Wall Street Bertahan di Rekor Tertinggi Meski Konflik Iran Memanas
Wall Street bertahan di rekor tertinggi pada perdagangan Senin di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen positif dari laporan keuangan perusahaan yang solid serta optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) mampu menahan tekanan dari lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada akhir pekan. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan militer AS. Di saat yang sama, media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan perundingan tidak langsung dengan Washington setelah Israel memerintahkan pasukannya memperluas operasi militer di Lebanon untuk menghadapi kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan berpotensi menghambat upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Wall Street Didukung Sektor Teknologi dan Energi
Wall Street bertahan di rekor tertinggi karena investor lebih fokus pada fundamental perusahaan dibandingkan risiko geopolitik. Saham sektor teknologi dan energi menjadi motor penggerak utama kenaikan indeks, sementara sektor utilitas dan consumer discretionary mengalami tekanan.
Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,09%, S&P 500 naik 0,26%, dan Nasdaq Composite bertambah 0,42%. Sebaliknya, indeks STOXX 600 Eropa turun 0,76%.
Pasar menilai pertumbuhan laba perusahaan masih sangat kuat. Revisi proyeksi laba kuartal kedua juga menunjukkan tren positif. Kondisi tersebut membuat investor tetap percaya diri terhadap prospek pasar saham meskipun ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.
Indeks MSCI All Country World bahkan mencetak rekor tertinggi baru sebelum ditutup naik 0,10%. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa investor global masih mempertahankan minat terhadap aset berisiko.
Optimisme AI Kembali Mengangkat Sentimen Pasar
Sentimen positif juga datang dari sektor teknologi. Nvidia memperkenalkan chip terbaru yang memungkinkan kemampuan AI berjalan langsung pada laptop dan komputer desktop. Langkah ini memperketat persaingan di industri semikonduktor dan memperkuat ekspektasi pertumbuhan bisnis AI dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, perusahaan AI Anthropic mengajukan dokumen penawaran umum perdana saham (IPO) secara rahasia di Amerika Serikat. Kabar tersebut semakin memperkuat optimisme bahwa gelombang investasi AI masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Kombinasi pertumbuhan laba perusahaan dan perkembangan AI menjadi faktor utama yang menjaga reli pasar saham global sepanjang tahun ini.
Data Ekonomi AS Menjadi Fokus Investor
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat pekan ini, termasuk laporan tenaga kerja nonfarm payrolls bulan Mei yang akan dirilis pada Jumat.
Data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat lebih kuat dari perkiraan pada Mei dan mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan tersebut kemungkinan didorong oleh perusahaan yang mempercepat pemesanan barang untuk mengantisipasi kenaikan harga dan potensi gangguan pasokan akibat konflik Iran.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,453%. Pasar masih melihat tekanan inflasi sebagai faktor yang perlu diperhatikan, terutama setelah harga minyak kembali melonjak.
Dolar AS Menguat, Emas Tertekan
Penguatan dolar AS menjadi salah satu dampak dari meningkatnya ketidakpastian global. Mata uang AS menguat terhadap euro, yen Jepang, dan franc Swiss.
Euro turun ke US$1,163, sementara yen melemah ke 159,69 per dolar AS. Level tersebut mendekati area yang sebelumnya mendorong otoritas Jepang melakukan intervensi pasar valuta asing.
Indeks dolar AS naik menjadi 99,20. Penguatan greenback memberikan tekanan pada harga emas yang turun 1,17% ke US$4.482,54 per troy ounce.
Penurunan emas juga terjadi setelah Iran menyatakan penghentian negosiasi dengan Amerika Serikat menyusul serangan terbaru dan operasi militer Israel di Lebanon. Namun, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa rencana serangan Israel ke Beirut tidak akan terjadi dan pembicaraan dengan Iran masih berlanjut.
Harga Minyak Melonjak Akibat Risiko Pasokan
Harga minyak menjadi aset yang paling merespons perkembangan konflik Timur Tengah. Minyak mentah Brent melonjak 4,24% dan ditutup di US$94,98 per barel.
Pasar khawatir eskalasi konflik dapat mengganggu pasokan energi global. Kenaikan harga minyak tersebut juga meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama, sehingga membatasi ruang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Meski demikian, Wall Street bertahan di rekor tertinggi karena investor masih melihat pertumbuhan laba perusahaan dan tema AI sebagai pendorong utama pasar. Selama data ekonomi tetap solid dan kinerja emiten terus membaik, sentimen positif berpeluang menjaga reli pasar meskipun risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda.
Prospek Harga Emas Selasa | 02 Juni 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish. Setelah sebelumnya rebound dan menguji area resistance 4.570–4.595, harga gagal melanjutkan kenaikan dan kembali tertekan. Tekanan jual semakin menguat setelah harga menembus support 4.525 yang kini beralih fungsi menjadi resistance.
Selama harga bertahan di bawah area 4.525, potensi penurunan masih terbuka untuk menguji support 4.418, kemudian 4.366. Posisi harga yang berada di bawah SMA 50 serta keberadaan garis tren menurun juga mengindikasikan bahwa momentum bearish masih mendominasi pergerakan emas dalam jangka pendek.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.525 R2 4.570 R3 4.595
S1 4.418 S2 4.366 S3 4.306
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.420 |
| Profit Target Level | 4.500 |
| Stop Loss Level | 4.395 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.500 |
| Profit Target Level | 4.430 |
| Stop Loss Level | 4.530 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 02 Juni 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan tanda-tanda rebound setelah penurunan sebelumnya tertahan di area support 86,26. Harga berhasil menguat dan kembali bergerak di atas area 89,24, namun kenaikan masih menghadapi tantangan di sekitar SMA 50 yang saat ini berada di area 94,66. Selama harga mampu bertahan di atas support 89,24, peluang rebound masih terbuka untuk menguji resistance 94,66, kemudian 96,90 hingga 99,32.
Meski demikian, jika harga kembali gagal menembus area 94,66 dan bergerak turun di bawah 89,24, tekanan bearish berpotensi kembali mendominasi dengan target penurunan menuju 86,26. RSI yang mulai bergerak naik ke atas level 50 mengindikasikan momentum pemulihan jangka pendek masih cukup terjaga.
US Oil INTRADAY AREA
R1 94,66 R2 96,90 R3 99,32
S1 83,60 S2 86,26 S3 89,24
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 89,50 |
| Profit Target Level | 93,00 |
| Stop Loss Level | 88,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 93,50 |
| Profit Target Level | 89,50 |
| Stop Loss Level | 95,00 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar Melemah di Tengah Prospek Perdamaian AS-Iran
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa peluang trading EUR/JPY masih cenderung bullish pada time frame H4 dengan level pivot berada di 185,641. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji area resistance di 186,237, kemudian 186,397, dan selanjutnya 186,557.
Pergerakan harga emas sebelumnya sempat rebound setelah membentuk titik terendah di area 4.360. Namun, penguatan tersebut masih tertahan di area resistance 4.595 sehingga memicu koreksi terbatas. Meski mengalami tekanan jual, harga tetap mampu bertahan di atas SMA 50 dan support 4.491, yang menunjukkan bahwa struktur bullish jangka pendek masih terjaga.
Pergerakan US Oil sebelumnya mengalami tekanan jual yang cukup kuat hingga turun ke area support 86,50. Namun, penurunan tersebut gagal berlanjut setelah muncul minat beli yang mendorong harga rebound dari area tersebut. Penguatan yang terjadi saat ini membuka peluang bagi harga untuk melanjutkan kenaikan dan menguji resistance terdekat di 92,49.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berpotensi rebound. Level pivot berada di area 4.460. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance 4.550. Jika momentum bullish berlanjut, harga berpotensi naik menuju 4.580 hingga 4.605.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga bergerak di bawah SMA 50 dan tetap tertahan di bawah garis descending trendline. Penurunan terbaru membawa harga menguji area support kuat di 4.366, kemudian memantul dan mencoba rebound jangka pendek menuju resistance di 4.512-4.537. Namun selama harga masih bergerak di bawah area resistance tersebut, tekanan jual diperkirakan masih dominan dengan potensi penurunan lanjutan untuk menguji kembali support 4.400 hingga 4.366.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tekanan bearish setelah harga terus bergerak di bawah SMA 50 dan membentuk rangkaian lower high. Harga saat ini sedang mendekati area demand kuat di kisaran 85,41 hingga 83,21 yang sebelumnya menjadi area pantulan penting. Selama harga masih berada di bawah resistance 92,49, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi dengan potensi penurunan lanjutan menuju area support tersebut.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan silver pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish dengan level pivot di 73,85. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan turun diperkirakan masih berlanjut untuk menguji support di area 71,75, kemudian 70,85, hingga 69,70.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas resistance 4.537 dan kembali bergerak di bawah SMA 50. Trendline menurun juga masih membatasi ruang kenaikan, menandakan dominasi seller masih kuat. Saat ini harga bergerak sedang mencoba bertahan di atas area support 4.400.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tekanan bearish setelah harga menembus support 91.48, yang kini berubah menjadi resistance terdekat. Setelah breakdown tersebut, harga kembali melemah dan membentuk support baru di area 87,58. Harga juga masih bergerak di bawah SMA 50, sementara struktur lower high dan lower low tetap mendominasi, menandakan trend penurunan masih berlanjut.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat bahwa pergerakan NZD/USD masih berpeluang bullish pada time frame H4 dengan level pivot di 0.5845. Selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance di 0.5902, kemudian 0.5915 hingga 0.5928.
Pergerakan harga emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal menembus area resistance 4.543–4.560 yang juga berdekatan dengan garis MA. Harga saat ini bergerak di bawah moving average, menandakan tren turun masih dominan dalam jangka pendek. RSI yang berada di bawah level 50 turut mengindikasikan momentum beli yang masih lemah.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan upaya rebound setelah harga sempat menyentuh area support 89,40. Namun kenaikan tersebut masih berpotensi terbatas selama harga belum mampu menembus resistance 95,02 yang sebelumnya merupakan area support dan kini berubah menjadi resistance.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan oil pada time frame H4 masih berpeluang rebound dengan level pivot di 90,75. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance 94,70, kemudian 96,75, hingga 98,70.
