Selat Hormuz ditutup kembali oleh Iran pada akhir pekan, memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global. Perkembangan tersebut mendorong harga minyak naik pada awal pekan, sementara dolar AS tetap kuat setelah Federal Reserve mengirimkan sinyal kebijakan moneter yang lebih hawkish.
Dolar AS Menguat Didukung Sinyal Hawkish The Fed
Indeks dolar AS naik ke kisaran 101 dan menyentuh level tertinggi sejak Mei 2025. Penguatan tersebut terjadi setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar, tetapi memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan tahun ini.
Proyeksi terbaru menunjukkan sekitar setengah anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga masih diperlukan. Bank sentral AS juga menaikkan perkiraan inflasi untuk mengantisipasi dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama bank sentral. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter akan tetap ketat dalam beberapa bulan mendatang.
Wall Street Ditutup Menguat Sebelum Libur
Bursa saham Amerika Serikat mengakhiri perdagangan Kamis dengan kenaikan meskipun investor masih mencermati sikap hawkish The Fed. Indeks S&P 500 naik 1%, Nasdaq 100 menguat 1,9%, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 72 poin.
Sentimen positif datang dari kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat membuka kembali Selat Hormuz. Harapan terhadap meredanya konflik di Timur Tengah mendorong minat investor terhadap aset berisiko.
Saham teknologi memimpin penguatan pasar. Intel melonjak lebih dari 10% setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan memproduksi chip untuk Apple di Amerika Serikat. Nvidia dan Micron Technology juga mencatat kenaikan signifikan.
Wall Street kemudian tutup pada hari Jumat karena libur nasional di Amerika Serikat.
Selat Hormuz Ditutup Kembali, Harga Minyak Melonjak
Selat Hormuz ditutup kembali pada Sabtu setelah Iran merespons meningkatnya ketegangan di kawasan. Keputusan tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global karena jalur pelayaran itu merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan minyak dunia.
Harga minyak Brent naik lebih dari 1% dan diperdagangkan di atas USD81 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) membuka perdagangan Asia dengan bullish gap lebih dari USD1 dan kembali menguji area USD78 per barel. WTI sempat melonjak hampir 2% pada awal perdagangan sebelum bertahan di atas USD77 per barel.
Penutupan kembali Selat Hormuz terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan membuka jalur pelayaran tersebut serta memulai pembicaraan selama 60 hari terkait program nuklir sipil Iran.
Namun, situasi kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan yang lebih keras terhadap Iran. Trump juga memperingatkan kelompok Hezbollah yang didukung Teheran agar menghentikan serangan terhadap Israel dari wilayah Lebanon.
Ancaman tersebut memicu reaksi keras dari Iran. Delegasi Iran dilaporkan meninggalkan perundingan penting dengan Amerika Serikat di Swiss, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa proses perdamaian yang baru dimulai dapat kembali terganggu.
Investor kini terus memantau perkembangan terbaru di Timur Tengah karena arah negosiasi antara Washington dan Teheran berpotensi menjadi penentu utama pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.
Yen dan Pound Sterling Tertekan
Meningkatnya permintaan terhadap dolar AS turut menekan mata uang utama lainnya. Yen Jepang melemah dan mendorong USD/JPY kembali mendekati level tertinggi sejak Juli 2024.
Meski demikian, potensi pelemahan yen masih dibatasi oleh risiko intervensi pemerintah Jepang serta sikap Bank of Japan yang mulai menunjukkan nada lebih hawkish dalam beberapa bulan terakhir.
Di Inggris, pound sterling juga berada di bawah tekanan setelah muncul laporan bahwa Perdana Menteri Sir Keir Starmer diperkirakan akan mengumumkan jadwal pengunduran dirinya dalam waktu dekat. Ketidakpastian politik tersebut menambah tekanan terhadap GBP/USD yang sudah terbebani oleh penguatan dolar AS.
Harga Emas Kehilangan Momentum
Harga emas bergerak melemah di sekitar USD4.155 per troy ons pada perdagangan Asia. Meskipun ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Selat Hormuz ditutup kembali, logam mulia gagal memperoleh dorongan yang signifikan.
Perhatian pasar lebih banyak tertuju pada prospek suku bunga Amerika Serikat. Sikap hawkish Federal Reserve mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan imbal hasil aset berbasis dolar, sehingga mengurangi daya tarik emas.
Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat mencapai USD4.900 per ons pada akhir tahun. Namun, proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya karena bank tersebut tidak lagi memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun ini.
Prospek Harga Emas Senin | 22 Juni 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish setelah harga menembus support 4.218 yang kini berbalik menjadi resistance terdekat. Tekanan jual semakin kuat karena area resistance tersebut juga berdekatan dengan SMA 50 yang masih bergerak menurun, sehingga memperbesar peluang munculnya aksi jual saat terjadi rebound.
Setelah berhasil menutup area gap, harga justru gagal melanjutkan kenaikan dan kembali bergerak di bawah area tersebut, mengindikasikan bahwa dominasi penjual masih kuat. Selama harga bertahan di bawah 4.218, potensi kenaikan diperkirakan hanya bersifat korektif sebelum tekanan bearish kembali berlanjut.
Di sisi bawah, support terdekat berada di 4.118. Penembusan level ini dapat membuka ruang penurunan lebih lanjut menuju 4.072 dan kemudian 4.024. Sementara itu, skenario bearish baru akan mereda apabila harga mampu kembali menembus dan bertahan di atas area 4.218.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.218 R2 4.278 R3 4.330
S1 4.118 S2 4.072 S3 4.024
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.080 |
| Profit Target Level | 4.115 |
| Stop Loss Level | 4.020 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.180 |
| Profit Target Level | 4.100 |
| Stop Loss Level | 4.225 |
Prospek Harga US Oil Senin | 22 Juni 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish meskipun saat ini sedang mengalami rebound dari area support 72,80–75,02. Kenaikan yang terjadi sejauh ini masih bersifat korektif karena harga tetap bergerak di bawah SMA 50 yang menurun, menunjukkan bahwa tekanan jual jangka menengah masih mendominasi pasar.
Setelah membentuk pantulan dari area terendah pekan ini, harga kini berupaya menguji area resistance di 78,49. Apabila momentum kenaikan berlanjut dan harga mampu menembus 78,49, peluang penguatan dapat berlanjut menuju resistance 81,63 dan selanjutnya 83,60 yang juga berdekatan dengan area SMA 50.
Namun, selama harga masih berada di bawah area 81,63–83,60, tren utama masih cenderung bearish sehingga kenaikan berpotensi dimanfaatkan sebagai peluang jual. Jika harga kembali gagal menembus resistance dan berbalik turun, support 75,02 akan menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Penembusan level tersebut dapat memicu tekanan jual lanjutan menuju 72,80, bahkan membuka peluang penurunan lebih dalam ke area 70,40. RSI yang telah naik ke sekitar 52 menunjukkan momentum pemulihan mulai membaik, tetapi belum cukup kuat untuk mengonfirmasi perubahan tren menjadi bullish.
US Oil INTRADAY AREA
R1 78,49 R2 81,63 R3 83,60
S1 75,02 S2 72,80 S3 70,40
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 72,80 |
| Profit Target Level | 77,00 |
| Stop Loss Level | 70,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 78,45 |
| Profit Target Level | 75,00 |
| Stop Loss Level | 80,40 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar AS Melonjak, Emas Tertekan Usai Sikap Hawkish The Fed
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
