Dolar Melemah di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran
Dolar melemah terhadap mayoritas mata uang utama pada akhir pekan lalu setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut juga membuka peluang normalisasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dirinya akan mengambil keputusan final terkait proposal tersebut. Kesepakatan itu mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta kelanjutan negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Pelemahan dolar terjadi setelah sebelumnya mata uang AS sempat menguat akibat meningkatnya permintaan aset safe haven saat konflik Timur Tengah memanas. Namun, seiring munculnya harapan penyelesaian konflik, investor mulai mengurangi posisi defensif mereka sehingga tekanan terhadap dolar kembali meningkat.
Euro dan Pound Sterling Menguat
Dolar melemah mendorong penguatan sejumlah mata uang utama. Euro naik ke kisaran 1,1662 dolar AS dan mencatat kenaikan mingguan. Pound sterling juga menguat ke area 1,3466 dolar AS dan membukukan kenaikan mingguan untuk dua pekan berturut-turut.
Pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter global. Perbedaan pandangan mengenai dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi membuat pergerakan pasar valuta asing cenderung terbatas.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama tercatat berada di sekitar 98,92 dan menuju penurunan mingguan.
Inflasi AS Tinggi, The Fed Diperkirakan Tetap Tahan Suku Bunga
Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi Amerika Serikat pada April meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan harga energi akibat konflik Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi lebih tinggi.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Meski demikian, penguatan dolar belum terjadi secara signifikan karena investor masih menunggu kepastian perkembangan geopolitik serta arah kebijakan moneter selanjutnya.
Yen Dekati Level Intervensi
Yen Jepang diperdagangkan di sekitar 159 per dolar AS dan kembali mendekati level 160 yang selama ini menjadi perhatian pemerintah Jepang.
Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi bahwa pemerintah telah menghabiskan sekitar 11,7 triliun yen selama sebulan terakhir untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing. Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas yen yang terus tertekan oleh perbedaan suku bunga dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, dolar Australia dan dolar Selandia Baru menguat. Dolar Selandia Baru bahkan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan setelah Bank Sentral Selandia Baru mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Harga Emas Rebound Setelah Koreksi Tajam
Dolar melemah memberikan dukungan tambahan bagi harga emas. Logam mulia tersebut berhasil bangkit setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada sesi sebelumnya.
Harga emas spot naik sekitar 1,6% ke area US$4.566 per troy ons, sedangkan kontrak berjangka emas menguat sekitar 1,4% ke level US$4.597 per troy ons.
Pasar emas bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan konflik Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran sempat menekan harga emas, namun ketidakpastian mengenai implementasi kesepakatan tersebut membuat investor kembali mempertahankan sebagian permintaan terhadap aset safe haven.
Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran akan mencakup komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penghentian blokade maritim yang diberlakukan Amerika Serikat.
Wall Street Cetak Rekor Baru
Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan pada rekor tertinggi baru. Investor menilai perkembangan positif terkait hubungan AS-Iran mampu mengurangi risiko gangguan pasokan energi global dan menurunkan tekanan inflasi.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 0,2%, sedangkan Dow Jones menguat 0,7%. Secara bulanan, Nasdaq melonjak lebih dari 8%, S&P 500 naik sekitar 5%, dan Dow Jones bertambah sekitar 3%.
Saham sektor teknologi kembali menjadi motor utama penguatan pasar. Microsoft naik sekitar 5%, Oracle melonjak lebih dari 10%, sementara Dell melesat hampir 33% setelah meningkatkan proyeksi bisnis server berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Turunnya harga energi dan imbal hasil obligasi turut membantu menopang sentimen positif di pasar saham.
Harga Minyak Kembali Naik Akibat Konflik Lebanon
Meski optimisme terhadap perdamaian AS-Iran meningkat, pasar energi kembali menghadapi tekanan baru setelah Israel memerintahkan pasukan bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi melawan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa proses perpanjangan gencatan senjata AS-Iran dapat menghadapi hambatan baru. Akibatnya, harga minyak kembali naik tajam pada awal pekan.
Di awal perdagangan minggu ini, minyak mentah AS menguat sekitar 2,5% ke level US$89,53 per barel, sedangkan Brent naik sekitar 2,1% ke area US$93,05 per barel.
Pasar juga mencermati kondisi Selat Hormuz. Kekhawatiran mengenai keberadaan ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi memperlambat proses normalisasi distribusi minyak global meskipun kesepakatan perdamaian akhirnya tercapai.
Outlook Pasar Pekan Ini
Fokus investor pekan ini masih tertuju pada keputusan Donald Trump terkait perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Pasar juga akan memantau perkembangan situasi di Lebanon serta kondisi keamanan Selat Hormuz.
Jika proses perdamaian terus berlanjut, tekanan terhadap harga minyak berpotensi mereda dan sentimen risiko dapat kembali membaik. Sebaliknya, jika konflik kembali meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas kemungkinan akan kembali menguat dan volatilitas pasar keuangan global berpotensi meningkat.
Prospek Harga Emas Senin | 01 Juni 2026
Pergerakan harga emas sebelumnya sempat rebound setelah membentuk titik terendah di area 4.360. Namun, penguatan tersebut masih tertahan di area resistance 4.595 sehingga memicu koreksi terbatas. Meski mengalami tekanan jual, harga tetap mampu bertahan di atas SMA 50 dan support 4.491, yang menunjukkan bahwa struktur bullish jangka pendek masih terjaga.
Dari sisi momentum, RSI masih bergerak di wilayah positif dan belum menunjukkan sinyal pelemahan yang signifikan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa minat beli masih cukup kuat untuk menopang pergerakan harga. Selama harga bertahan di atas support 4.491, peluang kenaikan diperkirakan tetap terbuka dengan target pengujian ulang ke resistance 4.595. Penembusan yang konsisten di atas level tersebut berpotensi membuka ruang penguatan lebih lanjut menuju area resistance berikutnya di 4.637 dan 4.670.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.595 R2 4.637 R3 4.670
S1 4.491 S2 4.453 S3 4.418
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.515 |
| Profit Target Level | 4.590 |
| Stop Loss Level | 4.490 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.595 |
| Profit Target Level | 4.520 |
| Stop Loss Level | 4.640 |
Prospek Harga US Oil Senin | 01 Juni 2025
Pergerakan US Oil sebelumnya mengalami tekanan jual yang cukup kuat hingga turun ke area support 86,50. Namun, penurunan tersebut gagal berlanjut setelah muncul minat beli yang mendorong harga rebound dari area tersebut. Penguatan yang terjadi saat ini membuka peluang bagi harga untuk melanjutkan kenaikan dan menguji resistance terdekat di 92,49.
Meski demikian, tren keseluruhan masih cenderung bearish karena harga masih bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Indikator RSI yang mulai menguat menunjukkan momentum jual mulai berkurang, tetapi selama harga belum mampu menembus resistance 92,49 dan kembali bergerak di atas SMA 50, kenaikan saat ini masih dipandang sebagai koreksi dalam tren turun yang lebih besar. Jika gagal menembus resistance tersebut, harga berpotensi kembali melemah dan menguji zona support 83,21–85,41.
US Oil INTRADAY AREA
R1 92,49 R2 94,66 R3 96,90
S1 85,41 S2 83,21 S3 78,97
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 86,00 |
| Profit Target Level | 90,00 |
| Stop Loss Level | 83,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 92,40 |
| Profit Target Level | 88,10 |
| Stop Loss Level | 94,50 |
Baca analisa sebelumnya: Wall Street Cetak Rekor Meski Inflasi AS Naik
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
