Market Summary
Peluang Trading Emas menjadi perhatian utama pasar menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Jumat malam. Investor menunggu data ketenagakerjaan tersebut untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga emas spot tercatat turun 0,2% ke level US$4.463,73 per troy ounce pada perdagangan Jumat. Secara mingguan, logam mulia ini telah melemah sekitar 1,6%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,3% ke level US$4.491 per ounce.
Konflik Timur Tengah Dorong Kekhawatiran Inflasi
Sentimen pasar berubah setelah peluang tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah kembali meredup. Kelompok Hezbollah yang didukung Iran menolak proposal gencatan senjata terbaru di Lebanon. Di sisi lain, Israel menyatakan belum akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.
Perkembangan ini menghambat upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan konflik dan membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas dengan Iran. Ketidakpastian tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia karena jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz masih terganggu.
Harga minyak Brent telah menguat sekitar 2,8% sepanjang pekan ini. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang, sehingga membatasi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dolar AS Melemah Menjelang Data NFP
Di tengah penantian data ketenagakerjaan, indeks dolar AS (DXY) bergerak melemah sekitar 0,17% ke area 99,28. Pelemahan dolar biasanya memberikan dukungan bagi harga emas karena membuat logam mulia lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Pasar memperkirakan ekonomi AS menciptakan sekitar 85 ribu lapangan kerja baru pada Mei, lebih rendah dibandingkan 115 ribu pada April. Tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,3%.
Sementara itu, pertumbuhan upah tahunan diperkirakan melambat menjadi 3,4% dari sebelumnya 3,6%. Namun secara bulanan, pertumbuhan upah diperkirakan naik menjadi 0,3% dari 0,2% pada bulan sebelumnya.
Fokus The Fed Bergeser ke Inflasi
Peluang Trading Emas juga dipengaruhi oleh perubahan fokus pejabat Federal Reserve. Sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap risiko inflasi dibandingkan perlambatan pasar tenaga kerja.
Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan bahwa perhatian utama bank sentral saat ini adalah inflasi yang masih tinggi dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja. Meski demikian, ia menilai masih terlalu dini untuk memprediksi kapan langkah kebijakan berikutnya akan diambil oleh The Fed.
Komentar serupa datang dari Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeffrey Schmid. Ia menyebut inflasi sebagai risiko terbesar yang dihadapi perekonomian saat ini. Menurutnya, pertanyaan utama bagi bank sentral adalah apakah perlu mempertahankan suku bunga pada level saat ini atau kembali menaikkannya untuk memastikan inflasi kembali ke target.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 37% bagi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Permintaan Fisik Emas Masih Lesu
Selain faktor makroekonomi, permintaan fisik emas juga belum memberikan dukungan yang kuat. Di India, pembelian emas cenderung melemah karena konsumen memilih menunggu stabilitas harga global. Di China, premi harga emas juga mengalami penurunan yang menunjukkan permintaan domestik belum terlalu agresif.
Kondisi tersebut membuat pergerakan harga emas saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga AS dan perkembangan geopolitik dibandingkan permintaan fisik dari pasar utama dunia.
Outlook Emas Menjelang Rilis NFP
Peluang Trading Emas dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada hasil data NFP AS. Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan yang signifikan, dolar berpotensi tertekan dan ekspektasi kenaikan suku bunga dapat berkurang. Skenario ini berpotensi mendukung kenaikan harga emas.
Sebaliknya, jika data ketenagakerjaan lebih kuat dari perkiraan dan pertumbuhan upah tetap tinggi, pasar dapat kembali memperhitungkan peluang pengetatan kebijakan moneter. Kondisi tersebut berisiko menekan harga emas karena imbal hasil obligasi dan dolar AS berpotensi menguat.
Dengan kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan data ekonomi AS yang akan dirilis, volatilitas emas diperkirakan tetap tinggi pada perdagangan hari ini.
Analisa Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish dengan level pivot di 4.475. Selama harga bertahan di bawah area tersebut, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi dan berpotensi mendorong harga turun untuk menguji support di 4.422, kemudian 4.400, hingga 4.365.
Sebagai skenario alternatif, jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level 4.475, maka peluang terjadinya pembalikan arah (reversal) akan semakin terbuka. Dalam kondisi tersebut, harga berpotensi menguji area resistance di 4.495 dan selanjutnya 4.515.
Resistance 1: 4.475 Resistance 2: 4.495 Resistance 3: 4.515
Support1: 4.422 Support 2: 4.400 Support 3: 4.365
Baca juga: Peluang Trading US Oil di Tengah Sinyal Damai Timur Tengah
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.





Pergerakan emas pada grafik H4 masih menunjukkan kecenderungan bearish meskipun sempat mengalami pemulihan dalam jangka pendek. Setelah memantul dari area support 4.423, harga sempat menembus resistance 4.497 yang bertepatan dengan SMA 50, namun gagal bertahan di atas level tersebut dan kembali bergerak turun. Kegagalan mempertahankan posisi di atas resistance sekaligus SMA 50 tersebut mengindikasikan bahwa tekanan jual masih cukup kuat.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish terbatas meskipun sedang mengalami fase koreksi. Harga masih bertahan di atas SMA 50, yang mengindikasikan bahwa tren naik jangka pendek belum berubah. Namun, kegagalan menembus resistance 96,94 memicu tekanan jual yang mendorong harga bergerak turun dari area puncak rebound terbaru.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa US Oil berpotensi melanjutkan koreksi pada time frame H4 dengan level pivot berada di 96,25. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan bearish masih berpeluang berlanjut dengan target penurunan menuju area support 94,20 yang telah ditembus, kemudian ke level 93,20 dan 92,20.

Pergerakan harga emas masih berada dalam tren bearish pada time frame H4, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 serta masih tertahan di bawah garis tren turun. Setelah gagal menembus area resistance 4.497, harga kembali mengalami tekanan jual dan kini mendekati support 4.418. Jika support tersebut berhasil ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju 4.397 hingga 4.366.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan fase pemulihan setelah sebelumnya turun hingga membentuk low di area support 90,08. Rebound yang terjadi berhasil mendorong harga menembus SMA 50 dan menguji resistance 94,68, sehingga membuka peluang kenaikan lanjutan menuju resistance berikutnya di 98,60. Meski demikian, tren yang lebih besar masih cenderung bearish karena harga masih bergerak di bawah garis tren turun yang membatasi kenaikan sejak akhir April.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa USD/JPY masih berpotensi bergerak bullish pada time frame H4 dengan level pivot di 159,55. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance terdekat di 159,90. Jika berhasil menembus area tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju level psikologis 160,00, sebelum mengincar resistance berikutnya di 160,15.

Pergerakan emas pada timeframe H4 sebelumnya sempat mencoba melanjutkan rebound dengan menembus resistance 4.525 dan bergerak di atas SMA 50. Namun penguatan tersebut gagal berlanjut setelah harga tertahan di resistance 4.546, sehingga kembali melemah dan bergerak di bawah SMA 50. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tren bearish masih tetap dominan.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 berhasil rebound dari area support 86,26 dan kini bertahan di atas SMA 50 yang bertepatan dengan support 91,56. Saat ini harga sedang menguji resistance 94,66 setelah membentuk kenaikan bertahap dari area terendah sebelumnya, yang mengindikasikan momentum bullish mulai menguat. Indikator RSI (14) berada di level 62,25 atau di atas level netral 50, menunjukkan bahwa tekanan beli masih mendominasi pergerakan harga.
Dari sisi teknikal, Trading Central menilai GBP/USD masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada time frame H4 dengan level pivot di 1.3445. Selama harga bertahan di atas level tersebut, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance di 1.3485, kemudian 1.3505, dan selanjutnya 1.3530.
