Market Summary
Inflasi zona Euro menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan EUR/GBP pada akhir pekan ini. Pair tersebut diperdagangkan di sekitar 0.8715, naik tipis 0.06%, seiring dukungan moderat terhadap Euro. Kenaikan ini terjadi saat Pound Sterling masih tertahan oleh sikap hati-hati dari Bank of England.
Data terbaru menunjukkan lonjakan inflasi yang cukup kuat di kawasan Euro. Indeks Harga Konsumen Harmonisasi (HICP) naik 1.3% secara bulanan di bulan Maret, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di 0.6%. Secara tahunan, inflasi meningkat menjadi 2.6%, level tertinggi sejak Juli 2024. Angka ini memperkuat daya tarik Euro di pasar.
Prospek Kebijakan ECB dan Dampaknya
Kenaikan inflasi zona Euro membuka peluang bagi European Central Bank untuk mengambil sikap lebih hawkish. Meskipun demikian, Presiden ECB Christine Lagarde tetap menekankan fleksibilitas kebijakan dan belum menunjukkan kecenderungan pengetatan yang agresif.
Pasar keuangan tetap berekspektasi adanya kenaikan suku bunga secara bertahap. Pelaku pasar memperkirakan peluang kecil untuk kenaikan pada April, namun kenaikan sebesar 25 basis poin pada Juni hampir sepenuhnya diperhitungkan. Ekspektasi ini memberi dukungan tambahan bagi Euro dalam jangka pendek.
Tekanan terhadap Pound Sterling
Di sisi lain, Pound Sterling belum mampu menguat meskipun data ekonomi Inggris cukup solid. Produk Domestik Bruto Inggris tumbuh 0.5% secara bulanan di Februari, jauh melampaui ekspektasi pasar.
Namun, sentimen positif ini tertahan oleh kekhawatiran global, terutama terkait konflik geopolitik dan lonjakan harga energi. Gubernur Bank of England Andrew Bailey menegaskan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Pendekatan ini membuat Pound cenderung defensif.
Outlook Ekonomi Inggris Membatasi Penguatan GBP
Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris juga mengalami penurunan. IMF memangkas outlook pertumbuhan 2026 menjadi 0.8% dari sebelumnya 1.3%. Kondisi ini menunjukkan kerentanan ekonomi Inggris terhadap tekanan eksternal.
Pandangan ini membuat pelaku pasar menahan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Akibatnya, ruang penguatan GBP terhadap Euro menjadi terbatas.
Pengaruh Inflasi Zona Euro terhadap EUR/GBP
Dengan kombinasi faktor tersebut, inflasi zona Euro tetap menjadi katalis utama bagi pergerakan EUR/GBP. Euro mendapatkan dukungan dari data inflasi yang kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga, sementara Pound menghadapi tekanan dari ketidakpastian ekonomi.
Dalam jangka pendek, peluang bullish pada EUR/GBP masih terbuka, terutama jika data inflasi tetap tinggi dan ECB mulai memberi sinyal pengetatan lebih jelas. Trader dapat memanfaatkan momentum ini dengan tetap memperhatikan risiko dari perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan EUR/GBP pada time frame H4 masih cenderung bullish, dengan level pivot berada di 0.8697. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka untuk menguji resistance di 0.8740, kemudian 0.8751, hingga 0.8762.
Sebagai skenario alternatif, jika harga turun menembus level 0.8697, maka potensi pelemahan dapat berlanjut dengan target support di area 0.8678 hingga 0.8667.
Resistance 1: 0.8740 Resistance 2: 0.8751 Resistance 3: 0.8762
Support1: 0.8697 Support 2: 0.8678 Support 3: 0.8667
Baca juga: Peluang Trading GBP/JPY Pasca Rilis PDB Inggris
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Pergerakan emas di time frame H4 sempat mengalami rebound, namun kenaikan masih tertahan di area resistance 4.858 sehingga memicu koreksi dalam jangka pendek. Tekanan turun ini muncul setelah harga gagal bertahan di atas level tersebut, meskipun pelemahan yang terjadi masih terbatas.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 terlihat mengalami penurunan tajam setelah harga menembus ke bawah SMA 50, yang kemudian mendorong pelemahan lanjutan hingga membentuk gap down di kisaran 91,06. Tekanan jual tersebut berlanjut hingga harga membentuk area support yang cukup kuat di sekitar 84,40.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan GBP/JPY masih berada dalam tren bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 215,02. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance di 216,12, kemudian 216,42, hingga 216,71.
Pergerakan emas pada timeframe H4 sebelumnya mengalami kenaikan yang cukup solid, namun kenaikan tersebut tertahan di area resistance 4.858–4.899 sehingga memicu koreksi jangka pendek. Saat ini harga sedang menguji area support 4.750 yang berdekatan dengan SMA 50, menjadikannya sebagai level krusial dalam menjaga struktur bullish.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan bahwa harga sebelumnya mengalami penurunan tajam yang membentuk gap di area 91,06, sekaligus menciptakan support baru di sekitar 84,40. Setelah itu harga sempat mencoba rebound untuk menutup gap tersebut, namun kenaikan tertahan di area 91,06 sehingga gagal menembus resistance dan kembali mengalami tekanan jual.
Dari sisi teknikal, analisis
Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam fase pemulihan setelah penurunan tajam sebelumnya, dengan harga kini bergerak naik dan bertahan di atas SMA 50 yang mulai mengarah ke atas, menandakan momentum bullish mulai terbentuk. Struktur harga juga menunjukkan higher low yang didukung oleh trendline naik, sehingga bias jangka pendek cenderung positif.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan tekanan bearish yang cukup dominan setelah harga gagal bertahan di atas SMA 50 dan kembali bergerak di bawahnya, mengindikasikan perubahan momentum dari bullish ke bearish. Penurunan terbaru juga diikuti dengan terbentuknya gap dan breakdown dari area support 91,06, yang kini berpotensi menjadi resistance terdekat.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas masih cenderung bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 4.758. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, potensi kenaikan masih terbuka dengan target resistance terdekat di 4.795. Jika level ini berhasil ditembus, penguatan berpeluang berlanjut menuju resistance berikutnya di 4.835 hingga 4.880.
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan bahwa harga sempat mengalami tekanan kuat hingga turun ke area 4.644 dan membentuk gap di kisaran 4.746–4.700, yang mencerminkan dominasi seller pada fase tersebut. Namun, tekanan ini tidak berlanjut setelah munculnya reaksi beli yang signifikan dari area support 4.644.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan harga sempat turun ke area 95,27 sebelum rebound kuat, membentuk gap dan menembus SMA 50 hingga mencetak high di sekitar 105,58. Namun setelah itu, harga gagal bertahan di area atas dan mengalami koreksi tajam hingga kembali menutup gap tersebut.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan minyak AS (WTI) pada time frame H4 masih cenderung bullish, dengan level pivot berada di 100,00. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka dengan target resistance terdekat di 107,00. Jika level ini berhasil ditembus, kenaikan berpotensi berlanjut untuk menguji resistance berikutnya di 111,50 hingga 117,60.
Pergerakan emas pada time frame H4 sebelumnya berada dalam tren bullish, ditopang oleh support kuat di kisaran 4.700 yang berkonfluensi dengan SMA 50 dan garis uptrend. Namun, pada awal pekan harga mengalami gap down dan turun menembus area tersebut, sehingga melemahkan struktur bullish.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 sempat mengalami tekanan turun hingga menembus SMA 50, namun harga berhasil rebound dan kembali bergerak di atasnya.
