Market Summary
Peluang Trading US Oil kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah harga minyak terkoreksi dari level tertinggi dalam lebih dari dua pekan. Meskipun muncul sinyal de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, risiko gangguan pasokan energi masih membatasi penurunan harga minyak dunia.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$71,50 per barel pada sesi Eropa hari Jumat, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$75,73. Koreksi tersebut terjadi seiring meningkatnya optimisme bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih terbuka.
Harga Minyak Turun Setelah Muncul Harapan Diplomasi
Sentimen pasar membaik setelah seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa pembicaraan teknis dengan Iran masih berlangsung. Hal ini terjadi meskipun Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Teheran telah berakhir.
Donald Trump juga mengatakan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan dengan Iran. Menurutnya, Teheran sangat menginginkan tercapainya sebuah kesepakatan. Namun, ia tetap meragukan komitmen Iran untuk mematuhi isi perjanjian tersebut.
Harapan terhadap solusi diplomatik membuat investor mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Risiko Konflik Masih Menjadi Penopang Harga
Meski demikian, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan tidak akan berlangsung terlalu dalam. Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran masih berlanjut di lapangan.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke beberapa wilayah pesisir Iran pada Kamis malam. Sejumlah laporan media juga menyebutkan bahwa US Central Command menyerang infrastruktur listrik dan air di Iran dalam dua hari terakhir.
Hingga saat ini, pihak militer Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi resmi terkait laporan tersebut. Selama ketegangan kedua negara masih berlangsung, kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global akan tetap menjadi faktor pendukung harga minyak.
Inflasi AS Menjadi Fokus Berikutnya
Selain perkembangan geopolitik, perhatian pasar kini beralih pada data inflasi Amerika Serikat. Pemerintah AS dijadwalkan merilis data Consumer Price Index (CPI) bulan Juni pada Selasa mendatang.
Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti atau Core CPI, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, tetap tumbuh sebesar 2,9% secara tahunan.
Data tersebut akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan Federal Reserve. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis pekan ini menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih menilai inflasi sebagai risiko utama. Karena itu, peluang bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi masih terbuka.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga setidaknya satu kali pada tahun ini masih berada di atas 80%.
Pergerakan Dolar AS Ikut Memengaruhi Minyak
Di pasar mata uang, US Dollar Index (DXY) sempat turun ke level terendah dalam tiga pekan sebelum kembali menguat ke sekitar 100,85.
Pergerakan dolar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga minyak. Dolar yang lebih kuat biasanya membuat komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Namun, pengaruh tersebut masih harus bersaing dengan sentimen geopolitik yang hingga kini tetap mendominasi arah pergerakan minyak.
Outlook Peluang Trading US Oil
Peluang Trading US Oil dalam jangka pendek masih dipengaruhi oleh dua katalis utama, yaitu perkembangan konflik Amerika Serikat-Iran dan data inflasi Amerika Serikat.
Apabila pembicaraan diplomatik terus menunjukkan kemajuan, tekanan jual pada minyak dapat berlanjut. Sebaliknya, jika konflik kembali meningkat atau muncul ancaman terhadap jalur distribusi energi, harga minyak berpotensi kembali menguat.
Analisa Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat bahwa pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bearish dengan level pivot berada di 72,50. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan potensi menguji area support di 70,70, kemudian 70,10, hingga 69,40.
Sebagai skenario alternatif, apabila harga berhasil menembus dan bertahan di atas level 72,50, US Oil berpotensi melanjutkan penguatan untuk menguji area resistance di 73,70 hingga 74,60.
Resistance 1: 72,5- Resistance 2: 1.73,70 Resistance 3: 74,60
Support1: 70,70 Support 2: 70,10 Support 3: 69,40
Baca juga: Peluang Trading USD/CAD Jelang Data Tenaga Kerja Kanada
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
