Market Summary
FOMC Meeting menjadi perhatian utama pelaku pasar karena pergerakan emas dan dolar AS semakin sensitif terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Harga emas sempat melemah setelah tekanan dari penguatan dolar dan lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Harga emas spot tercatat turun sekitar 0,4% ke kisaran USD 4.574 per ounce setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak awal April. Kontrak berjangka emas AS juga mengalami pelemahan tipis. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih berhati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.
Penguatan Dolar AS Menjelang FOMC Meeting
Dolar AS mencatat penguatan moderat terhadap sejumlah mata uang utama dan bergerak mendekati level tertinggi dua pekan di area indeks 99.00. Sentimen pasar yang cenderung berhati-hati menjelang FOMC Meeting memberi dukungan tambahan bagi mata uang safe haven tersebut.
Fokus pasar kini beralih dari konflik Timur Tengah ke arah kebijakan Federal Reserve. Pasar secara luas memperkirakan suku bunga akan tetap bertahan pada pertemuan kali ini dan kemungkinan besar tidak berubah hingga akhir tahun.
Namun, perbedaan pandangan di dalam komite kebijakan moneter diperkirakan akan muncul. Hal ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, terutama pada aset seperti emas dan dolar AS.
Selain itu, masa depan kepemimpinan Federal Reserve juga menjadi perhatian pasar. Jerome Powell menghadapi keputusan penting terkait apakah ia akan melanjutkan perannya sebagai Gubernur hingga 2028 atau memilih meninggalkan bank sentral setelah masa jabatannya sebagai Ketua berakhir. Donald Trump sebelumnya meminta Powell untuk meninggalkan jabatannya, sementara Powell menyatakan akan tetap bertahan hanya jika independensi bank sentral dianggap terancam.
Harga Minyak Tinggi dan Risiko Inflasi Global
Harga minyak mentah tetap berada di level tinggi setelah Selat Hormuz mendekati dua bulan penutupan. Kondisi ini menjaga harga energi hampir 50% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Situasi geopolitik di Timur Tengah masih menemui jalan buntu. Donald Trump dilaporkan menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran karena tidak membahas isu nuklir secara langsung. Pemerintah AS juga mempertimbangkan perpanjangan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Kenaikan harga energi memperbesar risiko stagflasi global, yaitu kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi. Kekhawatiran ini menekan selera risiko investor dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Bagi emas, kondisi ini menciptakan dinamika yang kompleks. Inflasi tinggi biasanya mendukung harga emas, tetapi suku bunga tinggi dapat menekan daya tarik logam mulia.
Ekspektasi Kebijakan The Fed dan Dampaknya ke Emas
Pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% pada pertemuan kali ini. Lingkungan ekonomi yang semakin kompleks membuat bank sentral berhati-hati dalam menentukan langkah selanjutnya.
Investor menunggu komentar terbaru dari Jerome Powell untuk memahami pandangan The Fed terhadap dampak konflik Timur Tengah, inflasi energi, serta kekuatan pasar tenaga kerja. Pernyataan tersebut sering menjadi pemicu utama pergerakan emas dalam jangka pendek.
Jika Federal Reserve memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, harga emas berpotensi mengalami tekanan lanjutan. Sebaliknya, sinyal pelonggaran kebijakan dapat membuka peluang penguatan harga emas.
Proyeksi Permintaan dan Harga Emas Global
Permintaan emas global menunjukkan tren positif meskipun kondisi ekonomi tidak stabil. Permintaan pada kuartal pertama 2026 meningkat sekitar 2% secara tahunan menjadi lebih dari 1.230 metrik ton.
Pembelian emas batangan dan koin mengalami peningkatan signifikan. Bank sentral di berbagai negara juga meningkatkan cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.
Salah satu institusi besar, Goldman Sachs, memperkirakan harga emas berpotensi mencapai USD 5.400 per ounce pada akhir tahun 2026. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme terhadap permintaan jangka panjang meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi.
Namun, risiko koreksi tetap terbuka jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut atau terjadi tekanan pada pasar obligasi dan saham global.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, dengan level pivot di 4.610. Selama harga tetap bergerak di bawah level tersebut, peluang penurunan masih terbuka. Saat ini, harga sedang menguji support terdekat di 4.555. Jika level ini berhasil ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju support berikutnya di area 4.530 hingga 4.480.
Sebagai alternatif skenario, jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level 4.610, peluang kenaikan dapat terbuka untuk menguji area resistance di kisaran 4.635 hingga 4.660.
Resistance 1: 4.610 Resistance 2: 4.635 Resistance 3: 4.660
Support1: 4.555 Support 2: 4.530 Support 3: 4.480
Baca juga: Peluang Trading USD/JPY Pasca BoJ Meeting
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
