Weekly Review dan Outlook edisi minggu ini menyoroti pergerakan pasar global pada akhir pekan 25 September 2026. Bursa saham dunia ditutup bervariasi. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan harga minyak menjadi dua faktor utama yang mewarnai perdagangan. Investor kini mengalihkan perhatian ke jadwal padat rilis data ekonomi Amerika Serikat pekan depan, termasuk laporan tenaga kerja bulan September.
Wall Street Menguat, Bursa Eropa dan Asia Bergerak Variatif
Wall Street mencatat penguatan pada akhir pekan. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,93% ke level 51.828,62. Indeks S&P 500 juga mencatatkan kenaikan mingguan. Sektor teknologi dan saham berbasis AI seperti Meta mendorong penguatan tersebut.
Bursa Eropa dan sebagian besar bursa Asia justru bergerak beragam cenderung melemah. Kekhawatiran inflasi dan pengetatan kebijakan bank sentral, terutama dari ECB dan The Fed, menekan sentimen pasar. Bursa Jepang menjadi pengecualian. Indeks Nikkei tetap kuat berkat dukungan sektor semikonduktor.
Yield Treasury Sentuh Level Tertinggi Sejak 2007
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh kisaran 5,20%–5,22%. Level ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2007. Ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi menekan pasar obligasi sepanjang pekan.
Investor kini memperhitungkan potensi tambahan kenaikan suku bunga dari bank sentral utama dunia. Tekanan inflasi jangka pendek menjadi pemicu utama ekspektasi tersebut. Aksi jual obligasi yang cukup dalam, khususnya pada instrumen bertenor panjang, turut membebani pasar saham. Yield acuan 10 tahun AS bahkan mencetak level tertinggi sejak Juni 2007, sementara yield 30 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2004.
Pasar obligasi sempat menyambut positif kenaikan suku bunga The Fed pekan lalu. Investor menilai keputusan itu sebagai bukti komitmen bank sentral memerangi inflasi. Namun, komentar hawkish dari para pembuat kebijakan setelah kenaikan tersebut, ditambah data aktivitas bisnis AS yang solid, mendorong naiknya peluang kenaikan suku bunga seperempat poin pada Oktober. CME FedWatch tool mencatat kenaikan peluang tersebut secara signifikan.
Harga Minyak dan Emas Ikut Melemah
Harga minyak dunia turun sekitar 2% hingga 3%. Optimisme meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mendorong penurunan ini. Potensi pembukaan kembali jalur Selat Hormuz juga menambah tekanan pada harga. Minyak WTI berada di kisaran 92,41 dolar AS per barel, sementara Brent diperdagangkan di sekitar 104,32 dolar AS per barel.
Harga emas naik tipis pada perdagangan Jumat. Pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak menopang kenaikan tersebut. Meski begitu, emas tetap mencatat pelemahan mingguan. Penguatan dolar, kekhawatiran inflasi akibat harga energi, repricing hawkish ekspektasi suku bunga The Fed, serta aksi jual obligasi AS yang tak kunjung reda menekan performa bullion sepanjang pekan.
Harga emas spot naik 0,3% ke level 4.285,76 dolar AS per ons pada pukul 16.35 waktu setempat (20.35 GMT). Kontrak berjangka emas naik lebih tinggi, yakni 0,6% ke level 4.321,62 dolar AS per ons. Secara mingguan, emas tetap tercatat melemah sekitar 2%. Harga spot turun 2,1%, sedangkan kontrak berjangka turun 2,3%. Kenaikan yield AS yang tajam dan meningkatnya peluang pengetatan kebijakan The Fed menekan logam mulia ini sepanjang pekan.
WEEK AHEAD
(28 September – 02 Oktober 2026)
Outlook Pekan Depan: Fokus pada Data Tenaga Kerja AS
Weekly Review dan Outlook kali ini juga menyoroti agenda kebijakan yang padat pada pekan depan. Potensi kesepakatan diplomatik atau justru eskalasi serangan antara AS, Iran, dan negara-negara GCC akan tetap menjadi sorotan. Harga energi yang tinggi dan aktivitas ekonomi yang tangguh telah mendorong yield obligasi global ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Amerika: Non-Farm Payrolls Jadi Sorotan Utama
Dalam Weekly Review dan Outlook, kalender ekonomi AS pekan depan sangat padat. Serangkaian data pasar tenaga kerja dan inflasi akan memberi petunjuk baru soal arah kebijakan suku bunga The Fed. Sejumlah pejabat The Fed juga dijadwalkan memberikan pidato, sementara laporan kinerja Micron Technology dan Nike akan turut dipantau pelaku pasar.
Laporan non-farm payrolls pada Jumat menjadi perhatian utama. Ekonomi AS diperkirakan menambah 100.000 lapangan kerja pada September, turun dari 162.000 pada Agustus. Tingkat pengangguran diperkirakan naik ke 4,2% dari 4,1%. Data JOLTS yang dirilis lebih awal diproyeksikan menunjukkan lowongan kerja turun ke 7,23 juta pada Agustus dari 7,27 juta pada Juli. Laporan ADP diperkirakan mencatat penambahan 70.000 lapangan kerja sektor swasta pada September.
Di luar data ketenagakerjaan, investor akan mencermati laporan pendapatan dan pengeluaran personal serta ISM manufacturing PMI. Belanja personal diproyeksikan naik 0,8% pada Agustus, jauh lebih cepat dibanding 0,2% pada Juli. Pertumbuhan pendapatan diperkirakan tetap di 0,4%. Indeks harga PCE diproyeksikan naik 0,4% secara bulanan, dengan indeks inti naik 0,3%; keduanya mempercepat laju dari 0,2% pada Juli. ISM manufacturing PMI juga diperkirakan menunjukkan penguatan aktivitas pada September.
Rilis data AS lainnya mencakup pesanan pabrik, neraca perdagangan barang sementara, inventori grosir, indeks harga rumah Case-Shiller, keyakinan konsumen, indeks manufaktur Dallas Fed, Chicago PMI, dan angka final PDB kuartal kedua. Di kawasan Amerika lainnya, pasar akan memantau data PDB bulanan Kanada, keyakinan bisnis dan neraca perdagangan Meksiko, tingkat pengangguran dan produksi industri Brasil, serta PMI manufaktur S&P Global di kawasan tersebut. Pemilihan umum Brasil pada 4 Oktober juga tetap menjadi sorotan pasar. Persaingan antara Presiden petahana Lula da Silva dan Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, berlangsung ketat.
Eropa: Inflasi Zona Euro Diperkirakan Melonjak
Investor akan fokus pada data inflasi kilat dari sejumlah ekonomi utama, termasuk Zona Euro, Jerman, Italia, Prancis, dan Spanyol. Inflasi tahunan Zona Euro diperkirakan naik ke 3,5%, level tertinggi sejak September 2023. Inflasi inti diproyeksikan mencapai 2,6%, menyamai level tertinggi 13 bulan pada Mei.
PMI manufaktur Italia dan Spanyol diperkirakan menunjukkan stabilisasi sektor manufaktur. Pertumbuhan manufaktur Swiss diproyeksikan melambat namun tetap kuat. Tingkat pengangguran Zona Euro diperkirakan bertahan di 6,4% untuk bulan ketiga berturut-turut. Tingkat pengangguran Jerman juga diperkirakan tetap di 6,4%, level tertinggi sejak 2020.
Rilis data lain yang perlu dicermati mencakup survei bisnis Zona Euro, penjualan ritel Jerman, serta angka pengangguran Prancis, Italia, dan Spanyol. Di Inggris, investor akan memantau angka final pertumbuhan PDB dan investasi bisnis kuartal kedua, harga rumah, serta data hipotek Bank of England. Inflasi Swiss dan indikator utama KOF, ditambah tingkat pengangguran dan neraca perdagangan Turki, juga akan menjadi perhatian.
Asia Pasifik: RBA Diperkirakan Naikkan Suku Bunga
Di China, investor akan mencermati PMI September. Data dari NBS dan RatingDog diperkirakan menunjukkan perbaikan tipis pada aktivitas manufaktur dan jasa. Laba industri Agustus juga akan dirilis. Pasar China akan tutup sejak 1 hingga 7 Oktober untuk libur Hari Nasional.
Di Jepang, investor akan mencermati Summary of Opinions Bank of Japan dari pertemuan September. Dua anggota dewan sempat berbeda pendapat soal keputusan suku bunga acuan. Produksi industri diperkirakan pulih 1,7% pada Agustus. Pertumbuhan penjualan ritel tahunan diproyeksikan melambat ke 3,3%. Survei Tankan juga akan dirilis, dengan indeks outlook manufaktur besar diperkirakan naik ke 22. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 2,4%. Inflasi inti Tokyo diperkirakan mempercepat laju ke 2,4% dari 1,8%.
Reserve Bank of Australia diperkirakan luas menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 4,60% pekan depan. Pasar tenaga kerja yang tangguh, pertumbuhan PDB yang solid, dan inflasi yang tinggi mendukung ekspektasi ini. Australia juga akan merilis data inflasi Agustus. Rilis lain mencakup izin pembangunan awal yang diperkirakan turun 0,9% secara bulanan, kredit sektor swasta yang diproyeksikan naik 0,5% dengan laju sedikit melambat, serta data perdagangan yang diperkirakan menunjukkan surplus yang sedikit melebar.
Data Mingguan Perdagangan Emas (21 – 25 September 2026)
Open : 4.376,29 High : 4.383,27 Low : 4.244,34 Close : 4.287,48 Range : 138,93
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.227 | R1 4.366 |
| S2 4.166 | R2 4.444 |
| S3 4.088 | R3 4.505 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (21 – 25 September 2026)
Open : 96,86 High : 96,96 Low : 88,66 Close : 92,62 Range : 8,30
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 88,53 | R1 96,83 |
| S2 84,45 | R2 101,05 |
| S3 80,23 | R3 105,13 |
Oil Outlook : Bearish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 21 – 25 September 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Dari sisi teknikal, Trading Central melihat adanya potensi rebound pada peluang trading GBP/USD di time frame H4, dengan level pivot di 1.3214. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang rebound masih terbuka dengan target resistance di 1.3265, kemudian 1.3278, hingga 1.3291.
Pergerakan emas pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish, dengan harga bergerak di bawah SMA 50 dan membentuk pola lower high di bawah garis tren menurun. RSI 14 berada di level 39,23, menunjukkan momentum jual masih dominan meskipun mulai mendekati area oversold.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 menunjukkan upaya pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan bearish, dengan harga kembali bergerak di sekitar SMA 50. RSI 14 berada di level 52,78, menunjukkan momentum mulai kembali positif dan memberikan ruang bagi US Oil untuk melanjutkan kenaikan.
Dari sisi teknikal, Trading Central melihat pergerakan USD/CHF pada time frame H4 masih cenderung bullish dengan level pivot di 0.8248. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka menuju resistance 0.8301, kemudian 0.8311, hingga 0.8322.
Pergerakan emas pada grafik H4 kembali melemah setelah gagal bertahan di area 4.342 dan kini bergerak di bawah SMA 50. RSI 38,48 juga menunjukkan tekanan bearish masih dominan, sehingga harga berpotensi menguji support 4.251 dan 4.223.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal bertahan di atas SMA 50 dan kini bergerak di bawah area 93,81. RSI 46,60 menunjukkan momentum masih cenderung lemah, meski harga sedang mengalami rebound.
Dari sisi teknikal, Trading Central melihat pergerakan GBP/JPY masih menunjukkan potensi bearish dengan level pivot di 210,495. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan turun masih berpeluang berlanjut menuju support 209,027, kemudian 208,643 hingga 208,259.
Pergerakan emas pada grafik H4 masih berada dalam fase konsolidasi, namun cenderung bullish setelah harga bergerak di atas SMA 50. RSI 14 juga berada di atas level 50, menunjukkan momentum beli mulai menguat. Kondisi ini membuka peluang bagi XAU/USD untuk menguji resistance di 4.400.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish setelah harga menembus ke bawah SMA 50. RSI 14 berada di level 32,20, yang menunjukkan momentum jual masih dominan dan harga mulai mendekati area oversold. Selama harga bertahan di bawah SMA 50, US Oil berpeluang melanjutkan penurunan menuju support 88,68 dan 85,89. Jika tekanan jual semakin kuat, level 83,40 menjadi support berikutnya yang perlu diperhatikan.
Dari sisi teknikal, Trading Central melihat XAU/USD masih berada dalam tren bearish pada time frame H4. Level pivot berada di 67,21. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual masih berpotensi berlanjut. Harga berpeluang menguji support di 64,59, kemudian 63,91 dan 63,24.
Pergerakan emas pada time frame H4 mulai menunjukkan bias bullish setelah harga berhasil bergerak dan bertahan di atas SMA 50, meskipun kenaikan masih menghadapi tekanan dari trendline turun yang terbentuk sejak akhir Agustus. Harga saat ini berada di sekitar 4.363, dengan RSI 14 di level 53,45 yang menunjukkan momentum positif namun masih dalam zona netral. Area 4.400 menjadi resistance penting karena berdekatan dengan trendline turun. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan dapat berlanjut menuju 4.435, kemudian 4.460.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 saat ini menunjukkan bias bearish, setelah harga gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali bergerak di bawah SMA 50. Penurunan dari area puncak sekitar 106,50 telah membawa harga ke sekitar 92,05, sehingga struktur jangka pendek mulai membentuk tekanan turun dengan area 94,62 sebagai resistance terdekat. Jika harga mampu kembali menembus 94,62, ruang rebound terbuka menuju 96,96, sedangkan level 100,49 menjadi resistance berikutnya yang cukup kuat.
Dari sisi teknikal, Trading Central melihat peluang trading USD/JPY masih cenderung bearish pada time frame H4. Level pivot berada di 157,58. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual masih berpeluang berlanjut dengan target support di 156,62, 156,37, dan 156,12.
