Dolar AS Menguat di Tengah Ekspektasi Kebijakan The Fed
Dolar AS menguat sepanjang pekan lalu meskipun sempat melemah pada perdagangan Jumat. Mata uang AS mencatat kenaikan mingguan setelah sebelumnya menguat selama enam hari berturut-turut hingga mencapai level tertinggi sejak Mei 2025.
Indeks Dolar AS (DXY) memang turun tipis sekitar 0,1% ke level 101,32 pada akhir perdagangan Jumat. Namun, secara mingguan indeks tersebut masih naik sekitar 0,5%. Penguatan tersebut didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve masih memiliki peluang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi tetap tinggi. Dolar AS menguat juga didukung oleh keyakinan investor bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat dalam beberapa waktu ke depan.
Inflasi PCE Masih Tinggi, Peluang Kenaikan Suku Bunga Bergeser
Fokus pasar pekan lalu tertuju pada rilis indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) inti Amerika Serikat, yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve. Data menunjukkan inflasi inti PCE bulan Mei naik sesuai ekspektasi pasar, baik secara bulanan maupun tahunan.
Secara tahunan, inflasi inti meningkat 3,4%, menjadi level tertinggi sejak Oktober 2023. Sementara itu, inflasi PCE utama juga naik sesuai perkiraan dan mencatat laju tahunan tertinggi sejak April 2023.
Meski inflasi masih berada pada level tinggi, pelaku pasar justru sedikit mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Penyesuaian tersebut terjadi karena investor menilai tekanan inflasi kemungkinan telah mencapai puncaknya setelah harga minyak dunia turun tajam dalam beberapa hari terakhir. Penurunan harga energi diperkirakan akan membantu meredakan tekanan inflasi pada bulan-bulan berikutnya.
Emas Catat Penguatan Harian, Namun Tetap Rugi Mingguan
Harga emas berhasil bangkit pada perdagangan Jumat. Harga emas spot naik sekitar 1,6% dan ditutup di US$4.090,26 per ons, sedangkan emas berjangka menguat 1,4% menjadi US$4.103,00 per ons.
Meski demikian, kenaikan tersebut belum mampu menghapus pelemahan selama sepekan. Emas spot masih mencatat penurunan mingguan sekitar 1,7% sekaligus memperpanjang tren negatif menjadi empat pekan berturut-turut. Sementara itu, kontrak emas berjangka turun sekitar 3,3% sepanjang pekan.
Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan emas. Di sisi lain, turunnya harga minyak memang membantu meredakan kekhawatiran inflasi, tetapi belum cukup kuat untuk mengembalikan minat investor terhadap aset safe haven tersebut.
Harapan Perdamaian AS-Iran Angkat Bursa Saham Berjangka
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak menguat pada awal pekan setelah muncul laporan mengenai tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menyusul meningkatnya ketegangan militer selama akhir pekan.
Kontrak berjangka S&P 500 naik sekitar 0,5%, diikuti Nasdaq 100 yang menguat 0,6%, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah sekitar 0,3%.
Sebelumnya, pasar global sempat tertekan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target militer Iran. Ketegangan meningkat setelah Washington menuduh Teheran melakukan serangan di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap melanjutkan operasi militer apabila diperlukan. Ia menegaskan bahwa negaranya dapat menyelesaikan operasi yang telah dimulai apabila situasi terus memburuk.
Harga Minyak Tetap Naik Meski Risiko Mereda
Harga minyak dunia masih bergerak lebih tinggi pada awal pekan karena investor terus memantau potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Minyak Brent naik sekitar 0,8% ke kisaran US$72 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 1,1% ke level US$70 per barel.
Kenaikan harga minyak tetap menjadi perhatian utama karena dapat kembali memicu tekanan inflasi apabila konflik di kawasan tersebut meningkat.
Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat bulan Juni yang akan dirilis pada Kamis. Jadwal tersebut lebih cepat satu hari dari biasanya karena libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli.
Data tenaga kerja tersebut akan menjadi indikator penting bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Jika pasar tenaga kerja tetap kuat, peluang kebijakan moneter yang ketat masih akan bertahan. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan menahan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Prospek Harga Emas Senin | 29 Juni 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish karena harga masih diperdagangkan di bawah SMA 50 yang terus mengarah turun. Setelah membentuk pantulan dari area support 3.959, harga kini mencoba melakukan rebound, namun kenaikan tersebut masih berpotensi menjadi koreksi selama belum mampu menembus resistance terdekat di 4.140. Struktur lower high dan lower low juga masih menunjukkan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
Apabila harga berhasil menembus dan bertahan di atas 4.140, maka peluang penguatan dapat berlanjut menuju resistance berikutnya di 4.199, dengan target lanjutan di 4.265. Namun, jika kenaikan kembali tertahan di area resistance tersebut dan harga berbalik turun menembus support 3.959, maka tren bearish diperkirakan berlanjut dengan target penurunan menuju 3.886. Sementara itu, RSI yang bergerak naik ke sekitar level 48 mengindikasikan momentum bearish mulai melemah, tetapi belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren sehingga potensi rebound masih cenderung bersifat terbatas.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.140 R2 4.199 R3 4.265
S1 4.024 S2 3.959 S3 3.886
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.030 |
| Profit Target Level | 4.100 |
| Stop Loss Level | 4.000 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.140 |
| Profit Target Level | 4.040 |
| Stop Loss Level | 4.200 |
Prospek Harga US Oil Senin | 29 Juni 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish yang kuat. Hal ini terlihat dari posisi harga yang masih bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Setelah membentuk support sementara di area 68,86, harga mencoba melakukan rebound. Namun, kenaikan tersebut diperkirakan hanya bersifat korektif selama harga masih bertahan di bawah resistance 72,80.
Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas 72,80, peluang penguatan dapat berlanjut menuju resistance berikutnya di 75,16. Target kenaikan selanjutnya berada di area 78,07. Sebaliknya, jika harga gagal menembus resistance tersebut dan kembali bergerak di bawah support 68,86, tren bearish berpotensi berlanjut menuju 65,79. Tekanan jual bahkan dapat membawa harga turun hingga support berikutnya di 63,57. Sementara itu, RSI yang masih berada di sekitar level 40 menunjukkan momentum mulai membaik. Namun, indikator tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi perubahan tren menjadi bullish.
US Oil INTRADAY AREA
R1 72,80 R2 75,16 R3 78,07
S1 68,86 S2 65,79 S3 63,57
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 68,90 |
| Profit Target Level | 71,50 |
| Stop Loss Level | 68,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 72,80 |
| Profit Target Level | 70,00 |
| Stop Loss Level | 75,20 |
Baca analisa sebelumnya: Harga Emas Naik Usai Data PCE Redakan Kekhawatiran The Fed
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa US Oil masih berpotensi melanjutkan tren bearish pada time frame H4, dengan pivot berada di level 70,90. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi, dengan target penurunan menuju support terdekat di 68,60. Jika level support tersebut berhasil ditembus, penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji area support berikutnya di 67,50 hingga 66,50.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish karena harga masih bergerak di bawah garis SMA 50 dan membentuk pola lower high serta lower low. Meski terjadi rebound dari area support, kenaikan diperkirakan masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus resistance di kisaran 4.121 hingga 4.199.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang tetap berada di bawah garis moving average serta struktur lower high dan lower low yang masih terjaga. Meski terdapat potensi rebound jangka pendek dari area support, kenaikan diperkirakan masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus resistance di kisaran 72,80 hingga 75,16.
Dari sisi teknal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish dengan level pivot di 4.020. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan target support terdekat di 3.940. Jika level ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju 3.900 hingga 3.820.





Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish yang kuat, terlihat dari harga yang terus bergerak di bawah SMA 50 serta membentuk rangkaian lower high dan lower low. Setelah gagal bertahan di area 4.050, tekanan jual kembali meningkat dan mendorong harga turun mendekati support penting di 3.929. Meskipun indikator RSI menunjukkan kondisi yang sudah berada di area oversold dan membentuk potensi bullish divergence, sinyal tersebut sejauh ini baru mengindikasikan peluang koreksi terbatas, bukan perubahan tren utama.
Dari sisi teknikal, Trading Central menilai pergerakan AUD/USD pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish dengan level pivot di 0.6940. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, peluang penurunan masih terbuka dengan target support terdekat di 0.6880. Jika support ini berhasil ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju area support berikutnya di 0.6860 dan 0.6840.

Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari harga yang bergerak di bawah SMA 50 dan masih berada di bawah garis tren turun yang membatasi pergerakan sejak awal Mei. Setelah gagal mempertahankan kenaikan di area 4.145, harga kembali melemah dan bergerak di bawah level 4.100, sehingga tekanan jual masih mendominasi dalam jangka pendek. Selama harga bertahan di bawah resistance 4.145, potensi penurunan masih terbuka menuju support 4.072, kemudian 4.052, dan selanjutnya 4.024.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 dan terus membentuk lower high serta lower low. Setelah gagal melanjutkan kenaikan dari resistance 78,49, harga kembali tertekan dan kini menguji support penting di area 72,80. Area ini menjadi level kunci yang akan menentukan arah pergerakan berikutnya.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa GBP/USD masih bergerak dalam tren bearish pada time frame H4 dengan level pivot di 1.3275. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual masih berpotensi berlanjut dengan target support terdekat di 1.3200. Jika level ini berhasil ditembus, penurunan selanjutnya berpeluang mengarah ke area support 1.3160 hingga 1.3125.
