara mingguan. Indeks saham global dari MSCI juga turun 0,24%, menunjukkan sentimen global yang masih rapuh.
Dolar Stabil, Imbal Hasil Treasury Turun
Pasar valuta asing menunjukkan stabilitas setelah rilis data inflasi. Indeks dolar bergerak hampir tidak berubah di kisaran 96,90. Pergerakan ini mencerminkan keseimbangan antara ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kondisi ekonomi yang tetap solid.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,048% dari 4,104%. Penurunan yield ini mendukung aset berisiko dan logam mulia karena menurunkan biaya peluang investasi. Stabilnya dolar dan turunnya yield memperkuat keyakinan pasar bahwa kebijakan moneter akan bergerak lebih akomodatif dalam beberapa bulan ke depan.
Emas dan Minyak Menguat Seiring Pelemahan Yield
Harga emas rebound menuju USD 5.030 per ounce setelah tekanan tajam sebelumnya. Penurunan yield dan melemahnya tekanan inflasi meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Pergerakan ini menandakan pemulihan minat investor terhadap logam mulia.
Harga minyak juga mencatat kenaikan moderat. Brent ditutup di USD 67,75 per barel, sementara WTI berada di USD 62,89. Kenaikan ini didukung oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang stabil dan potensi peningkatan permintaan energi.
Kombinasi inflasi yang lebih rendah dan yield yang turun memberikan dukungan kuat bagi komoditas.
Prospek Ekonomi dan Arah Pasar Pekan Ini
Ringkasan Pasar & Proyeksi Ekonomi memperlihatkan bahwa arah pasar sangat bergantung pada ekspektasi kebijakan moneter. Inflasi yang melambat memperkuat peluang pelonggaran kebijakan, yang dapat mendukung saham, emas, dan aset berisiko lainnya.
Namun, volatilitas tetap mungkin terjadi karena investor masih memantau data ekonomi lanjutan. Pergerakan dolar, yield obligasi, dan pasar saham akan menjadi indikator utama arah sentimen global.
Secara keseluruhan, Ringkasan Pasar & Proyeksi Ekonomi menunjukkan bahwa pasar mulai beralih dari fase pengetatan menuju fase stabilisasi. Kondisi ini membuka peluang pemulihan aset berisiko, dengan fokus utama pada kebijakan suku bunga dan dinamika inflasi global.
WEEK AHEAD
(16 – 20 Februari 2026)
Week Ahead: 16–20 Februari 2026
Pasar keuangan global memasuki pekan penting dengan fokus pada risalah rapat Federal Reserve dan data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Risalah tersebut akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga setelah bank sentral mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, menyusul tiga kali pemangkasan pada tahun lalu.
Investor juga akan mencermati estimasi awal GDP kuartal keempat, yang diperkirakan tumbuh 3% secara tahunan, lebih rendah dari 4,4% pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini mencerminkan dampak tekanan ekonomi dan gangguan aktivitas pemerintah. Selain itu, data pendapatan pribadi diperkirakan naik 0,3%, sementara belanja konsumen diproyeksikan meningkat 0,4%, menunjukkan konsumsi masih mendukung pertumbuhan ekonomi.
Indikator inflasi pilihan The Fed, Core PCE, diperkirakan meningkat 0,3%. Data ini akan menjadi faktor utama dalam menentukan ekspektasi kebijakan moneter ke depan. Investor juga akan memantau data manufaktur, perumahan, produksi industri, serta indikator kepercayaan konsumen.
Di Kanada, pasar akan fokus pada data inflasi, penjualan ritel, dan neraca perdagangan. Inflasi akan menjadi indikator utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral. Data sektor perumahan, termasuk pembangunan rumah dan harga rumah baru, juga akan memberikan gambaran kondisi permintaan domestik. Stabilitas sektor ini penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kanada.
Eropa
Di kawasan Zona Euro, data PMI awal Februari akan menjadi indikator utama kondisi bisnis. Aktivitas manufaktur diperkirakan bergerak menuju stabilisasi, sementara sektor jasa diproyeksikan tetap menunjukkan ekspansi.
Di Jerman, kontraksi sektor manufaktur diperkirakan mereda, sementara sektor jasa menunjukkan perlambatan moderat. Di Prancis, sektor jasa diperkirakan masih lemah, namun sektor manufaktur menunjukkan tanda pemulihan.
Sementara itu, di Inggris, data inflasi, tenaga kerja, dan penjualan ritel akan memberikan petunjuk tambahan bagi kebijakan Bank of England. Inflasi diperkirakan turun mendekati 3%, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan stabil di 5,1%.
Asia Pasifik
Di Jepang, data GDP kuartal keempat diperkirakan menunjukkan pertumbuhan 0,4% setelah kontraksi pada kuartal sebelumnya. Pemulihan ini menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi.
Inflasi Jepang diperkirakan turun menjadi 2,0%, memberikan sinyal stabilitas harga. Investor juga akan memantau data perdagangan, produksi industri, dan PMI untuk menilai momentum ekonomi.
Di Australia, risalah rapat Reserve Bank of Australia akan menjadi perhatian utama. Data ketenagakerjaan diperkirakan menunjukkan pertumbuhan pekerjaan sekitar 20.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan naik menjadi 4,2%.
Di China, pasar tutup selama libur Tahun Baru Imlek. Namun, data investasi asing langsung tetap menjadi indikator penting bagi arus modal global.
Data Mingguan Perdagangan Emas (09 – 13 Februari 2026)
Open : 4.988,88 High : 5.119,60 Low : 4.877,76 Close : 5.032,98 Range : 241,84
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.900 | R1 5.142 |
| S2 4.768 | R2 5.252 |
| S3 4.659 | R3 5.384 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (09 – 13 Februari 2026)
Open : 62,75 High : 65,79 Low : 61,95 Close : 62,64 Range : 3,84
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 61,75 | R1 68,08 |
| S2 57,75 | R2 70,41 |
| S3 55,42 | R3 74,41 |
Oil Outlook : Bullish
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai pergerakan harga emas pada time frame H4 masih berada dalam kecenderungan bearish dengan level pivot di 5.007. Selama harga bertahan di bawah area tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan potensi penurunan menuju area support 4.910, kemudian 4.875, hingga 4.845.
Pada grafik H4, XAU/USD terlihat gagal bertahan di atas area 5.019–5.077 dan kini bergerak di bawah SMA 50 yang mulai melandai, menandakan momentum bullish melemah. Tekanan jual meningkat setelah harga menembus support 4.982, membuka ruang koreksi lebih dalam. RSI berada di kisaran 37, menunjukkan momentum bearish masih dominan dan belum memasuki area jenuh jual ekstrem.
Pada grafik H4, US Oil terlihat menembus ke bawah area 63,61 yang sebelumnya menjadi support sekaligus berdekatan dengan SMA 50, menandakan momentum bullish mulai melemah. Harga juga bergerak di bawah garis tren naik jangka pendek, mengindikasikan potensi perubahan struktur ke arah koreksi lebih dalam. RSI berada di kisaran 38, menunjukkan tekanan bearish meningkat meski belum masuk area jenuh jual.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan WTI pada time frame H4 masih cenderung bearish dengan level pivot di 65,05. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan turun masih berpotensi berlanjut dengan support terdekat di 64,00. Jika harga menembus area ini, penurunan dapat berlanjut menuju support berikutnya di kisaran 63,60 hingga 63,20.
Pada time frame H4, pergerakan XAUUSD menunjukkan kecenderungan bullish moderat setelah harga bertahan di atas area support 5.019–4.982. Harga juga kembali bergerak di atas SMA 50 yang mulai melandai ke atas. RSI (14) berada di sekitar level 60, menandakan momentum beli masih terjaga tanpa indikasi jenuh beli.
Pada time frame H4, pergerakan WTI Crude Oil masih berada dalam tren bullish setelah harga bertahan di atas SMA 50 yang terus menanjak serta garis tren naik jangka menengah. Harga juga masih bergerak di atas area support kunci 63,61 sehingga struktur kenaikan tetap terjaga. RSI (14) berada di sekitar level 54, mencerminkan momentum bullish yang masih ada meski belum terlalu kuat.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas masih berada dalam tren bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 5.000. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka dengan resistance terdekat di 5.085. Apabila level ini berhasil ditembus, penguatan berpotensi berlanjut menuju area resistance berikutnya di kisaran 5.145 hingga 5.230.
Pergerakan emas pada timeframe H4 terlihat sedang berkonsolidasi setelah rebound dari area support 4.824–4.894, dengan harga bergerak di atas SMA 50 namun masih tertahan oleh area resistance 5.091. Selama harga mampu bertahan di atas 4.982, peluang kenaikan tetap terbuka dengan target terdekat menguji 5.146 hingga 5.205, sejalan dengan RSI yang bertahan di atas level netral dan menunjukkan momentum bullish moderat.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 masih menunjukkan bias bullish terbatas, dengan harga bertahan di atas SMA 50 yang bertepatan dengan area support 63,61. Selama level ini mampu dipertahankan, harga berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance 65,49 hingga 66,41, seiring RSI yang berada di atas level netral dan mencerminkan momentum positif yang moderat.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai pergerakan XAU/USD masih memiliki peluang melanjutkan tren bullish dengan level pivot di 79,00. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, potensi kenaikan tetap terbuka dengan resistance terdekat di 84,00. Jika level ini berhasil ditembus, ruang penguatan dapat berlanjut menuju resistance berikutnya di 86,50 hingga 90,00.
Pada time frame H4, pergerakan emas terlihat berada dalam fase konsolidasi setelah rebound dari tekanan tajam sebelumnya, dengan harga bergerak di bawah area resistance 5.091 dan masih tertahan di sekitar SMA 50. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas area resistance tersebut, risiko pelemahan masih terbuka dengan potensi penurunan menuju support 4.982, kemudian 4.894 hingga 4.824.
Pada time frame H4, pergerakan US Oil masih berada dalam struktur bullish dengan harga bertahan di atas SMA 50 dan trendline naik, sementara RSI(14) berada di sekitar 55, yang menunjukkan momentum beli masih terjaga dan mendukung kelanjutan tren naik meski belum berada di fase overbought.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan USD/JPY pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish dengan level pivot di 157,30. Selama harga bertahan di bawah area tersebut, peluang penurunan tetap terbuka untuk menguji support 156,20, lalu 155,85, hingga 155,50.
