Sikap Hawkish The Fed Dorong Dolar AS Menguat
Sikap hawkish The Fed mendorong Indeks Dolar AS naik ke level 98,90 pada Kamis, meski masih di bawah ambang 100,00. Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan pandangan hawkish soal inflasi. Musalem menyebut inflasi inti masih terlalu tinggi. Ia juga menilai peluang inflasi kembali ke target semakin kecil pada level suku bunga saat ini. Menurutnya, menaikkan suku bunga sekarang bisa menghindarkan The Fed dari tindakan yang lebih agresif di kemudian hari.
Pasar memasuki Jumat yang padat data. Survei PMI awal dari Eropa, Inggris, dan AS akan menjadi sorotan utama. Dolar AS membawa sentimen positif menjelang rilis tersebut. Euro dan Poundsterling bertahan stabil. Lonjakan harga minyak mengangkat mata uang komoditas, termasuk Dolar Kanada. Penguatan dolar terasa lebih kuat terhadap Yen Jepang dibanding mata uang lain.
Pergerakan EUR/USD, GBP/USD, dan USD/JPY
EUR/USD bertahan di kisaran 1,1600-an. Pergerakan cenderung datar karena pelaku pasar menunggu rilis PMI flash Zona Euro. GBP/USD justru menguat dan bertahan di atas level 1,3600, meski dolar lebih kuat. Pasar Inggris punya banyak data penting pada Jumat. USD/JPY naik dan menembus level 159,00. Sikap hawkish The Fed ini menekan Yen Jepang secara khusus.
AUD/USD melemah ke area 0,7100. Data ketenagakerjaan domestik yang lemah memicu pelemahan ini. Pelaku pasar juga menanti rilis PMI flash Australia. Emas bertahan stabil di kisaran $4.520 per troy ounce dan mempertahankan kenaikan sebelumnya.
Obligasi AS Bergejolak di Tengah Kekhawatiran Fiskal
Pasar obligasi menjadi sorotan utama pelaku pasar logam mulia. Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana menaikkan pembelian kembali surat utang jangka panjang, dari $2 miliar menjadi minimal $4 miliar. Pengumuman ini memicu reli obligasi Treasury AS pada Rabu. Imbal hasil pun turun tajam, terutama pada tenor jangka panjang. Untuktenor 30 tahun anjlok 9,1 basis poin dari level tertinggi hampir dua dekade. Imbal hasil tenor 10 tahun turun 5,3 basis poin.
Reli tersebut tidak bertahan lama. Pelaku pasar kembali menjual obligasi pada Kamis. Imbal hasil tenor 30 tahun naik 3,8 basis poin ke 5,232%. Total utang AS yang menembus $40 triliun menjadi pemicu utama. Kekhawatiran fiskal pun kembali meningkat.
Harga Minyak Melonjak Akibat Ancaman Trump ke Iran
Harga minyak WTI melanjutkan penguatan menuju $87,00 per barel. Ketegangan di Timur Tengah menjadi pendorong utama. Harga minyak melompat lebih dari 2% pada Kamis dan mencapai level tertinggi dalam hampir sebulan. Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan membalas negara-negara yang mendukung Iran. Langkah ini menjadi upaya terbarunya untuk mengakhiri perang yang telah menahan jutaan barel minyak Timur Tengah.
Brent settle naik $2,16 atau 2,4% ke $93,78 per barel, level tertinggi sejak 24 Juli. WTI untuk kontrak September naik $2 atau 2,3% ke $87,83 per barel, juga level tertinggi sejak 24 Juli.
Pada Rabu malam, Trump mengancam akan melakukan “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Teheran. Ia memperingatkan konsekuensi bagi negara mana pun yang memberi “segala bentuk jalur hidup” bagi Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan akan mengadakan konferensi pers pada Senin “untuk membahas persis apa yang akan kami lakukan.”
Perang Iran telah menewaskan ribuan orang sejak pecah pada 28 Februari, saat AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Sejak itu, blokade Iran atas Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah mengganggu arus minyak dan gas dunia secara signifikan. Sejumlah pengamat pasar energi menilai ancaman baru ini belum cukup membuat Iran melepas kendali strategis atas selat tersebut, kecuali AS memberi konsesi besar.
Wall Street Tertekan, Bursa Saham AS Melemah
Wall Street melemah pada Kamis. Reli obligasi pemerintah AS yang sempat muncul akibat langkah kejutan Departemen Keuangan pun mereda. Kenaikan harga minyak mingguan turut menekan sentimen pasar, menyusul ancaman Trump terhadap Iran. S&P 500 turun 0,9% ke 7.641,66 poin. Nasdaq Composite melemah 1% ke 26.067,17 poin. Dow Jones Industrial Average tergelincir 1,3% ke 52.762,30 poin. Sikap hawkish The Fed turut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi pelonggaran suku bunga, sehingga saham AS makin tertekan.
Fokus Pasar Hari Ini dan Pekan Depan
Sesi Asia dibuka dengan rilis PMI awal S&P Global Australia. Setelah laporan tenaga kerja yang lemah dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, hasil survei yang lemah bisa menambah tekanan pada Dolar Australia.
Sesi Eropa menjadi sorotan utama. Inggris merilis data Penjualan Ritel Juli lebih dulu, dengan proyeksi penurunan. Setelahnya, PMI flash HCOB Prancis, Jerman, dan Zona Euro menyusul, lalu PMI S&P Global Inggris melengkapi rangkaian data pagi itu. Di sisi lain benua, Kanada merilis data Penjualan Ritel sebelum PMI flash AS, yang menjadi agenda utama kalender ekonomi AS yang relatif sepi.
Setelah Jumat, perhatian pasar beralih ke Simposium Jackson Hole pekan depan. Ketua The Fed baru, Kevin Warsh, akan menyampaikan pidato kunci pertamanya. Pelaku pasar akan mencermati apakah sikap hawkish The Fed ini berlanjut atau mulai melunak menjelang keputusan kebijakan September.
Prospek Harga Emas Jumat | 21 Agustus 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan tren bullish setelah berhasil menembus resistance 4.444 dan bergerak di atas SMA 50. Harga kini berada di sekitar 4.525 dan sedang menguji resistance 4.541, dengan RSI 14 di level 67 yang menunjukkan momentum bullish masih cukup kuat.
Jika mampu menembus 4.541, harga berpeluang melanjutkan kenaikan menuju 4.569 hingga 4.595. Sebaliknya, jika gagal menembus 4.541, harga berpotensi terkoreksi menuju support 4.472, kemudian 4.444.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.541 R2 4.569 R3 4.595
S1 4.572 S2 4.444 S3 4.407
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.475 |
| Profit Target Level | 4.530 |
| Stop Loss Level | 4.440 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.540 |
| Profit Target Level | 4.490 |
| Stop Loss Level | 4.570 |
Prospek Harga US Oil Jumat | 21 Agustus 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan momentum bullish dengan harga berada di atas SMA 50 dan RSI 14 sekitar 62. Harga telah menutup gap di 87,63, namun masih berada di bawah area gap tersebut sehingga level 87,63 kini menjadi resistance penting.
Jika mampu menembus dan bertahan di atas 87,63, peluang kenaikan terbuka menuju 89,19 hingga 90,49, sedangkan kegagalan melewati level tersebut dapat memicu koreksi menuju 84,28 hingga 82,68.
US Oil INTRADAY AREA
R1 87,63 R2 89,19 R3 90,49
S1 84,28 S2 82,68 S3 81,24
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 84,50 |
| Profit Target Level | 87,00 |
| Stop Loss Level | 82,60 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 87,00 |
| Profit Target Level | 85,00 |
| Stop Loss Level | 87,70 |
Baca analisa sebelumnya: Notulen FOMC Dorong Dolar AS Melemah, Emas Meroket
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
