Dolar AS Melemah Setelah Harga Minyak Terkoreksi
Peluang rrading AUD/USD di tengah koreksi harga minyak muncul setelah dolar AS kehilangan momentum pada awal pekan. Penurunan tajam harga minyak membantu memperbaiki sentimen pasar global dan mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Indeks dolar tercatat bertahan di bawah level 99,00 pada perdagangan Selasa pagi di sesi Eropa. Mata uang AS tersebut terus bergerak melemah setelah sebelumnya mendapat dukungan dari lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak di atas 110 dolar per barel pada awal pembukaan pekan, level tertinggi sejak Juni 2022. Namun harga kemudian berbalik turun tajam dan menutup perdagangan hari Senin di wilayah negatif. Pada perdagangan Selasa pagi, harga minyak mencoba pulih tetapi masih berada jauh di bawah level 90 dolar per barel.
Penurunan harga minyak ini mendorong perbaikan sentimen risiko global. Bursa saham utama di Wall Street ditutup menguat pada hari Senin, sementara kontrak berjangka indeks saham AS naik sekitar 0,2% hingga 0,3%.
Konflik Timur Tengah Tetap Menjadi Sorotan Pasar Energi
Perkembangan geopolitik masih menjadi perhatian utama pasar energi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran kemungkinan segera berakhir dan menyebut konflik tersebut hampir selesai.
Namun pernyataan tersebut mendapat respons keras dari Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan bahwa pihaknya yang akan menentukan kapan konflik berakhir dan memperingatkan kemungkinan pemblokiran ekspor minyak regional jika serangan dari Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Sementara itu, para menteri energi dari negara-negara G7 dijadwalkan mengadakan pertemuan virtual untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis. Langkah ini dipertimbangkan untuk mengatasi gangguan pasokan energi yang muncul akibat konflik tersebut.
AUD Menguat Didukung Data Ekonomi China
Di tengah kondisi tersebut, Peluang Trading AUD/USD di Tengah Koreksi Harga Minyak semakin terlihat setelah dolar Australia mendapatkan dukungan dari data ekonomi China yang kuat.
Data perdagangan menunjukkan ekspor China melonjak 21,8% secara tahunan pada periode Januari–Februari 2026 hingga mencapai 656,58 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini jauh melampaui perkiraan pasar yang hanya sekitar 7,1%.
Peningkatan ekspor terlihat pada sejumlah mitra dagang utama seperti Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Australia, negara-negara ASEAN, serta Uni Eropa. Namun ekspor ke Amerika Serikat mengalami penurunan.
Sebagai mitra dagang utama Australia, penguatan aktivitas perdagangan China sering memberikan dampak positif terhadap dolar Australia. Hal ini membantu pasangan AUD/USD melanjutkan penguatan dan diperdagangkan di atas level 0,7100.
Sentimen Domestik Australia Beragam
Data ekonomi domestik Australia menunjukkan gambaran yang beragam. Indeks kepercayaan konsumen Westpac–Melbourne Institute naik 1,2% secara bulanan menjadi 91,6 pada Maret 2026. Kenaikan ini menjadi peningkatan pertama sejak November tahun lalu.
Namun indeks kepercayaan bisnis NAB justru turun ke level -1 pada Februari. Penurunan tersebut menjadi pembacaan negatif pertama sejak April 2025.
Di sisi lain, pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter bank sentral Australia yang dijadwalkan pekan depan. Pelaku pasar uang mulai memperkirakan beberapa kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini.
Dalam pernyataannya, Deputi Gubernur bank sentral Australia Andrew Hauser menyebut volatilitas harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai tantangan nyata bagi bank sentral global. Besarnya dampak terhadap kebijakan moneter akan sangat bergantung pada seberapa lama tekanan harga energi berlangsung.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan AUD/USD pada time frame H4 masih berada dalam bias bullish dengan level pivot di 0.7055. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka dengan resistance terdekat di 0.7120. Jika level ini berhasil ditembus, kenaikan selanjutnya berpotensi mengarah ke area resistance 0.7145 hingga 0.7170.
Sebagai alternatif skenario, jika harga turun dan menembus di bawah 0.7055, tekanan jual dapat meningkat dengan potensi penurunan menuju area support 0.7035 hingga 0.7010.
Resistance 1: 0.7125 Resistance 2: 0.7145 Resistance 3: 0.7170
Support1: 0.7010 Support 2: 0.7035 Support 3: 0.7055
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.





Pergerakan emas pada grafik H4 terlihat konsolidasi setelah mengalami penurunan dari area puncak di sekitar 5.300. Saat ini pergerakan harga tertahan di bawah area SMA 50, yang berada di sekitar 5.206, sehingga zona tersebut menjadi resistance dinamis terdekat.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi setelah terbentuk gap besar di kisaran 92,46–105,01. Setelah gap tersebut muncul, harga justru melonjak tajam hingga mencapai area sekitar 119, sebelum akhirnya berbalik mengalami koreksi tajam.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan US Oil berpotensi melanjutkan koreksi pada time frame H4, dengan level pivot di 112,50. Selama harga masih bertahan di bawah level tersebut, tekanan koreksi diperkirakan berlanjut dengan support terdekat di 97,00. Jika level support ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji support berikutnya di 91,50 hingga 85,00.

Harga emas mencoba rebound setelah sempat turun mendekati area support 5.050, namun kenaikan masih tertahan di area SMA 50 di kisaran 5.200. Penolakan di area tersebut menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat, sehingga harga kembali bergerak turun untuk menguji support 5.050. Jika level ini ditembus, maka penurunan berpotensi berlanjut menuju area 4.990 hingga 4.935.
Harga US Oil pada grafik H4 terlihat melonjak tajam dan membentuk gap kenaikan yang cukup lebar di area 92,49 hingga 105,01, menandakan momentum bullish yang sangat kuat dalam jangka pendek. Saat ini harga masih bergerak jauh di atas garis SMA 50, yang mengindikasikan tren naik masih dominan. Namun indikator RSI sudah berada di kisaran 88, yang menunjukkan kondisi overbought sehingga membuka peluang terjadinya konsolidasi atau koreksi teknikal dalam waktu dekat, terutama untuk menguji area gap di sekitar 105,01 hingga 92,49.
Week Ahead: 02–06 Maret 2026
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berpotensi bullish dengan level pivot di 5.055. Selama harga bertahan di atas level tersebut, penguatan diperkirakan berlanjut untuk menguji resistance di 5.165, kemudian 5.195, hingga 5.225.

