Dolar AS melonjak setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan namun memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish dibandingkan ekspektasi sebelumnya. Penguatan dolar terjadi di tengah meningkatnya keyakinan pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat masih berpeluang menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Dolar AS Melonjak Setelah Sinyal Hawkish The Fed
Dolar AS melonjak ke level tertinggi dalam satu tahun setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan kebijakan terbarunya. Proyeksi suku bunga terbaru menunjukkan hampir setengah pembuat kebijakan kini memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini karena kekhawatiran terhadap inflasi yang masih bertahan.
Pasar kontrak berjangka Fed Funds kini memperkirakan peluang sebesar 68% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan September. Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah serangkaian data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan.
Data tenaga kerja terbaru memperlihatkan jumlah klaim tunjangan pengangguran mingguan kembali menurun, menandakan tingkat pemutusan hubungan kerja masih rendah. Selain itu, laporan ketenagakerjaan dalam tiga bulan terakhir juga menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang jauh lebih kuat dibandingkan proyeksi ekonom.
Indeks Dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama naik ke level 100,80, tertinggi sejak Mei 2025. Penguatan tersebut menekan euro dan poundsterling ke level terendah dalam lebih dari dua bulan.
Yen Jepang Terpuruk, Pemerintah Siap Bertindak
Kenaikan dolar turut mendorong pelemahan yen Jepang hingga menyentuh level 161,45 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sejak Juli 2024. Pergerakan tersebut menghapus seluruh penguatan yen setelah intervensi pemerintah Jepang pada akhir April lalu.
Menanggapi pelemahan mata uangnya, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menegaskan pemerintah siap merespons pergerakan nilai tukar kapan pun diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing.
Sementara itu, Bank of England memutuskan mempertahankan suku bunga di level 3,75%, sejalan dengan ekspektasi pasar.
Wall Street Menguat Meski Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Naik
Dolar AS melonjak bersamaan dengan reli di pasar saham Amerika Serikat. Wall Street ditutup menguat setelah investor menyambut meredanya ketegangan geopolitik menyusul tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks Dow Jones naik 0,14% ke level 51.564,70. Indeks S&P 500 menguat 1,08% menjadi 7.500,58, sementara Nasdaq melonjak 1,91% ke level 26.517,93.
Sektor teknologi menjadi pendorong utama kenaikan pasar dengan penguatan 2,7%, didukung lonjakan saham-saham semikonduktor. Sektor consumer discretionary juga mencatat kenaikan sebesar 1,8%.
Untuk kinerja mingguan, Nasdaq memimpin dengan kenaikan 2,43%, diikuti S&P 500 sebesar 0,93% dan Dow Jones sebesar 0,71%.
Emas Turun Akibat Penguatan Dolar AS
Harga emas mengalami tekanan setelah Dolar AS melonjak dan imbal hasil suku bunga diperkirakan tetap tinggi lebih lama. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot turun 1,1% menjadi US$4.209,15 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas merosot 3,5% ke level US$4.227,75 per troy ounce.
Pelaku pasar juga mencermati perubahan proyeksi suku bunga The Fed. Dalam dot plot terbaru, sembilan dari 18 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) kini memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini. Proyeksi suku bunga akhir 2026 juga naik menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4%.
Perubahan tersebut menandakan sikap The Fed yang lebih agresif dalam menghadapi risiko inflasi, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS dan menekan logam mulia.
Harga Minyak Anjlok Setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Pasar energi bergerak berlawanan dengan dolar. Harga minyak masih berada di jalur penurunan tajam mingguan setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai yang membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menandatangani nota kesepahaman dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang mengakhiri operasi militer dan membuka periode negosiasi selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan permanen.
Kesepakatan tersebut mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan energi global yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak. Akibatnya, premi risiko geopolitik yang terbentuk sejak konflik dimulai mulai menghilang dari pasar.
Harga minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$79,69 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$76,66 per barel. Secara mingguan, kedua kontrak acuan tersebut telah turun sekitar 9%-10%.
Selain itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan sekitar 12,5 juta barel minyak mentah berhasil melewati Selat Hormuz dalam semalam, menegaskan bahwa jalur distribusi energi global kembali beroperasi normal.
Prospek Harga Emas Juat | 19 Juni 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal mempertahankan penguatan di atas area resistance 4.330–4.364 yang juga berdekatan dengan resistance trendline menurun. Penolakan di area tersebut mendorong harga kembali turun menembus support dinamis SMA dan saat ini bergerak di bawah level 4.278, yang kini berubah menjadi resistance.
Kondisi RSI yang turun ke bawah level 40 turut menunjukkan momentum bearish masih dominan. Selama harga bertahan di bawah area 4.278–4.330, potensi penurunan masih terbuka untuk menguji support 4.170, kemudian 4.118. Namun, jika harga mampu kembali menembus dan bertahan di atas 4.278, peluang rebound menuju 4.330 hingga 4.364 masih dapat terjadi.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.278 R2 4.330 R3 4.364
S1 4.170 S2 4.118 S3 4.024
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.170 |
| Profit Target Level | 4.215 |
| Stop Loss Level | 4.110 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.250 |
| Profit Target Level | 4.180 |
| Stop Loss Level | 4.280 |
Prospek Harga US Oil Jumat | 19 Juni 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tren bearish yang kuat setelah harga menembus beberapa level support penting dan bergerak jauh di bawah SMA yang terus menurun. Tekanan jual yang dominan mendorong harga turun hingga menguji area support 72,80 sebelum mengalami rebound terbatas. Meski demikian, pemulihan yang terjadi sejauh ini masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus area resistance 78,49 yang sebelumnya merupakan support dan kini berbalik menjadi resistance.
Posisi RSI yang masih berada di bawah level 40 juga menunjukkan momentum bearish belum sepenuhnya mereda. Dalam jangka pendek, harga berpeluang melanjutkan rebound menuju area 78,49, namun selama tetap bertahan di bawah level tersebut, risiko penurunan kembali masih terbuka dengan target ke support 72,80, kemudian 70,40. Jika tekanan jual semakin kuat, penurunan dapat berlanjut menuju area support berikutnya di 67,78.
US Oil INTRADAY AREA
R1 78,49 R2 81,63 R3 83,60
S1 72,80 S2 70,40 S3 67,78
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 72,80 |
| Profit Target Level | 77,00 |
| Stop Loss Level | 70,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 78,45 |
| Profit Target Level | 75,00 |
| Stop Loss Level | 80,40 |
Baca analisa sebelumnya: The Fed Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga, Wall Street Turun
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
