Market Summary
Peluang Trading US Oil kembali menarik perhatian setelah ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi meningkat. Serangan terbaru terhadap sejumlah bandara di Arab Saudi mendorong harga minyak mentah Amerika Serikat naik. Harga West Texas Intermediate (WTI) bahkan kembali menembus level US$90 per barel.
Pada perdagangan Kamis, WTI sempat mencapai US$90,87 per barel. Kenaikan ini terjadi ketika pasar mulai mengantisipasi risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Serangan Houthi Dorong Risiko Pasokan Minyak
Gelombang serangan terbaru terhadap bandara di Arab Saudi menewaskan tiga orang, menurut laporan otoritas penerbangan Saudi. Kelompok Houthi melancarkan serangan tersebut sebagai respons terhadap dukungan Saudi kepada pemerintah Yaman dalam operasi melawan mereka.
Situasi ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan. Jika ketegangan terus meningkat, jalur distribusi minyak dapat menghadapi gangguan. Kondisi tersebut berpotensi memperketat pasokan dan memberi dorongan tambahan bagi harga crude oil.
Pasar minyak sangat sensitif terhadap risiko geopolitik. Gangguan kecil pada produksi atau distribusi dapat memicu kenaikan harga. Karena itu, trader perlu memperhatikan perkembangan konflik Saudi-Houthi dalam menentukan arah perdagangan WTI.
Serangan Kapal di Selat Hormuz Tingkatkan Biaya Pengiriman
Risiko geopolitik tidak hanya muncul dari serangan terhadap fasilitas di Arab Saudi. UK Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan peningkatan serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sepanjang Oktober, tercatat sembilan serangan terhadap kapal. Jumlah tersebut sudah mencapai setengah dari total insiden yang tercatat pada September.
Peningkatan serangan membuat perusahaan pelayaran menghadapi risiko yang lebih besar. Operator kapal tanker kemudian menaikkan tarif sewa untuk mengimbangi risiko tersebut. Kenaikan biaya supertanker pada akhirnya dapat ikut mendukung harga minyak mentah.
Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan energi global. Setiap peningkatan risiko di jalur tersebut dapat membuat pasar memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak.
Stok Minyak AS Beri Dorongan Tambahan
Faktor fundamental dari Amerika Serikat juga mendukung kenaikan harga minyak. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan stok crude oil yang lebih besar dari perkiraan.
Pada pekan yang berakhir 2 Oktober, persediaan minyak mentah AS turun 3,186 juta barel. Pasar sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar 1,9 juta barel.
Penurunan tersebut juga berbanding terbalik dengan kenaikan stok sebesar 922 ribu barel pada pekan sebelumnya. Data ini menunjukkan adanya perubahan pada keseimbangan pasokan dan permintaan minyak di AS.
EIA juga mencatat impor crude oil AS turun 53.000 barel per hari. Pada saat yang sama, ekspor meningkat 1,2 juta barel per hari menjadi 4,7 juta barel per hari.
Kombinasi penurunan stok dan kenaikan ekspor memberi sentimen positif bagi harga WTI. Trader dapat menjadikan data persediaan EIA sebagai salah satu indikator penting untuk membaca arah pasar berikutnya.
Faktor Fundamental yang Perlu Dicermati Trader US Oil
Peluang Trading US Oil semakin menarik karena faktor geopolitik dan fundamental saat ini bergerak searah. Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Pada saat yang sama, serangan terhadap kapal di Selat Hormuz mendorong kenaikan biaya pengiriman energi global.
Dari sisi fundamental, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan pasar. Impor minyak juga menurun, sementara ekspor meningkat. Kondisi ini mencerminkan pasokan yang lebih ketat dan memberikan dukungan tambahan bagi harga WTI.
Trader juga perlu mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Setiap peningkatan ketegangan dapat memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dan mendorong harga lebih tinggi. Sebaliknya, jika situasi mulai mereda, premi risiko geopolitik dapat berkurang dan membatasi penguatan harga.
Dengan kondisi tersebut, Peluang Trading US Oil masih terbuka seiring kombinasi faktor geopolitik dan data fundamental yang mendukung. Pergerakan harga dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik regional, biaya pengiriman, serta laporan persediaan minyak Amerika Serikat.
Analisa Teknikal
Dari sisi teknikal, Trading Central menilai pergerakan harga emas masih menunjukkan kecenderungan bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 87,00. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka dengan target resistance di 93,45, kemudian 95,40, dan 96,90.
Sebaliknya, jika harga turun dan menembus level 87,00, tekanan jual berpotensi meningkat. Dalam skenario tersebut, harga berpeluang melanjutkan penurunan menuju area support 86,00 hingga 85,00.
Resistance 93,45 Resistance 2: 95,40 Resistance 3: 96,90
Support1: 87,00 Support 2: 86,00 Support 3: 86,00
Baca juga: Peluang Trading GBP/USD Jelang FOMC Minutes
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Pergerakan harga emas pada timeframe H4 masih menunjukkan tekanan bearish, dengan harga berada di bawah SMA 50 dan trendline menurun. Harga masih berada di bawah resistance 4.143, sehingga tekanan jual masih terlihat dominan. RSI 14 berada di 42,30, juga masih di bawah level 50 dan mengonfirmasi momentum yang cenderung bearish.
Pergerakan harga US Oil pada timeframe H4 masih berada dalam tekanan bearish, terlihat dari harga yang bergerak di bawah SMA 50 dan membentuk pola lower high. Harga masih berada di bawah resistance 90,92–91,94, sehingga momentum kenaikan belum cukup kuat.
Pergerakan emas masih berada dalam tren bearish pada timeframe H4 setelah membentuk pola lower high dan lower low serta bergerak di bawah garis tren turun dan SMA 50. Harga kini berkonsolidasi di area support 4.110–4.081 dan mulai menunjukkan rebound, tetapi masih menghadapi resistance 4.188 hingga 4.219–4.243. Jika mampu menembus area tersebut, peluang kenaikan akan semakin terbuka.
Pergerakan US Oil masih cenderung bearish pada timeframe H4 setelah harga gagal mempertahankan kenaikan dan tetap berada di bawah SMA 50. Sebelumnya, harga sempat menembus area support 88,66–87,46 yang mengindikasikan liquidity sweep, sebelum kembali rebound dengan candlestick bullish yang cukup kuat. Namun, rebound tersebut belum mampu mematahkan tren bearish karena harga masih tertahan di bawah SMA 50. Jika mampu menembus 91,94, peluang kenaikan dapat berlanjut menuju 93,59 hingga 96,72. Sebaliknya, jika kembali melemah dan menembus 88,66–87,46, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju 86,19. RSI 14 berada di 47,91, masih di bawah level 50, sehingga momentum tetap cenderung bearish.
Pergerakan XAUUSD pada grafik H4 masih menunjukkan kecenderungan bearish, meski sempat terjadi rebound dari area support 4.110–4.139. Setelah rebound, harga kembali tertahan di area 4.219 – 4.228 dan belum mampu bertahan di atas SMA 50, sehingga tekanan jual masih terlihat dominan.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas SMA 50. Struktur harga sejak pertengahan September juga cenderung membentuk lower high, sehingga momentum kenaikan terlihat semakin terbatas.
Pergerakan XAUUSD pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga menembus area support 4.280 dan bergerak di bawah SMA 50. Saat ini harga terlihat berkonsolidasi di area 4.142–4.219, dengan posisi terakhir sekitar 4.176.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami tekanan jual. Harga kini bergerak di sekitar 91,86 dan mulai kembali berada di atas SMA 50, sementara RSI 14 berada di 55,29, menunjukkan momentum mulai menguat.
Pergerakan emas pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish. Harga sebelumnya sempat rebound dari area support 4.110–4.142, tetapi penguatan tersebut belum mampu membawa harga bertahan di atas SMA 50. Setelah kembali tertahan, harga turun lagi dan kini sedang menguji support 4.142. RSI(14) berada di 38,89, menunjukkan momentum masih cenderung bearish.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish. Harga bergerak di bawah SMA 50 yang mulai mengarah turun, sementara RSI(14) berada di 41,40, menandakan momentum masih cenderung bearish meski belum memasuki area oversold. Saat ini harga sedang mencoba rebound dari area support 88,68.
Pergerakan emas pada grafik H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga menembus area support 4.235 dan bergerak di bawah SMA 50. Saat ini harga mencoba rebound dari area 4.110–4.142, sementara RSI 42,55 mulai naik dari wilayah oversold, menunjukkan adanya peluang pemulihan jangka pendek.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas resistance 94,67 dan kembali bergerak di bawah SMA 50. Tekanan jual membawa harga turun hingga menguji support 88,68, sementara RSI 36,63 menunjukkan momentum bearish masih dominan.
Pergerakan emas pada timeframe H4 menunjukkan tren bearish yang semakin kuat. Harga saat ini berada di bawah SMA 50 dan juga masih tertahan oleh garis tren menurun, sehingga tekanan jual masih dominan.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan konsolidasi dengan tekanan bearish, setelah harga gagal bertahan di atas area resistance 96,04 dan kembali bergerak di bawah SMA 50. RSI 14 berada di level 48,71, menunjukkan momentum yang relatif netral.
Pergerakan emas pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish setelah harga bergerak di bawah SMA 50 dan garis tren turun. RSI 14 berada di level 40,21, menandakan momentum jual masih dominan, meski belum memasuki area oversold.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih cenderung bearish setelah harga berada di bawah SMA 50. RSI 14 berada di level 51,70, menunjukkan momentum mulai netral dan masih membuka peluang rebound. Selama harga tertahan di bawah SMA 50, tekanan turun berpotensi kembali menguji support 91,20 dan 88,68.
Pergerakan emas pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish, dengan harga bergerak di bawah SMA 50 dan membentuk pola lower high di bawah garis tren menurun. RSI 14 berada di level 39,23, menunjukkan momentum jual masih dominan meskipun mulai mendekati area oversold.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 menunjukkan upaya pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan bearish, dengan harga kembali bergerak di sekitar SMA 50. RSI 14 berada di level 52,78, menunjukkan momentum mulai kembali positif dan memberikan ruang bagi US Oil untuk melanjutkan kenaikan.
