FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bearish Range 0,69200 – 0,68700
Tertahannya penguatan mata uang Aussie terhadap mata uang Dollar AS kembali mewarnai pergerakan market. Dimana Aussie tetap berada di dekat level tertinggi dua minggu, karena penurunan dolar AS dikombinasikan dengan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut dari RBA. Pasar terus mengevaluasi risalah pertemuan Bank Cadangan Australia bulan Juni, yang menggarisbawahi kekhawatiran kuat para pembuat kebijakan atas inflasi yang terus berlanjut, kelebihan permintaan, dan kendala kapasitas. Bank-bank besar, seperti Commonwealth Bank of Australia, mengatakan bahwa notulen tersebut menyoroti tekanan inflasi yang terus berlanjut, sementara ANZ memperingatkan bahwa notulen tersebut memperkuat risiko kenaikan suku bunga lagi dalam beberapa bulan mendatang. Sementara itu, Dollar AS berada di bawah tekanan akibat penurunan harga energi dan laporan penggajian AS yang lebih lemah dari perkiraan, mendorong pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat, dengan harga berjangka menunjukkan peluang 78% bahwa suku bunga akan tetap tidak berubah pada pertemuan 29 Juli.
Pivot : 0,69356
R1 : 0,69505 S1 : 0,69116
R2 : 0,69745 S2 : 0,68967
R3 : 0,69894 S3 : 0,68727
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 162,100 – 162,600
Terpuruknya mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Greenback terus berkelanjutan. Bahkan hingga kini nasib Yen berada di dekat level terlemahnya dalam empat dekade karena investor terus bertaruh melawan mata uang tersebut di tengah tidak adanya intervensi dari otoritas Jepang. Meskipun demikian, pasar tetap waspada terhadap setiap langkah Tokyo untuk mendukung Yen, meskipun banyak pedagang meragukan bahwa intervensi saja akan memberikan solusi jangka panjang. Menteri Keuangan Satsuki Katayama menegaskan kembali bahwa para pejabat siap memasuki pasar valuta asing kapan pun diperlukan, menambahkan bahwa Jepang dan AS tetap berkomunikasi erat mengenai kebijakan mata uang. Yen juga tetap berada di bawah tekanan karena kekhawatiran atas ekspansi fiskal Jepang dan ekspektasi bahwa Bank Sentral Jepang masih tertinggal dalam menormalisasi kebijakan moneter. Sementara itu, investor menilai data yang menunjukkan upah nominal meningkat 3,2% pada bulan Mei, sedangkan pengeluaran rumah tangga menurun 0,4%
Pivot : 161,967
R1 : 162,288 S1 : 161,759
R2 : 162,496 S2 : 161,438
R3 : 162,817 S3 : 161,230
GBPUSD
Opportunity : Bearish menuju : 1.3316 – 1.3283
Pounds ditutup melemah menuju 1,3360 setelah Sterling gagal mempertahankan kenaikan yang sempat membawanya ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Disatu-sisi Dollar AS menguat pada perdagangan Selasa kemarin setelah pelaku pasar mencerna data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dan pernyataan terbaru dari pejabat Federal Reserve. Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di sekitar level 101,00 dan berhasil pulih tipis setelah bergerak terbatas dalam dua sesi sebelumnya. Pelaku pasar masih menilai perbedaan arah kebijakan antara Federal Reserve dan Bank of England. Risiko inflasi yang masih tinggi membuat kedua bank sentral tetap berhati-hati dalam menentukan langkah kebijakan berikutnya. GBP masih berpotensi untuk tertekan pada perdagangan hari ini yang akan dibintangi oleh penguatan U.S Dollar.
Open : 1.3358 Pivot 1.3368
R1 : 1.3389 S1 : 1.3336
R2 : 1.3421 S2 : 1.3316
R3 : 1.3442 S3 : 1.3283
EURUSD
Opportunity : Bearish menuju 1.1382 – 1.1356
Mata uang Euro berakhir turun pada hari Selasa, tertekan penguatan dolar AS. Pasangan mata uang EUR/USD ditutup turun 0,26% pada 1.1412. Euro melemah akibat penguatan dolar AS. Indeks dolar AS berakhir naik pada hari Selasa, terdukung pelemahan pasar saham dan kenaikan harga minyak. Namun kerugian pada Euro terbatas setelah produksi industri Jerman Mei naik lebih dari yang diperkirakan, yang terbesar dalam 8 bulan. Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di sekitar level 101,00 dan berhasil pulih tipis setelah bergerak terbatas dalam dua sesi sebelumnya. EUR/USD masih berada di bawah tekanan dan bergerak di sekitar level 1,1415. EUR diperkirakan masih dapat melemah pada perdagangan hari ini.
Open : 1.1403 Pivot : 1.1422
R1 : 1.1436 S1 : 1.1396
R2 : 1.1461 S2 : 1.1382
R3 : 1.1476 S3 : 1.1356
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8115 – 0.8144
Swiss Franc masih dalam tekanan U.S Dollar pada perdagangan Selasa kemarin. Indeks Dollar AS berakhir naik pada hari Selasa, terdukung pelemahan pasar saham dan kenaikan harga minyak. Indeks Dollar AS berakhir naik 0,26% pada 101,12. Dollar AS menguat pada hari Selasa di tengah pelemahan pasar saham, yang meningkatkan permintaan likuiditas untuk mata uang tersebut. Kenaikan dolar AS juga didukung harga minyak mentah yang lebih tinggi pada hari Selasa mendorong ekspektasi inflasi dan dapat mendorong The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. CHF masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang akan dibayangi oleh penguatan U.S Dollar. Disatu-sisi data ekonomi Swiss di sektor tenaga-kerja masih dalam tekanan.
Open : 0.8079 Pivot : 0.8067
R1 : 0.8096 S1 : 0.8048
R2 : 0.8115 S2 : 0.8019
R3 : 0.8144 S3. : 0.7999
DXY
Opportunity: Bullish Range 101,100 – 101,400
Tanda penguatan mata uang Greenback terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya mulai nampak di market. Kondisi tersebut tergambar pada Indeks Dollar AS (DXY) yang mulai menanjak naik dan sentuh level tertinggi hariannya di level 101,148. Mata uang Dollar AS sebelumnya sedikit melemah dalam dua sesi sebelumnya, menunjukkan reaksi yang relatif kecil terhadap kenaikan harga minyak. Harga minyak naik setelah adanya laporan bahwa kapal-kapal telah diserang di dekat Selat Hormuz, yang menyoroti situasi keamanan yang rapuh di Timur Tengah dan potensi risiko terhadap pasokan energi global. Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong para pedagang untuk sedikit meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga Fed tambahan tahun ini. Peluang kenaikan suku bunga paling cepat pada bulan September naik menjadi sekitar 58%, naik dari 56% sehari sebelumnya. Investor kini menantikan rilis notulen rapat FOMC pada hari Rabu untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang prospek kebijakan The Fed, menyusul sikap yang lebih hawkish dari bank sentral pada pertemuan bulan Juni lalu. Dollar AS mencatatkan penguatan moderat terhadap sebagian besar mata uang utama, tetapi tetap sedikit lebih lemah terhadap Yen.
Pivot : 101,024
R1 : 101,245 S1 : 100,900
R2 : 101,369 S2 : 100,679
R3 : 101,590 S3 : 100,555

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bearish ke area 60,115
Indeks Nikkei 225 turun 0,3% menjadi di bawah 68.100, sementara Indeks Topix yang lebih luas turun 0,8% menjadi 4.030 pada hari Rabu, memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya karena saham-saham Jepang mengikuti aksi jual semalam di Wall Street yang dipimpin oleh pelemahan baru pada saham-saham semikonduktor. Laporan bahwa DeepSeek China sedang mengembangkan chip AI-nya sendiri juga membebani saham-saham teknologi. Investor juga bereaksi terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak setelah AS melancarkan serangan udara baru terhadap Iran menyusul serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Saham-saham unggulan yang mencatatkan penurunan signifikan termasuk Tokyo Electron (-2,7%), Taiyo Yuden (-3%), Fujikura (-1,4%), Ibiden Co (-3,3%), dan Mitsubishi Heavy Industries (-3,4%).
Pivot : 62,026
R1 : 63,068 S1 : 60,773
R2 : 64,321 S2 : 59,731
R3 : 66,616 S3 : 57,436
HANGSENG
Opportunity: Menguji support ke area: 25,434
Indeks Hang Seng turun 0,5%, atau 119 poin, dan ditutup pada 23.497 pada hari Selasa, membalikkan kenaikan sebelumnya karena saham properti memimpin penurunan dan investor menjadi lebih berhati-hati menjelang peristiwa ekonomi penting AS dan Tiongkok. Sentimen melemah setelah Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan melambat menjadi 4,4% pada tahun 2026 dan 4,3% pada tahun 2027, dengan alasan penurunan sektor properti yang berkepanjangan dan permintaan konsumen yang lesu. Investor juga menunggu pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve AS dan data CPI dan PPI Tiongkok bulan Juni yang akan dirilis minggu ini untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek kebijakan. Pengembang properti memimpin kerugian setelah indeks sektor tersebut turun lebih dari 3%, sementara saham teknologi juga diperdagangkan lebih rendah. Sementara itu, Beijing dan Hong Kong mengumumkan langkah-langkah baru untuk memperluas perdagangan mata uang, obligasi, dan emas, bertujuan untuk memperkuat peran kota tersebut sebagai pusat yuan lepas pantai terkemuka. Di antara saham-saham yang mengalami penurunan signifikan adalah Kuaishou (-12,0%), Kingboard Laminates (-5,2%), Xiaomi (-0,8%), SMIC (-3,0%), dan AIA (-1,9%).
Pivot : 25,870
R1 : 26,094 S1 : 25,448
R2 : 26,516 S2 : 25,224
R3 : 27,162 S3 : 24,578
NASDAQ
Opportunity: Sell Limit: 29,737| SL: 29,840 | TP: 28,500
Kontrak berjangka saham AS pulih pada hari Rabu setelah indeks utama ditutup lebih rendah pada sesi sebelumnya, terbebani oleh aksi jual kembali saham semikonduktor. Investor terus menilai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak setelah AS melancarkan serangan udara baru terhadap Iran menyusul serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Para pedagang juga menantikan rilis risalah pertemuan Federal Reserve bulan Juni untuk petunjuk tambahan tentang prospek kebijakan. Pada sesi reguler Selasa, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 1,16%, sementara S&P 500 dan Dow masing-masing turun 0,45% dan 0,25%. Produsen chip kembali berada di bawah tekanan karena investor mempertanyakan apakah perusahaan-perusahaan raksasa AI dapat mempertahankan pengeluaran infrastruktur yang tinggi. Lonjakan laba kuartalan Samsung yang mencapai 19 kali lipat juga gagal mengangkat sentimen, sementara laporan bahwa DeepSeek China sedang mengembangkan chip AI sendiri menambah kekhawatiran di seluruh sektor.
Pivot : 29,057.92
R1 : 29,889.08 S1 : 28,291.17
R2 : 30,676.17 S2 : 27,439.67
R3 : 32,294.42 S3 : 25,821.42

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bearish, menguji area support 4.063.
Harga emas bergerak stabil di kisaran USD 4.100 per troy ounce pada perdagangan Rabu setelah sebelumnya terkoreksi lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. Pergerakan logam mulia masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan udara terbaru yang dilancarkan Amerika Serikat ke Iran sebagai respons atas serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat potensi terganggunya pasokan energi global turut memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) dapat mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini membatasi penguatan harga emas karena suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Pemerintah Amerika Serikat juga mencabut kebijakan pengecualian yang sebelumnya mengizinkan Iran menjual minyak mentah ke pasar global. Langkah tersebut, ditambah meningkatnya risiko keamanan di Selat Hormuz yang membuat sejumlah perusahaan pelayaran dan produsen energi mengurangi aktivitas di kawasan tersebut, semakin memperbesar ketidakpastian pasar global.
Sementara itu, pelaku pasar masih menantikan risalah rapat Federal Reserve bulan Juni untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Sebelumnya, harga emas sempat memperoleh dukungan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan mendorong pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, meningkatnya tensi geopolitik kembali membuat prospek pergerakan emas menjadi lebih berhati-hati.
Pivot : 4.063
R1 4.180 R2 4.221 R3 4.265
S1 4.063 S2 4.023 S3 3.942
Oil
Opportunity : Bullish jangka pendek selama bertahan di atas 69,18, testing resistance 74,69.
Harga minyak mentah melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu dengan diperdagangkan di atas USD 72 per barel dan telah mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang pekan ini. Penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terbaru ke Iran sekaligus mencabut kebijakan yang sebelumnya memungkinkan Iran mengekspor minyak mentah ke pasar internasional.
Langkah tersebut dilakukan setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal pengangkut LNG asal Qatar dan kapal tanker minyak Arab Saudi. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak dan gas paling penting di dunia.
Meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut juga mendorong sejumlah perusahaan pelayaran dan produsen energi untuk mengurangi aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz. Kondisi ini memperbesar potensi gangguan rantai pasok energi global sekaligus meningkatkan premi risiko pada harga minyak.
Kenaikan harga minyak kali ini sekaligus membalikkan sentimen sebelumnya yang memperkirakan terjadinya kelebihan pasokan global setelah kelompok OPEC+ meningkatkan kuota produksi dan sejumlah negara produsen di Timur Tengah berupaya menaikkan output. Namun, memburuknya situasi geopolitik membuat perhatian pasar kembali beralih pada risiko pasokan, sehingga memberikan dorongan kuat terhadap harga minyak mentah.
Pivot: 69,18
R1 74,69 S1 71,52
R2 78,07 S2 69,18
R3 81,63 S3 67,00
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Rabu, 8 Juli 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Supply & Demand Jadi Panduan Trading Emas Jelang FOMC Minutes
Catat jam dan waktunya ya!
| Rabu, 8 Juli 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
