Weekly Review dan Outlook 29 Juni – 03 Juli 2026 menunjukkan pasar keuangan global ditutup bervariasi pada pekan lalu. Aksi ambil untung di sektor teknologi, terutama saham kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, memicu tekanan pada indeks saham utama Amerika Serikat. Sementara itu, inflasi yang masih tinggi membuat pelaku pasar terus menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed). Di sisi lain, volatilitas harga minyak dan pelemahan harga emas juga menjadi perhatian utama investor menjelang memasuki pekan perdagangan baru.
Market Review: Saham AS Tertekan oleh Aksi Jual Sektor Teknologi
Wall Street mengakhiri pekan dengan kinerja yang beragam. Indeks S&P 500 turun sekitar 1,9% selama sepekan, sedangkan Nasdaq Composite kehilangan sekitar 4,3% akibat aksi ambil untung besar-besaran pada saham teknologi dan produsen chip. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average masih mampu menguat sekitar 0,7% karena investor melakukan rotasi ke saham-saham defensif.
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor yang mencatat penurunan mingguan terdalam sejak Maret 2025. Setelah reli panjang sepanjang tahun, investor memilih merealisasikan keuntungan di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai prospek suku bunga.
Saham Apple juga menjadi salah satu pemberat pasar setelah turun lebih dari 5% dalam sepekan. Pelemahan tersebut terjadi setelah perusahaan mengumumkan kenaikan harga produk Mac dan iPad akibat meningkatnya biaya komponen memori dan perangkat keras. Sebaliknya, saham Corning melonjak hampir 9% setelah memperoleh kontrak bernilai miliaran dolar untuk penyediaan serat optik bagi Amazon.
Sementara itu, bursa saham Eropa masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Beberapa indeks bahkan sempat mencetak rekor tertinggi baru pada awal pekan sebelum akhirnya ikut terpengaruh oleh aksi jual di sektor teknologi global.
Dolar AS Melemah, Namun Masih Menguat Secara Mingguan
Indeks dolar AS ditutup melemah selama dua sesi berturut-turut hingga berada di kisaran 101,1 pada akhir pekan. Pelemahan ini muncul setelah laporan inflasi PCE Amerika Serikat sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga investor sedikit mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga Fed tahun ini.
Meski demikian, dolar AS masih mencatat kenaikan sekitar 0,3% sepanjang pekan. Penguatan tersebut didukung oleh sikap Federal Reserve yang tetap hawkish.
Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, kembali menegaskan bahwa bank sentral tetap berkomitmen menurunkan inflasi menuju target. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan menghadapi tekanan politik untuk segera memangkas suku bunga. Selain itu, Fed juga menaikkan proyeksi inflasi PCE sepanjang 2026.
Data inflasi PCE menunjukkan kenaikan sebesar 4,1% secara tahunan pada Mei. Angka tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi masih bertahan sehingga pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pertama pada September mencapai sekitar 62%, dengan total tiga kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun masih menjadi skenario utama.
Harga Emas dan Minyak Bergerak Volatil
Harga emas melemah hingga diperdagangkan di sekitar US$4.000 per ons. Penguatan dolar AS sepanjang sebagian besar pekan serta ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di pasar energi, harga minyak mentah bergerak sangat fluktuatif. Harga WTI sempat turun di bawah US$70 per barel setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda menyusul kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun menjelang penutupan pekan, serangan baru di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak sehingga mampu memangkas sebagian pelemahan harga.
Di pasar valuta asing, yen Jepang tetap berada di bawah tekanan meskipun Bank of Japan telah memperketat kebijakan moneternya. Kuatnya dolar AS membuat mata uang Jepang bertahan di dekat level terendah dalam hampir empat dekade.
Data Ekonomi AS Berikan Gambaran Beragam
Dari sisi fundamental, perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Estimasi final pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama direvisi naik menjadi 2,1% secara tahunan dari sebelumnya 1,6%.
Aktivitas bisnis juga terus berkembang. Indeks PMI Manufaktur S&P Global naik menjadi 55,7, sedangkan PMI Jasa meningkat menjadi 51,3. Kedua data tersebut melampaui perkiraan ekonom dan menunjukkan aktivitas ekonomi masih cukup solid.
Di sisi lain, inflasi yang tetap tinggi membuat investor belum sepenuhnya yakin bahwa siklus pengetatan kebijakan moneter telah berakhir.
WEEK AHEAD
(29 Juni – 03 Juli 2026)
Outlook Pasar 29 Juni – 03 Juli 2026
Weekly Review dan Outlook 29 Juni – 03 Juli 2026 memasuki pekan baru dengan perhatian investor yang masih tertuju pada perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya arus kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Kelancaran distribusi minyak akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga energi dan ekspektasi inflasi global.
Amerika
Di Amerika Serikat, perhatian terbesar akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan Juni yang dijadwalkan rilis Kamis. Konsensus memperkirakan ekonomi AS menambah sekitar 114 ribu lapangan kerja baru dengan tingkat pengangguran tetap berada di 4,3%, sementara pertumbuhan upah diperkirakan bertahan di 0,3% secara bulanan.
Sebelum laporan tersebut dirilis, pasar juga akan mencermati data JOLTS Job Openings, laporan tenaga kerja ADP, serta Challenger Job Cuts untuk memperoleh gambaran kondisi pasar tenaga kerja.
Selain itu, investor akan memantau data ISM Manufacturing PMI, factory orders, indeks harga rumah S&P/Case-Shiller, serta Consumer Confidence dari Conference Board. Bursa saham Amerika akan tutup pada Jumat untuk memperingati Hari Kemerdekaan AS.
Eropa
Di kawasan Eropa, fokus utama pasar akan tertuju pada data inflasi dari Zona Euro, Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol.
Inflasi tahunan Zona Euro diperkirakan turun menjadi 3,0% dari sebelumnya 3,2% berkat penurunan harga energi. Namun inflasi inti diproyeksikan tetap berada di level 2,6%, menunjukkan tekanan harga inti masih cukup kuat.
Selain data inflasi, perhatian investor juga akan tertuju pada ECB Forum on Central Banking di Sintra yang berlangsung pada 29 Juni hingga 1 Juli. Forum tersebut akan menghadirkan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, Presiden ECB Christine Lagarde, Gubernur Bank of England Andrew Bailey, serta sejumlah pejabat bank sentral lainnya. Pasar akan mencermati setiap komentar mereka untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter global pada paruh kedua tahun ini.
Investor juga akan memantau data pengangguran, penjualan ritel Jerman, produksi industri Prancis, survei sentimen bisnis Zona Euro, serta sejumlah indikator ekonomi Swiss.
Asia
Di kawasan Asia, perhatian investor akan tertuju pada rilis PMI manufaktur dan jasa resmi China serta survei sektor swasta. Kedua indikator tersebut diperkirakan masih menunjukkan aktivitas ekonomi yang mendekati stagnasi sehingga akan menjadi petunjuk penting mengenai kekuatan pemulihan ekonomi terbesar kedua di dunia.
Jepang akan merilis survei Tankan yang diperkirakan menunjukkan sedikit pelemahan kepercayaan dunia usaha pada kuartal kedua. Selain itu, pasar juga akan memantau data produksi industri, penjualan ritel, tingkat pengangguran, serta pembangunan rumah baru.
Sementara itu, Australia akan merilis notulen rapat kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA), data perdagangan, harga komoditas, perizinan pembangunan, dan indeks aktivitas industri. Di India, perhatian akan tertuju pada data produksi industri serta laporan anggaran pemerintah.
Dengan rangkaian data ekonomi tersebut, pasar diperkirakan tetap bergerak volatil sepanjang pekan. Laporan tenaga kerja Amerika Serikat, perkembangan inflasi di Eropa, serta kondisi ekonomi China berpotensi menjadi penentu utama arah pergerakan dolar AS, harga emas, minyak mentah, dan pasar saham global.
Data Mingguan Perdagangan Emas (22 – 26 Juni 2026)
Open : 4.141,54 High : 4.220,81 Low : 3.959,11 Close : 4.071,97 Range : 261,70
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 3.947 | R1 4.209 |
| S2 3.822 | R2 4.346 |
| S3 3.685 | R3 4.470 |
Gold Outlook : Bearish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (22 – 26 Juni 2026)
Open : 78.00 High : 78.07 Low : 68.51 Close : 69.50 Range : 9.56
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 65.98 | R1 75,54 |
| S2 62,47 | R2 81,59 |
| S3 56,42 | R3 85,10 |
Oil Outlook : Bearish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 22 – 26 Juni 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa US Oil masih berpotensi melanjutkan tren bearish pada time frame H4, dengan pivot berada di level 70,90. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi, dengan target penurunan menuju support terdekat di 68,60. Jika level support tersebut berhasil ditembus, penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji area support berikutnya di 67,50 hingga 66,50.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish karena harga masih bergerak di bawah garis SMA 50 dan membentuk pola lower high serta lower low. Meski terjadi rebound dari area support, kenaikan diperkirakan masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus resistance di kisaran 4.121 hingga 4.199.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang tetap berada di bawah garis moving average serta struktur lower high dan lower low yang masih terjaga. Meski terdapat potensi rebound jangka pendek dari area support, kenaikan diperkirakan masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus resistance di kisaran 72,80 hingga 75,16.
Dari sisi teknal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish dengan level pivot di 4.020. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan target support terdekat di 3.940. Jika level ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju 3.900 hingga 3.820.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish yang kuat, terlihat dari harga yang terus bergerak di bawah SMA 50 serta membentuk rangkaian lower high dan lower low. Setelah gagal bertahan di area 4.050, tekanan jual kembali meningkat dan mendorong harga turun mendekati support penting di 3.929. Meskipun indikator RSI menunjukkan kondisi yang sudah berada di area oversold dan membentuk potensi bullish divergence, sinyal tersebut sejauh ini baru mengindikasikan peluang koreksi terbatas, bukan perubahan tren utama.
Dari sisi teknikal, Trading Central menilai pergerakan AUD/USD pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish dengan level pivot di 0.6940. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, peluang penurunan masih terbuka dengan target support terdekat di 0.6880. Jika support ini berhasil ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju area support berikutnya di 0.6860 dan 0.6840.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari harga yang bergerak di bawah SMA 50 dan masih berada di bawah garis tren turun yang membatasi pergerakan sejak awal Mei. Setelah gagal mempertahankan kenaikan di area 4.145, harga kembali melemah dan bergerak di bawah level 4.100, sehingga tekanan jual masih mendominasi dalam jangka pendek. Selama harga bertahan di bawah resistance 4.145, potensi penurunan masih terbuka menuju support 4.072, kemudian 4.052, dan selanjutnya 4.024.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 dan terus membentuk lower high serta lower low. Setelah gagal melanjutkan kenaikan dari resistance 78,49, harga kembali tertekan dan kini menguji support penting di area 72,80. Area ini menjadi level kunci yang akan menentukan arah pergerakan berikutnya.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa GBP/USD masih bergerak dalam tren bearish pada time frame H4 dengan level pivot di 1.3275. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual masih berpotensi berlanjut dengan target support terdekat di 1.3200. Jika level ini berhasil ditembus, penurunan selanjutnya berpeluang mengarah ke area support 1.3160 hingga 1.3125.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di area resistance 4.278. Tekanan jual kemudian mendorong harga menembus support 4.218 dan turun hingga membentuk support baru di kisaran 4.118. Dari area tersebut, harga sempat melakukan rebound, namun kenaikan masih tertahan di resistance 4.218 yang kini menjadi resistance terdekat sekaligus berdekatan dengan SMA 50.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Setelah membentuk support di area 72,80, harga sempat mengalami rebound, namun kenaikan tersebut masih terbatas dan belum mampu menembus resistance 78,49 yang kini menjadi hambatan terdekat.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan silver pada time frame H4 masih berada dalam tren bullish dengan level pivot di 65,00. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka menuju resistance terdekat di 67,00. Jika berhasil menembus area tersebut, silver berpotensi melanjutkan penguatan untuk menguji resistance berikutnya di 68,50 hingga 69,80.
