The Fed isyaratkan kenaikan suku bunga pada akhir tahun setelah mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan terbaru. Sinyal tersebut mendorong aksi jual di pasar saham Amerika Serikat, mengangkat dolar AS, dan menekan harga emas.
Indeks S&P 500 turun 1,2% ke level 7.420,72. Nasdaq Composite melemah 1,4% menjadi 26.021,66, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1% ke level 51.493,16. Sebelumnya, pasar sempat bergerak positif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan optimisme terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan
Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga federal funds rate di kisaran 3,50%-3,75%, sesuai ekspektasi pasar. Keputusan tersebut menjadi rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.
Meski tidak mengubah suku bunga, proyeksi terbaru The Fed menunjukkan arah kebijakan yang lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Dalam pembaruan Summary of Economic Projections (SEP), para pembuat kebijakan memperkirakan suku bunga berada di level 3,8% pada akhir tahun, lebih tinggi dibandingkan proyeksi 3,4% pada Maret lalu.
Proyeksi tersebut mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam beberapa bulan mendatang. Sebanyak sembilan dari 18 anggota FOMC kini memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini, berbanding jauh dengan proyeksi sebelumnya yang mengarah pada pemangkasan suku bunga.
Kevin Warsh Siapkan Perubahan Besar di The Fed
The Fed isyaratkan kenaikan suku bunga bersamaan dengan dimulainya sejumlah reformasi yang diperkenalkan Kevin Warsh. Dalam konferensi pers pertamanya sebagai ketua bank sentral, Warsh mengumumkan pembentukan lima kelompok kerja yang akan meninjau berbagai aspek kebijakan moneter.
Kelompok kerja tersebut akan fokus pada komunikasi bank sentral, kebijakan neraca, penggunaan data ekonomi, produktivitas dan lapangan kerja, serta kerangka pengendalian inflasi.
Warsh menegaskan bahwa evaluasi tersebut tidak mencakup perubahan target inflasi 2% yang selama ini menjadi acuan utama The Fed. Ia juga menyatakan bahwa pasar keuangan akan bekerja lebih efektif jika bereaksi terhadap data ekonomi yang masuk dibandingkan hanya menebak arah kebijakan bank sentral.
Menurut Warsh, harga aset di pasar keuangan merupakan sumber informasi penting bagi pembuat kebijakan. Karena itu, The Fed ingin menciptakan pendekatan yang lebih fleksibel dan berbasis data dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Dolar AS Menguat dan Yield Obligasi Melonjak
Sikap hawkish The Fed langsung mendorong penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama. Euro melemah 0,5% ke level US$1,1553, sementara dolar AS bertahan di sekitar 160,43 yen terhadap mata uang Jepang.
Di pasar obligasi, investor melepas surat utang pemerintah AS sehingga mendorong kenaikan imbal hasil. Yield obligasi tenor dua tahun melonjak 17 basis poin menjadi 4,216%, sedangkan yield obligasi tenor 10 tahun naik tujuh basis poin ke level 4,494%.
Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama untuk mengendalikan inflasi.
Data Penjualan Ritel AS Lampaui Perkiraan
Sebelum pengumuman kebijakan The Fed, pasar menerima data ekonomi yang cukup kuat dari sektor konsumsi. Biro Sensus Amerika Serikat melaporkan penjualan ritel naik 0,9% secara bulanan pada Mei.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,5%. Data ini menunjukkan bahwa belanja konsumen masih solid dan ekonomi AS tetap menunjukkan ketahanan meskipun biaya pinjaman masih relatif tinggi.
Trump Masih Optimistis Soal Kesepakatan Damai Iran
Di sisi geopolitik, perhatian investor tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Donald Trump mengatakan bahwa kedua negara dijadwalkan menandatangani memorandum of understanding (MoU) pada Jumat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Namun, Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum sepenuhnya final. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat kembali mengambil tindakan militer jika Iran tidak memenuhi komitmennya.
Meski demikian, Trump tetap yakin proses penandatanganan akan berjalan sesuai rencana. Ia menyebut kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri konflik, membuka kembali Selat Hormuz, dan memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup gencatan senjata permanen, pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran, pembukaan kembali jalur perdagangan energi, serta dimulainya negosiasi terkait program nuklir Teheran.
Harga Emas Tertekan Setelah Keputusan The Fed
The Fed isyaratkan kenaikan suku bunga juga memberikan tekanan pada pasar logam mulia. Harga emas yang sebelumnya menguat berbalik turun setelah investor mencerna prospek suku bunga yang lebih tinggi.
Harga emas spot melemah 1,7% ke US$4.258,21 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas turun sekitar 1,8% ke level US$4.277,30 per troy ounce.
Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen pendapatan tetap.
Secara keseluruhan, pasar keuangan global kini fokus pada langkah berikutnya dari The Fed. Jika tekanan inflasi tetap tinggi dan data ekonomi terus menunjukkan ketahanan, peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun berpotensi semakin besar.
Trump Kembali Ingatkan Risiko Konflik
Pasar minyak juga menjadi sorotan setelah perkembangan terbaru terkait negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak sempat mendapat dukungan setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran apabila tidak puas dengan isi kesepakatan yang sedang dibahas.
Namun, sentimen tersebut tidak bertahan lama. Investor lebih fokus pada potensi normalisasi pasokan energi global apabila kesepakatan damai berhasil ditandatangani. Selain itu, rencana pembukaan kembali Selat Hormuz juga berpotensi mengurangi risiko gangguan distribusi minyak dunia.
Potensi Kenaikan Pasokan Tekan Harga Minyak
Kontrak Brent untuk pengiriman Agustus tercatat turun 0,2% ke US$78,83 per barel. Harga tersebut berada di bawah level US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret. Penurunan harga minyak dalam beberapa hari terakhir turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang sebelumnya meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
Sejumlah laporan media juga menyebutkan bahwa rancangan kesepakatan antara AS dan Iran mencakup pelonggaran pembatasan ekspor minyak Iran segera setelah penandatanganan perjanjian. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan pasokan minyak global dan menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak dalam jangka pendek.
Prospek Harga Emas Kamis | 18 Juni 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan bahwa harga sempat menembus resistance 4.306 dan melanjutkan kenaikan hingga menembus resistance 4.364, bahkan mencetak puncak baru di sekitar 4.380. Namun, kegagalan harga untuk bertahan di atas area tersebut memicu aksi ambil untung yang cukup agresif sehingga harga berbalik turun dan menghapus sebagian besar kenaikan sebelumnya. Koreksi tersebut akhirnya membawa harga menutup gap yang berada di sekitar area 4.235.
Saat ini area 4.306 yang sebelumnya berhasil ditembus telah kembali menjadi resistance terdekat, sementara 4.364 menjadi resistance berikutnya yang sekaligus berdekatan dengan trendline bearish jangka menengah. Selama harga masih bergerak di bawah 4.306, tekanan bearish jangka pendek masih berpotensi berlanjut dengan support terdekat berada di 4.235. Jika level 4.235 ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju 4.170 dan kemudian 4.118. Sebaliknya, jika harga mampu bertahan di atas 4.235 dan kembali menembus 4.306, peluang rebound akan terbuka untuk menguji kembali resistance 4.364 hingga area puncak sebelumnya di sekitar 4.380.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.306 R2 4.364 R3 4.423
S1 4.235 S2 4.170 S3 4.118
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.235 |
| Profit Target Level | 4.300 |
| Stop Loss Level | 4.200 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.305 |
| Profit Target Level | 4.325 |
| Stop Loss Level | 4.365 |
Prospek Harga US Oil Kamis | 18 Juni 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish. Setelah sempat mengalami rebound dari area support 73,22–74,77, harga berhasil naik menguji resistance 78,49. Namun, kenaikan tersebut tidak mampu dipertahankan dan kembali memicu tekanan jual, menandakan bahwa minat beli masih relatif lemah di tengah dominasi tren turun yang lebih besar.
Kegagalan bertahan di atas resistance 78,49 memperkuat status level tersebut sebagai resistance utama jangka pendek. Saat ini harga kembali turun dan menguji area support 73,22–74,77 yang menjadi zona penting bagi pergerakan selanjutnya. Jika area support ini ditembus secara meyakinkan, tekanan bearish berpotensi berlanjut menuju support berikutnya di 70,40. Sebaliknya, apabila support 73,22–74,77 mampu menahan tekanan jual, harga berpeluang kembali melakukan rebound untuk menguji resistance 78,49, sebelum mencoba melanjutkan pemulihan ke area resistance yang lebih tinggi di 81,63. RSI yang masih berada di dekat area oversold juga menunjukkan bahwa peluang rebound teknikal tetap ada, meskipun konfirmasi penguatan baru akan terlihat jika harga mampu kembali bergerak di atas resistance terdekat.
US Oil INTRADAY AREA
R1 78,49 R2 81,63 R3 83,60
S1 74,77 S2 73,22 S3 70,40
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 74,90 |
| Profit Target Level | 78,00 |
| Stop Loss Level | 73,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 78,45 |
| Profit Target Level | 75,00 |
| Stop Loss Level | 80,40 |
Baca analisa sebelumnya: Wall Street Berakhir Variatif, Pasar Tunggu The Fed
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
