Pasar Global Melemah Seiring Komentar Powell
Pasar global melemah pada perdagangan Rabu setelah komentar terbaru dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell memicu kehati-hatian investor. Powell menegaskan bahwa keputusan kebijakan moneter berikutnya harus mempertimbangkan keseimbangan antara risiko inflasi yang masih tinggi dan pelemahan pasar tenaga kerja. Meski bank sentral AS baru saja memangkas suku bunga pekan lalu, pasar kini mulai meragukan seberapa agresif langkah pemangkasan berikutnya akan dilakukan.
Tren pelemahan ini juga mencerminkan meningkatnya kecemasan pelaku pasar menjelang rilis data inflasi inti PCE pada Jumat, yang menjadi indikator utama bagi arah kebijakan The Fed. Pasar global melemah karena investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu petunjuk lebih lanjut dari data makroekonomi yang akan datang.
Wall Street dan MSCI Terkoreksi
Indeks saham utama AS berakhir di zona merah untuk hari kedua berturut-turut. Dow Jones ditutup melemah 171,50 poin atau 0,37% ke level 46.121,28. S&P 500 turun 0,28% ke 6.637,97, sementara Nasdaq tergelincir 0,33% ke 22.497,86. Tekanan jual juga menjalar ke pasar global, dengan MSCI World Index terkoreksi 0,33% ke 978,95.
Penurunan tersebut terjadi meski data ekonomi AS justru menunjukkan kekuatan. Penjualan rumah baru pada Agustus melonjak 20,5% menjadi 800.000 unit secara tahunan, jauh di atas ekspektasi penurunan ke 650.000 unit. Data ini memperkuat pandangan bahwa perekonomian masih cukup solid sehingga The Fed tidak terburu-buru memangkas suku bunga lebih jauh. Hal inilah yang menambah ketidakpastian pasar, sehingga pasar global melemah meski ada dukungan dari sisi fundamental tertentu.
Dollar Perkasa, Emas Terkoreksi
Di pasar valuta asing, dollar perkasa terhadap mayoritas mata uang utama. Indeks dollar menguat 0,66% ke 97,87, didorong oleh prospek kebijakan moneter AS yang lebih hati-hati. Dollar menguat 0,83% terhadap yen Jepang ke 148,85, naik 0,54% terhadap franc Swiss ke 0,795, dan menekan euro yang turun 0,66% ke USD 1,1737. Sementara itu, dollar Selandia Baru tertekan 0,77% ke 0,5811 setelah penunjukan gubernur bank sentral baru.
Penguatan dollar memberi tekanan pada harga emas. Emas spot terkoreksi 0,86% ke USD 3.731,62 per ounce, sedangkan emas berjangka AS turun 0,36% ke USD 3.767,10 per ounce. Pelemahan ini terjadi setelah harga emas sempat menyentuh rekor pada sesi sebelumnya. Investor memilih mengurangi eksposur emas sambil menanti kepastian lebih lanjut dari arah kebijakan The Fed.
Yield Obligasi Naik
Pasar obligasi AS mencatat kenaikan imbal hasil setelah meningkatnya pasokan obligasi korporasi dan pemerintah. Yield obligasi 10 tahun naik 2,9 basis poin ke 4,147%, sementara tenor 30 tahun naik 1,5 basis poin ke 4,7517%. Imbal hasil obligasi 2 tahun, yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga Fed, naik 3,4 basis poin ke 3,604%. Kenaikan ini mengindikasikan pasar masih belum yakin bahwa tren pemangkasan suku bunga akan berlangsung konsisten dalam waktu dekat.
Minyak Menguat ke Tertinggi 7 Minggu
Harga minyak melonjak ke level tertinggi tujuh minggu akibat kekhawatiran pasokan global. WTI ditutup menguat 2,49% atau USD 1,58 menjadi USD 64,99 per barel. Sementara itu, Brent naik 2,48% atau USD 1,68 menjadi USD 69,31 per barel. Penguatan ini didorong oleh penurunan stok minyak secara mengejutkan serta hambatan ekspor dari Irak, Venezuela, dan Rusia yang mempersempit pasokan global.
Lonjakan harga minyak menjadi kontras dengan kondisi pasar global melemah di sektor ekuitas. Investor melihat ketidakpastian kebijakan moneter AS sebagai faktor utama penggerak pasar, namun tetap mengantisipasi risiko jangka pendek dari sisi geopolitik dan pasokan energi global.
Prospek harga Emas Kamis | 25 September 2025
Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan tren naik yang cukup kuat sejak akhir Agustus, didukung oleh garis tren naik dan posisi harga yang masih di atas moving average biru. Saat ini harga sedang mengalami koreksi setelah gagal menembus resistance di area 3.791, dengan support terdekat di 3.711 yang bertepatan dengan garis tren.
Selama harga bertahan di atas 3.711, peluang untuk melanjutkan kenaikan menuju 3.750–3.791 masih terbuka, namun jika menembus ke bawah level tersebut, koreksi lebih dalam berpotensi menuju 3.682 hingga 3.657. Indikator RSI berada di sekitar 55, menunjukkan momentum netral dengan ruang untuk bergerak ke kedua arah tergantung reaksi harga di area support.
GOLD INTRADAY AREA
R1 3.750 R2 3.773 R3 3.791
S1 3.711 S2 3.682 S3 3.657
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.720 |
| Profit Target Level | 3.750 |
| Stop Loss Level | 3.710 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 3.750 |
| Profit Target Level | 3.720 |
| Stop Loss Level | 3.775 |
Prospek harga US Oil Kamis | 25 September 2025
Grafik US Oil di time frame H4 memperlihatkan harga yang baru saja menembus ke atas dan kini bergerak mendekati resistance 65,39. Momentum kenaikan masih cukup kuat dengan RSI berada di kisaran 67, menandakan dominasi buyer meskipun mulai mendekati area jenuh beli.
Selama harga mampu bertahan di atas support 63,86, tren naik berpotensi berlanjut menuju 66,01 hingga 66,69. Namun jika harga gagal bertahan dan turun menembus 63,86, potensi koreksi lebih dalam bisa menguji area 63,19 bahkan 62,40.
US Oil INTRADAY AREA
R1 65,39 R2 66,01 R3 66,69
S1 63,86 S2 63,19 S3 62,40
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 63,90 |
| Profit Target Level | 64,70 |
| Stop Loss Level | 63,15 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 64,80 |
| Profit Target Level | 63,90 |
| Stop Loss Level | 65,50 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disiniGRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan US Oil pada time frame H4 masih cenderung bullish dengan level pivot di 63,05. Saat ini harga telah menembus resistance pertama (R1) di 63,90. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan selanjutnya terbuka untuk menguji R2 di 64,20 dan R3 di 64,75.
Pada grafik H4, XAU/USD masih berada dalam tren naik yang kuat dengan harga bertahan di atas garis moving average. Saat ini harga mendekati resistance 3.792 dengan potensi melanjutkan kenaikan menuju 3.819 hingga 3.847 jika momentum bullish tetap terjaga.
Pada grafik H4, US Oil masih bergerak dalam fase konsolidasi yang ditandai dengan pergerakan harga di dalam area kuning. Saat ini harga menunjukkan momentum bullish setelah rebound dari support 62,40, dan jika mampu bertahan di atas level 63,19 maka peluang penguatan menuju resistance 64,19 hingga 64,78 terbuka, bahkan berlanjut ke 65,39.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai pergerakan emas masih cenderung bullish pada time frame H4 dengan level pivot di 3.748. Selama harga bergerak di atas level ini, peluang kenaikan tetap terbuka dengan target resistance terdekat di 3.790. Jika area tersebut berhasil ditembus, potensi penguatan bisa berlanjut menuju resistance berikutnya di 3.810–3.830.
Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan tren naik yang cukup kuat dengan harga bergerak di atas SMA 50 biru sebagai support dinamis. Saat ini harga berada sedikit di atas level pivot point 3726,64 dan mendekati resistance 3741,17.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan tren bearish setelah harga menembus ke bawah garis SMA 50 dan gagal bertahan di atas area support yang kini menjadi resistance di 63,19. Saat ini harga bergerak di kisaran 62,25 dengan RSI di level 41,55 yang masih menunjukkan momentum bearish.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan GBP/USD di time frame H4 masih berpotensi bullish dengan level pivot di 1.3450. Selama harga bertahan di atas level ini, peluang kenaikan tetap terbuka untuk menguji resistance terdekat di 1.3510. Jika resistance tersebut berhasil ditembus, maka potensi penguatan lanjutan dapat membawa harga menuju area 1.3545–1.3580.
Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan tren naik yang masih terjaga dengan harga bergerak di atas garis MA utama. Saat ini harga sedang berada di atas level pivot 3.666.88 dan mendekati area resistance 3.701.39. Indikator RSI berada di sekitar 61, menandakan momentum bullish masih cukup kuat namun belum masuk ke area overbought.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan tekanan bearish. Harga gagal bertahan di atas area resistance 63.19 dan kini bergerak di bawah SMA 50. Saat ini, harga mendekati level support 62.02 dengan RSI di sekitar 39. Kondisi ini mengindikasikan momentum bearish masih dominan meski belum masuk ke area oversold.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai bahwa pergerakan USD/JPY pada time frame H4 masih berpotensi bullish, dengan level pivot di 147.00. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan berlanjut untuk menguji area resistance di 148.25–148.10.
Pergerakan emas pada time frame H4 memperlihatkan bahwa tren naik kuat sejak pertengahan Agustus mulai kehilangan momentum setelah harga gagal bertahan di area resistance 3.691–3.707. Setelah itu, harga membentuk pola koreksi dan bergerak di bawah SMA 50 yang sebelumnya menjadi support dinamis, mengindikasikan potensi perubahan sentimen dari bullish ke bearish dalam jangka pendek.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan adanya sinyal pemulihan setelah harga berhasil menembus garis tren turun dan kini bergerak di sekitar level 63,19 yang berdekatan dengan SMA 50. Kondisi ini mengindikasikan potensi perubahan sentimen dari bearish ke netral–bullish dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan GBP/USD pada time frame H4 masih cenderung bearish dengan level pivot di 1.3570. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, potensi pelemahan diperkirakan berlanjut untuk menguji area support 1.3570–1.3520.
