Wall Street tertekan pada perdagangan Selasa setelah data inflasi Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan pasar. Kenaikan harga minyak akibat konflik Iran juga mendorong dolar AS dan imbal hasil obligasi global naik, sehingga menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Inflasi AS Sentuh Level Tertinggi Sejak 2023
Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan Amerika Serikat naik menjadi 3,8% pada April, level tertinggi sejak Mei 2023. Angka tersebut lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar sebesar 3,7% dan meningkat dari 3,3% pada Maret. Inflasi inti atau core CPI juga naik ke 2,8%, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir dan melampaui perkiraan pasar sebesar 2,7%.
Kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan harga energi setelah konflik Iran mengganggu pasokan minyak global. Harga bensin melonjak tajam sehingga biaya transportasi dan logistik ikut meningkat. Kondisi ini memperbesar peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam kondisi kritis. Trump menilai respons Iran terhadap proposal perdamaian AS menunjukkan kedua pihak masih memiliki perbedaan besar.
Harga Minyak Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah
Harga minyak dunia kembali naik untuk hari ketiga berturut-turut. Minyak mentah AS ditutup menguat 4,19% ke US$102,18 per barel, sementara Brent naik 3,42% menjadi US$107,77 per barel.
Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global. Investor juga mulai memperhitungkan dampak lanjutan terhadap biaya produksi dan konsumsi rumah tangga dalam beberapa bulan mendatang.
Natixis Investment Managers Solutions menilai China kemungkinan tetap menjaga jarak dari konflik Iran dan tidak ingin terlibat lebih jauh dalam upaya penyelesaian perang tersebut. Trump juga menegaskan dirinya tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri konflik.
Wall Street Tertekan oleh Saham Teknologi
Wall Street tertekan setelah investor melepas saham teknologi dan semikonduktor. Dow Jones masih naik tipis 0,11% ke 49.760,56. Namun S&P 500 turun 0,16% menjadi 7.400,96 dan Nasdaq melemah 0,71% ke 26.088,20.
Indeks semikonduktor PHLX anjlok sekitar 3% setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru. Pelemahan sektor teknologi di Korea Selatan juga memperburuk sentimen pasar global.
Indeks KOSPI di Seoul turun 2,3% setelah sebelumnya sempat mendekati level tertinggi sepanjang masa. Pelemahan muncul setelah penasihat kebijakan presiden Korea Selatan, Kim Yong-beom, mengusulkan konsep “dividen warga” untuk mendistribusikan keuntungan era kecerdasan buatan kepada masyarakat.
Imbal Hasil Obligasi dan Dolar AS Menguat
Kenaikan inflasi mendorong yield obligasi pemerintah AS naik di seluruh tenor. Yield obligasi AS tenor 10 tahun naik ke 4,461%, sedangkan tenor 30 tahun mencapai 5,0253%. Yield obligasi tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve juga naik menjadi 3,989%. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar semakin yakin The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Di Inggris, tekanan politik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer ikut memicu kenaikan yield obligasi pemerintah Inggris. Starmer menolak tuntutan mundur setelah Partai Buruh mengalami kekalahan besar dalam pemilu lokal.
Dolar AS juga menguat untuk hari kedua berturut-turut. Indeks dolar AS naik 0,35% ke 98,31, sementara euro turun 0,38% ke US$1,1737.
Harga Emas Melemah
Harga emas bergerak turun karena investor mulai mengantisipasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Penguatan dolar AS juga mengurangi daya tarik logam mulia. Harga emas spot turun 0,43% ke US$4.713,93 per ons. Sementara itu, emas berjangka AS melemah 0,4% ke US$4.700 per ons.
Wall Street tertekan akibat kombinasi inflasi tinggi, lonjakan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi pasar keuangan global.
Prospek Harga Emas Rabu | 13 Mei 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish setelah berhasil rebound dan bertahan di atas area support 4.660, sekaligus bergerak di atas SMA 50. RSI yang berada di sekitar level 55 juga mengindikasikan momentum kenaikan masih cukup terjaga.
Selama harga mampu bertahan di atas 4.660 hingga 4.618, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance 4.770, kemudian 4.833, hingga 4.890. Namun, jika harga kembali turun dan menembus 4.618, maka potensi koreksi dapat berlanjut menuju support berikutnya di 4.560.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.770 R2 4.833 R3 4.890
S1 4.660 S2 4.618 S3 4.560
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.690 |
| Profit Target Level | 4.760 |
| Stop Loss Level | 4.650 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.770 |
| Profit Target Level | 4.700 |
| Stop Loss Level | 4.810 |
Prospek Harga US Oil Rabu | 13 Mei 2025
Pergerakan US Oil di time frame H4 sebelumnya sempat menguat setelah breakout di atas SMA 50 dan resistance 99,13, bahkan mencetak high baru di sekitar 102,62. Namun pada pembukaan market hari ini, harga langsung dibuka gap down dan kembali bergerak di bawah SMA 50 serta menembus up trend line yang sebelumnya menopang kenaikan.
RSI juga mulai bergerak turun ke area netral di sekitar level 47 yang menunjukkan momentum bullish mulai melemah. Selama harga masih tertahan di bawah area gap 99,13–101,00, potensi koreksi masih terbuka menuju support 96,07 hingga 93,78.
US Oil INTRADAY AREA
R1 99,13 R2 100,50 R3 102,62
S1 96,07 S2 93,78 S3 89,76
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 96,10 |
| Profit Target Level | 99,00 |
| Stop Loss Level | 93,70 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 99,00 |
| Profit Target Level | 96,10 |
| Stop Loss Level | 100,70 |
Baca analisa sebelumnya: Wall Street Cetak Rekor di Tengah Ketegangan AS-Iran
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
