Market Summary
Peluang trading minyak AS kembali menjadi perhatian pasar setelah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Ketegangan geopolitik meningkat tajam dan langsung mendorong harga minyak lebih tinggi pada awal pekan.
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa militer Amerika Serikat akan memblokade kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran mulai 13 April. Langkah ini ditujukan untuk menekan ekspor minyak Iran, terutama ke China yang selama ini menjadi pembeli utama.
Harga minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak sekitar 8% dan diperdagangkan di kisaran $98. Namun, harga masih tertahan di bawah level $100 dan berada sekitar $10 di bawah puncak pekan lalu di $106,73.
Gencatan Senjata Menahan Risiko Lebih Besar
Walaupun negosiasi gagal, gencatan senjata selama dua minggu masih berlangsung dan dinilai tetap berjalan baik oleh Donald Trump. Kondisi ini menjaga ekspektasi bahwa dialog lanjutan masih mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Harapan tersebut membuat sentimen risk-off tidak meningkat secara ekstrem. Akibatnya, lonjakan harga minyak tidak berlanjut secara agresif meskipun risiko geopolitik meningkat.
Pasar saat ini berada dalam kondisi yang sensitif terhadap setiap perkembangan baru, baik dari sisi militer maupun diplomasi.
Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian
Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke area 99,00 pada sesi perdagangan Eropa. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Selain itu, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat.
Sebelumnya, ekspektasi kenaikan suku bunga sempat mereda setelah pengumuman gencatan senjata. Namun, kondisi terbaru mendorong pelaku pasar untuk kembali menyesuaikan proyeksi kebijakan moneter.
Fokus ke Data Inflasi Produsen AS
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data Producer Price Index (PPI) AS untuk bulan Maret. Inflasi produsen diperkirakan meningkat menjadi 4,6% secara tahunan dari sebelumnya 3,4%. Data ini akan menjadi indikator penting untuk melihat tekanan inflasi di tingkat produsen. Hasil yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan memengaruhi pergerakan harga minyak.
Sebaliknya, jika data lebih rendah, pasar bisa melihat ruang bagi harga minyak untuk mempertahankan penguatannya di tengah faktor geopolitik yang masih dominan.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan minyak AS (WTI) pada time frame H4 masih cenderung bullish, dengan level pivot berada di 100,00. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka dengan target resistance terdekat di 107,00. Jika level ini berhasil ditembus, kenaikan berpotensi berlanjut untuk menguji resistance berikutnya di 111,50 hingga 117,60.
Sebagai skenario alternatif, jika harga bergerak turun dan menembus di bawah 100,00, tekanan jual berpotensi meningkat dengan target penurunan menuju area support di 97,50 hingga 95,40.
Resistance 1: 107,00 Resistance 2: 111,50 Resistance 3: 117,60
Support1: 100,00 Support 2: 97,50 Support 3: 95,40
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.





Pergerakan emas pada time frame H4 sebelumnya berada dalam tren bullish, ditopang oleh support kuat di kisaran 4.700 yang berkonfluensi dengan SMA 50 dan garis uptrend. Namun, pada awal pekan harga mengalami gap down dan turun menembus area tersebut, sehingga melemahkan struktur bullish.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 sempat mengalami tekanan turun hingga menembus SMA 50, namun harga berhasil rebound dan kembali bergerak di atasnya.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bullish, dengan level pivot di 4.730. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka untuk menguji resistance di 4.780, kemudian 4.800, hingga 4.835.

Pergerakan emas pada timeframe H4 menunjukkan rebound yang cukup solid setelah harga berhasil bertahan di atas support 4.700, yang kini berfungsi sebagai area pijakan kuat setelah sebelumnya terjadi penolakan dari resistance 4.843. Koreksi dari area 4.843 tersebut membawa harga turun, namun tidak mampu menembus 4.700 sehingga memicu minat beli kembali dan mendorong harga naik.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan fase rebound setelah penurunan tajam yang sempat membawa harga turun hingga membentuk support baru di area 91,06. Dari level tersebut, harga memantul naik cukup signifikan, namun kenaikan masih tertahan di area resistance 103,23 yang kini menjadi penghalang utama.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan Silver pada time frame H4 masih berada dalam kecenderungan bearish, dengan level pivot di 72,80. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan turun masih berpotensi berlanjut dengan target support terdekat di 72,80. Jika level ini ditembus, penurunan dapat berlanjut menuju area support berikutnya di 71,30 hingga 69,80.

Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan bahwa harga sebelumnya berhasil menembus resistance 4.700 dan melanjutkan kenaikan hingga membentuk high di kisaran 4.858, yang kini menjadi resistance terdekat. Setelah mencapai level tersebut, harga mengalami koreksi, namun penurunan masih tertahan di area 4.700 yang kini beralih fungsi sebagai support kunci.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan harga sempat berada dalam tren bullish sebelum mengalami penurunan tajam dari resistance 109,14 hingga mendekati support 89,47.
