Psikologis trader berpengaruh besar dalam trading forex. Kalau tidak mampu mengaturnya, maka Anda bisa mengalami FOMO dalam trading yang sangat berbahaya. Trading yang sukses dipengaruhi dari banyak faktor. Namun, psikologis trader sendirilah yang paling berpengaruh. Salah satunya rasa takut yang berlebihan. Itulah yang disebut dengan Fear Of Missing Out atau disingkat FOMO. Apa saja gejalanya? Apakah FOMO dalam trading Forex itu sangat membahayakan? Dan bagaimana cara mengatasinya? Simak ulasannya lebih lanjut berikut ini.
Daftar Isi
Arti FOMO Dalam Trading Forex
Dalam trading, FOMO adalah rasa takut untuk ketinggalan mendapatkan profit. Trader yang mengalaminya, merasa cemas berlebihan kalau melewatkan cuan dalam trading. Misalnya, hanya dikarenakan takut tidak kebagian profit, trader cepat-cepat buka posisi meskipun tren harga terlanjur menguat atau bahkan sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Mereka melakukan hal tersebut di luar batas kewajaran dan tidak berpikir panjang. Ilmu trading pun tidak berlaku pada trader “pengidap” FOMO. Mereka hanya ingin segera melakukan transaksi agar segera mendapatkan keuntungan. Kondisi FOMO juga berlaku saat trading saham, forex, maupun kripto. Oleh karena itu, trader yang terserang FOMO ini dapat dikatakan dalam posisi bahaya. Kenapa? Mereka sebenarnya tidak dapat mengendalikan emosi dalam diri sendiri. Akibatnya, lingkungan luar malah yang mempengaruhi trader saat trading. Padahal, semua untung-ruginya trading ditanggung oleh trader itu sendiri, bukan orang lain.
Gejala FOMO
Kalau ditanya apa penyebab gejala FOMO dalam trading, jawabannya sangat mudah: sifat alami manusia itu sendiri. Sebenarnya, manusia dikaruniai dengan logika untuk berpikir. Namun, semuanya kembali ke individu masing-masing. Jika tidak mampu mengendalikan diri sendiri, maka faktor luar berpeluang besar untuk mempengaruhi emosi saat trading.
Apalagi saat ini, semua orang bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Trader yang mudah terpengaruh tentu lebih cepat “terserang virus” FOMO. Contohnya, saat trader sedang melihat harga yang terus mengalami kenaikan di chart ataupun dalam obrolan para member di komunitas trading online, ia akan langsung berpikir bahwa kesempatan tersebut tak bisa dilewatkan. Akhirnya, ia melakukan order secepat-cepatnya tanpa memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.
Rasa takut ketinggalan untuk mendapatkan keuntungan pun “menguasai” pikiran. Mereka mengabaikan pikiran rasional maupun strategi trading yang mungkin sebelumnya sudah dipersiapkan, karena ada rasa tidak sabar dan kegelisahan yang terus menghantui pikiran trader.
Ciri-ciri FOMO dalam trading forex meliputi
- Buka posisi tanpa analisa yang mendalam karena ikut-ikutan trader lain atau takut kehilangan momentum.
- Overtrading.
- Mengabaikan rencana trading atau manajemen risiko yang sudah dibuat.
- Suka mencari validasi dari trader lain.
Apakah FOMO Berbahaya?
Tentu berbahaya. Terutama bagi trader itu sendiri. Mengapa demikian? Karena dalam trading, harga bisa saja tidak mengalami penguatan atau penurunan secara terus-menerus. Sebagaimana diketahui umumnya, harga dalam trading forex bersifat fluktuatif. Tidak ada yang pasti, harga bisa naik-turun dalam hitungan detik.
Misalnya saja, trader A melihat EUR/USD tiba-tiba naik 80 pips. Karena takut “ketinggalan”, ia langsung buy tanpa analisa, padahal harga sudah overbought.
Kalau harga naik, pasti trader A merasa senang karena mendapatkan keuntungan. Nah, beda lagi kalau harga terus anjlok setelah trader membeli pada posisi harga tinggi, tentunya ia langsung rugi besar. Trader yang mengalami FOMO dalam trading cenderung mengambil posisi yang memiliki risiko tinggi karena hal tersebut. Akibatnya, penyesalan datang kemudian.
Tentunya, dampak FOMO tidak berhenti sampai disitu saja. Trader yang mengalami kerugian akan terpengaruh mental tradingnya. Mereka yang tidak mampu menghadapi kenyataan yang menyedihkan itu, bisa jadi berujung stres hingga depresi.
Seperti yang dilaporkan The Nottingham Post, FOMO dalam trading forex juga mengakibatkan hubungan sosial trader jadi buruk. Misalnya, saat trader terlalu berpacu dengan trading agar tidak ketinggalan mendapatkan keuntungan, maka otomatis tidak ada waktu untuk bersosialisasi dengan orang sekitar.
Yang pasti, FOMO sangatlah berbahaya. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya seperti penjelasan di atas saja. Namun, FOMO juga bisa merembet ke hal lainnya yang mungkin lebih buruk. Karena itu, diperlukan langkah pencegahan agar tidak terserang gejala FOMO dalam trading forex.
Cara Mengantisipasi FOMO
Umumnya, trader yang mengalami FOMO adalah mereka yang tidak memiliki strategi trading dengan mantap. Sebab itu, mempersiapkan diri dengan membuat jurnal trading dianggap sangat penting sebelum melakukan transaksi. Strategi itu bertujuan untuk mempermudah proses trader selama terjun di pasar trading.
Jika sudah ada persiapan matang dengan jurnal trading, maka trader lebih mudah menghadapi segala macam risiko yang terjadi nantinya. Trader juga bisa memanfaatkan sistem order otomatis, seperti Buy Limit, Buy Stop, Sell Limit, dan Sell Stop. Sistem itu dapat membantu trader agar tidak terlalu “kemaruk” atau FOMO dalam trading forex.
Selagi trading, jangan lupa juga untuk menyisihkan waktu istirahat sejenak. Misalnya, istirahat sebentar dengan minum kopi dan senam ringan. Relaksasi tersebut dapat membantu me-refresh pikiran trader sebelum kembali ke pasar trading. Trader akan jauh lebih mudah untuk menyusun strategi dalam jurnal trading.
Selain menyusun trading plan, trader juga perlu pintar mengendalikan diri sendiri. Kedisiplinan harus dibangun dengan kuat untuk manajemen diri sendiri. Trader harus mengetahui bahwa trading forex memerlukan keputusan yang tepat, ketepatan waktu, dan manajemen risiko. Karena itu, disiplin sangat penting agar terhindar dari FOMO saat trading.
Selanjutnya adalah menguasai ilmu trading dengan baik. FOMO seringkali menyerang trader pemula karena mereka belum memiliki ilmu secara kuat dan pengalaman yang matang. Karena itu, trader harus terus belajar dan belajar trading forex. Tidak ada salahnya kalau trader menambah ilmu dari orang-orang yang sudah profesional dalam trading. Tidak hanya menambah wawasan, hal tersebut juga dapat digunakan untuk membangun sosialisasi.
FOMO dalam trading forex menjadi sangat berbahaya apabila trader tidak dapat diatasi dengan baik. Mulailah berpikir rasional bahwa segala macam risiko serta hasil untung-rugi dalam trading akan ditanggung sendiri. Jikapun mengalami kerugian, pastikan untuk menetapkan batas kerugian tersebut sesuai standar toleransi risiko Anda.
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.

Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan AUD/USD masih cenderung bullish pada time frame saat ini, dengan level pivot berada di 0,6575. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan berpotensi berlanjut dengan fokus menguji resistance terdekat di 0,6635. Resistance berikutnya berada di area 0,6650–0,6665.






Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan tren naik yang masih terjaga dengan harga bergerak di atas SMA 50, namun indikator RSI sudah berada di area overbought sekitar 71 yang mengindikasikan potensi jenuh beli. Saat ini harga mendekati resistance R1 di area 3.855 dengan peluang melanjutkan kenaikan menuju R2 di 3.881 dan R3 di 3.929 jika momentum bullish berlanjut, sementara support terdekat ada di PP 3.807 dan S1 3.781 yang bisa menjadi area pullback jika terjadi koreksi.
Pergerakan US Oil di time frame H4 masih berada dalam area konsolidasi dengan batas atas 65,39 dan batas bawah 60,84. Saat ini harga gagal bertahan di atas zona tengah dan menembus SMA 50. Indikator RSI turun ke level 36,17 yang menunjukkan tekanan bearish cukup kuat.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan USD/JPY masih berada dalam tren bearish pada time frame H4, dengan level pivot di 148.70. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, peluang penurunan masih terbuka untuk menguji area support di 148.10–147.20.


Harga emas pada grafik H4 masih berada dalam tren naik, ditopang oleh uptrend line merah dan SMA 50 (biru) yang berperan sebagai support dinamis. Saat ini harga sedang menguji area penting di level Fibonacci Retracement 61,8% pada 3.761.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 sempat menembus ke atas area resistance 65,39–66,01. Namun, pada pembukaan hari ini muncul gap down yang menekan harga kembali di bawah level tersebut.
Fokus Amerika Serikat: Data Tenaga Kerja dan Risiko Shutdown



