Gejolak pasar global meningkat pada akhir Oktober 2026 setelah harga emas menembus level terendah tahun ini, minyak melonjak, dan saham teknologi mengalami aksi jual. Investor menghadapi ketidakpastian dari kebijakan bank sentral, inflasi AS, serta risiko konflik di Timur Tengah. Pergerakan tersebut turut membentuk arah pasar menjelang rangkaian data ekonomi penting pekan ini.
Harga Emas Tertekan Kebijakan The Fed
Emas (XAU/USD) turun lebih dari 3,3% pada Jumat dan menyentuh level $3.880, terendah sepanjang tahun ini. Harga juga menembus batas $3.900 untuk pertama kalinya sejak Oktober tahun sebelumnya. Aksi jual meningkat setelah emas melewati support penting $3.886 pada 28 Oktober.
Pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve (The Fed) turut menekan harga logam mulia. Presiden Dallas Fed Lorie Logan mendukung dua kenaikan suku bunga tambahan. Presiden St. Louis Fed Alberto Musalem juga menginginkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat karena kebijakan moneter masih terlalu longgar.
Sementara itu, Presiden Richmond Fed Thomas Barkin memilih pendekatan bertahap. Namun, ia mengakui tekanan inflasi mulai menyebar. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa pejabat The Fed masih menghadapi tantangan dalam menentukan arah kebijakan.
Inflasi AS dan Risiko Kenaikan Suku Bunga
Data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 3,4% secara tahunan pada kuartal ketiga, jauh melampaui perkiraan. Inflasi inti PCE mencapai 3,1% secara tahunan, naik dari pembacaan September tetapi sesuai dengan ekspektasi.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi tinggi dapat mendorong The Fed mempertahankan kebijakan ketat. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember turun dari sekitar 84% pada Rabu menjadi 70%, menurut CME FedWatch Tool.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada 3,75%–4,00% dalam pertemuan Oktober. Pasar kemudian kembali memperhitungkan peluang kenaikan pada Desember, terutama setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga yang masih bertahan.
Dolar AS dan Pasangan Forex Bergerak Beragam
Indeks Dolar AS (DXY) mengakhiri pekan 26–30 Oktober di kisaran 101,88–101,96. Penurunan imbal hasil Treasury AS dan keputusan sejumlah bank sentral membatasi pergerakan dolar, meskipun data ekonomi AS tetap kuat.
Bank of Japan mempertahankan suku bunga pada 1,25% melalui keputusan 8–1. USD/JPY bergerak di sekitar 157,58 setelah sebelumnya berada di atas 158. Sementara itu, European Central Bank mempertahankan suku bunga utama pada 2,65%, dengan suku bunga deposit 2,50%. EUR/USD stabil di sekitar 1,1190.
GBP/USD mencapai 1,3405 dan mencatat kinerja relatif kuat, dengan kenaikan sekitar 1% sepanjang Oktober. Ekspektasi kebijakan Bank of England yang lebih hawkish turut mendukung pound.
AUD/USD pulih menuju 0,7022 setelah data inflasi Australia meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. USD/CAD turun ke 1,3976 setelah Bank of Canada mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga menjadi 2,50%. USD/CHF berada di 0,8238 dan menguji area support kanal bawah di tengah permintaan aset aman.
Harga Minyak Melonjak akibat Risiko Timur Tengah
Harga minyak naik tajam pada Jumat karena pasar mengantisipasi potensi eskalasi konflik Iran setelah pemilihan paruh waktu AS. Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz kembali menyoroti risiko gangguan pasokan energi.
Brent untuk kontrak Desember yang berakhir Jumat naik $2,76 atau 2,4% menjadi $117,64 per barel. Kontrak Januari yang lebih aktif meningkat $2,63 menjadi $113,43. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik $2,12 atau 2,08% menjadi $104,12 per barel.
Sepanjang Oktober, Brent mencatat kenaikan 13,6%, sedangkan WTI meningkat 15,2%. Harga energi yang tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi dan mempersulit bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi
Pasar saham AS berakhir melemah tajam pada Jumat setelah sejumlah perusahaan teknologi menyampaikan hasil dan proyeksi yang mengecewakan. Nasdaq turun 3,5%, S&P 500 melemah 1,8%, dan Dow Jones kehilangan 572 poin.
Intel menjadi salah satu saham dengan penurunan terbesar setelah anjlok 28,6% akibat proyeksi kinerja yang lebih lemah dari ekspektasi. Amazon turun 1,4% setelah hasil kuartal ketiga tidak memenuhi ekspektasi dan perusahaan mengumumkan belanja modal yang lebih tinggi.
Kekhawatiran terhadap keberlanjutan permintaan kecerdasan buatan (AI) juga menekan saham semikonduktor. Nvidia turun 4,2%, AMD melemah 11%, Broadcom kehilangan 5,5%, dan Micron turun 5,3%.
Di sisi lain, saham energi menunjukkan kinerja lebih baik. ExxonMobil naik 2,2% dan Chevron menguat 1,7% setelah keduanya melampaui perkiraan kinerja kuartal ketiga.
Secara mingguan, S&P 500 turun 0,9%, Nasdaq melemah 2,4%, dan Dow kehilangan 1,2%. Untuk Oktober, Nasdaq mencatat penurunan 6,6%, S&P 500 melemah 0,9%, sedangkan Dow masih membukukan kenaikan 1,7%.
Agenda Ekonomi AS Pekan Ini
Investor akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed. Data manufaktur dan jasa ISM, laporan JOLTS, ADP Employment Change, serta klaim pengangguran awal akan menjadi perhatian utama.
Laporan Nonfarm Payrolls pada Jumat menjadi agenda penting karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja. Data tersebut juga berpotensi mengubah ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember.
Selain itu, pemilihan paruh waktu AS dan laporan pendapatan perusahaan teknologi akan memengaruhi sentimen investor. Pasar juga memantau keputusan bank sentral lain, termasuk Bank of England dan Reserve Bank of Australia, yang menghadapi tekanan inflasi dan risiko harga energi.
Prospek Harga Emas Senin | 02 November 2026
Pergerakan XAU/USD pada time frame H4 masih menunjukkan tren bearish, dengan harga berada di bawah SMA 50 dan garis tren menurun. Tekanan jual semakin kuat setelah harga menembus support 3.975 dan 4.027, kemudian bergerak mendekati 3.870. RSI(14) berada di level 21,20, menunjukkan kondisi oversold yang membuka peluang rebound teknikal. Jika harga mampu bertahan di atas 3.870, potensi rebound dapat menguji resistance 3.975. Namun, jika harga gagal menembus area tersebut, tekanan bearish berpotensi kembali mendominasi.
Sebaliknya, apabila harga mampu bergerak di atas 3.975, peluang pemulihan terbuka menuju resistance 4.027 dan 4.066, meskipun tren bearish belum berakhir selama harga masih tertahan di bawah SMA 50 dan garis tren menurun. Jika harga kembali menembus 3.870, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju support 3.819 dan 3.760.
GOLD INTRADAY AREA
R1 3.975 R2 4.027 R3 4.066
S1 3.870 S2 3.819 S3 3.760
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.875 |
| Profit Target Level | 3.930 |
| Stop Loss Level | 3.850 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 3.940 |
| Profit Target Level | 3.890 |
| Stop Loss Level | 3.980 |
Prospek Harga US Oil Senin | 02 November 2026
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tren bullish, dengan harga bergerak di atas SMA 50 dan membentuk pola higher high serta higher low. Saat ini, harga sedang menguji resistance 103.86–104.89 setelah gagal menembus area tersebut. RSI(14) berada di level 51.49, menunjukkan momentum bullish mulai melemah. Jika harga gagal menembus resistance, potensi koreksi terbuka menuju 99.41 dan 97.86.
Namun, selama harga bertahan di atas 96.30, struktur bullish masih terjaga. Jika harga mampu menembus 104.89, peluang kenaikan terbuka menuju 106.67. Sebaliknya, penurunan di bawah 96.30 berpotensi mengubah tren dan membuka ruang koreksi lebih dalam.
US Oil INTRADAY AREA
R1 103,86 R2 104,89 R3 106,67
S1 99,41 S2 97,86 S3 96,30
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 100,80 |
| Profit Target Level | 103,50 |
| Stop Loss Level | 99,30 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 103,80 |
| Profit Target Level | 101,00 |
| Stop Loss Level | 105,00 |
Baca analisa sebelumnya: Pelemahan DXY Berlanjut, Inflasi AS Jadi Sorotan
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
