Indeks Dolar AS Turun di bawah 100,00
Indeks Dolar AS jatuh ke bawah level 100,00 pada akhir pekan lalu. Pelemahan ini terjadi setelah rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) bulan Juli mengejutkan pasar. Ekonomi AS kehilangan 23 ribu lapangan kerja, jauh dari perkiraan penambahan 80 ribu. Data bulan Juni pun direvisi turun menjadi hanya 20 ribu. Upah rata-rata per jam juga melambat ke 3,2% secara tahunan.
Pasar sempat memperkirakan sikap hawkish dari Federal Reserve sepanjang akhir Juli. Namun data tenaga kerja yang lemah ini mengubah arah ekspektasi secara cepat. Investor kini memangkas peluang kenaikan suku bunga bulan depan.
CPI Jadi Penentu Arah Pasar Pekan Ini
Rilis Consumer Price Index (CPI) pada Rabu mendatang akan menentukan apakah tren pelemahan dolar ini berlanjut atau justru berbalik arah. Pasar memproyeksikan inflasi headline sebesar 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diperkirakan mencapai 2,5%. Dua pejabat The Fed, Hammack dan Barkin, juga akan berbicara pada Kamis.
Selain CPI, minggu ini juga menghadirkan data Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, dan survei awal sentimen konsumen Michigan. Bank sentral Australia mengumumkan keputusan suku bunga pada Selasa, sementara Inggris merilis data GDP kuartal kedua pada Kamis. China membuka pekan dengan data inflasi pada Minggu, yang akan memengaruhi arah mata uang komoditas.
Euro Mendekati Level Tertinggi Dua Bulan
EUR/USD ditutup di atas 1,1550, mendekati level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kalender ekonomi zona euro pekan ini lebih banyak berisi data konfirmasi dibanding kejutan baru. Jerman dan Italia merilis data inflasi final pada Rabu, disusul Spanyol dan Prancis pada hari-hari berikutnya. Data produksi industri zona euro juga terbit pada Kamis.
Perhatian utama tertuju pada rilis awal GDP kuartal kedua zona euro pada Jumat. Pasar memproyeksikan pertumbuhan 0,4% secara kuartalan dan 1% secara tahunan. Data perubahan tenaga kerja juga akan dirilis bersamaan. Bank Sentral Eropa masih memilih menunggu, sehingga pergerakan euro tetap didominasi oleh sentimen dolar.
Poundsterling Uji Resistance Jelang Data GDP Inggris
GBP/USD diperdagangkan di kisaran 1,3500 pada penutupan pekan, menguji level resistance untuk kedua kalinya bulan ini. Inggris akhirnya memiliki katalis domestik sendiri. Data GDP kuartal kedua akan terbit Kamis, dengan perkiraan pertumbuhan melambat ke 0,4% dari sebelumnya 0,6%. GDP bulanan diperkirakan terkontraksi 0,1%, sementara produksi manufaktur juga diprediksi melemah.
Angka yang lemah dapat mempersulit posisi Bank of England dalam menentukan kebijakan suku bunga. Kondisi ini juga berpotensi menjadi hambatan domestik pertama bagi poundsterling dalam beberapa minggu terakhir.
Yen Menguat, Pasar Waspadai Intervensi Lanjutan
USD/JPY ditutup di bawah level 158,00 setelah yen menguat tajam merespons data NFP yang lemah. Pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi susulan, sepekan setelah operasi bersama Tokyo dan Washington. Kalender ekonomi Jepang cukup sepi pekan ini, dengan data neraca berjalan bulan Juni pada Minggu sebagai satu-satunya rilis penting.
Pergerakan yen selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan sikap otoritas Jepang terhadap volatilitas nilai tukar. Fluktuatif indeks dolar AS akan mempengaruhi pergerakan USD/JPY selanjutnya.
Dolar Australia Menguat Jelang Keputusan RBA
Saat indeks dolar AS melemah, AUD/USD diperdagangkan di bawah level 0,7100, level terbaik dalam dua bulan terakhir. Reserve Bank of Australia (RBA) akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Selasa. Pasar hampir seluruhnya memperkirakan RBA menahan suku bunga di 4,35%. Perhatian pun bergeser ke pernyataan resmi bank sentral serta pidato Gubernur RBA Michele Bullock pada Kamis.
Data inflasi China pada Minggu juga menjadi sorotan penting. Pasar memperkirakan inflasi konsumen melambat ke 0,8% secara tahunan, sementara inflasi produsen turun ke 3,8%. Angka yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi memicu kembali kekhawatiran soal pertumbuhan ekonomi China, yang selama ini membatasi penguatan dolar Australia.
Emas Melesat ke Atas $4.300
Harga emas ditutup di atas $4.300 per ons, mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak Januari. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi pendorong utama reli ini. Karena itu, rilis CPI pada Rabu menjadi data paling krusial bagi arah emas selanjutnya. Turunnya indeks dolar AS, turut mendukung sentimen
Data inflasi yang lunak akan mengonfirmasi tren kenaikan harga emas saat ini. Sebaliknya, data yang kuat dapat memaksa pasar melakukan penyesuaian ulang, terutama di tengah risiko geopolitik Selat Hormuz yang masih membayangi harga energi global.
Harga Minyak Tertekan Ketegangan Selat Hormuz
Harga minyak bergerak fluktuatif pada Jumat dan mencatat penurunan mingguan yang tajam. Sentimen pasar sempat terguncang oleh klaim di awal pekan bahwa kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sudah di depan mata. Sebagian kerugian sempat terkoreksi menjelang akhir pekan setelah kesepakatan tersebut ternyata belum terealisasi.
Brent crude turun 0,2% menjadi $82,29 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,2% ke $77,14 per barel. Secara mingguan, Brent anjlok 8,5% dan WTI merosot 8,7%.
Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa perundingan dengan Iran masih berlangsung, meski Teheran membantah adanya negosiasi tersebut. Media pemerintah Iran menyebut negaranya hanya berkomunikasi dengan Oman terkait kerangka pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia. Data Kpler menunjukkan hanya delapan kapal yang tercatat melintasi titik strategis tersebut pada Kamis.
Berbeda dengan pergerakan indeks dolar AS, harga minyak sempat melonjak pada Kamis setelah kantor berita Fars News Iran melaporkan bahwa naskah awal rencana pengelolaan Selat Hormuz sedang ditinjau otoritas terkait. Anggota parlemen Iran, Alireza Salimi, menyebut bahwa berdasarkan rencana tersebut, kapal-kapal AS, Israel, dan pihak yang dianggap bermusuhan akan dilarang melintas hingga membayar kompensasi.
Fars News juga melaporkan bahwa jalur masuk ke selat akan melalui koridor utara di dekat pesisir Iran, sementara jalur keluar melalui koridor selatan dekat Oman. Setelah tenggat waktu tertentu, kedua koridor tersebut akan ditutup dan lalu lintas kapal akan dialihkan melalui koridor tengah, dengan Iran mengelola jalur masuk dan berbagi pengelolaan jalur keluar bersama Oman.
Wall Street Cetak Rekor Baru
Bursa saham AS ditutup menguat pada Jumat setelah data tenaga kerja yang lemah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan depan. Indeks S&P 500 naik 0,6% dan mencetak rekor penutupan baru di level 7.758. Nasdaq melesat 1,3%, sementara Dow Jones bertambah 152 poin.
Payroll AS turun 23 ribu, jauh dari ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran dan tingkat partisipasi angkatan kerja juga sama-sama menurun, sehingga kekhawatiran soal tekanan inflasi dari pasar tenaga kerja mereda. Imbal hasil obligasi AS yang lebih rendah turut mengangkat saham-saham sensitif terhadap kredit.
Saham SpaceX melonjak 15,8%, melanjutkan penguatan sejak Kamis setelah mendapat rekomendasi “Buy” berkat kecepatan pengembalian investasi infrastruktur AI perusahaan. Saham Palantir naik 10,3% setelah membukukan hasil kuartal kedua yang kuat dan menaikkan proyeksi 2026. Di sisi lain, Sandisk turun 3,7% dan Western Digital melemah 3,8%, sementara saham Berkshire Hathaway tergelincir menjelang rilis laporan keuangannya.
Prospek Harga Emas Senin | 10 Agustus 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan momentum bullish setelah berhasil menembus resistance 4.276 dan 4.307, yang kini berpotensi menjadi area support terdekat. Harga kemudian bergerak naik menuju resistance 4.382 dan saat ini terlihat berkonsolidasi di bawah level tersebut, sementara RSI 14 berada di 71,51 yang mengindikasikan kondisi mulai overbought.
Selama harga mampu bertahan di atas 4.307, peluang kenaikan masih terbuka menuju 4.382 dan selanjutnya 4.423, dengan 4.474 sebagai target berikutnya.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.382 R2 4.423 R3 4.474
S1 4.307 S2 4.276 S3 4.223
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.310 |
| Profit Target Level | 4.370 |
| Stop Loss Level | 4.270 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.380 |
| Profit Target Level | 4.320 |
| Stop Loss Level | 4.425 |
Prospek Harga US Oil Senin | 10 Agustus 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam fase rebound setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam hingga menyentuh 74,16. Saat ini harga bergerak naik dan berusaha menguji resistance 79,54 yang berdekatan dengan SMA 50, sehingga area tersebut menjadi penentu arah pergerakan berikutnya.
Jika mampu menembus 79,54, peluang rebound dapat berlanjut menuju 81,34 hingga 82,26, namun selama harga tertahan di bawah area tersebut, tekanan bearish masih berpotensi berlanjut dengan target penurunan kembali ke 76,63, 74,16, hingga 73,06.
US Oil INTRADAY AREA
R1 79,54 R2 81,34 R3 82,26
S1 76,63 S2 74,16 S3 73,06
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | Breakout 79,60 |
| Profit Target Level | 81,00 |
| Stop Loss Level | 78,20 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 79,50 |
| Profit Target Level | 78,00 |
| Stop Loss Level | 80,50 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar AS Menguat di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
