Dolar Melemah untuk dua hari berturut-turut setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Di saat yang sama, pelaku pasar tetap mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang masih menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Kombinasi faktor geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter membuat pergerakan pasar global cenderung berhati-hati.
Dolar Tertekan, Konflik AS-Iran Jadi Sorotan
Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk sebagai balasan atas serangan Washington ke wilayah selatan dan timur Iran. Aksi tersebut memperburuk gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan dan kembali meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Meski demikian, harga minyak justru berbalik turun setelah sempat melonjak. Minyak mentah WTI ditutup di kisaran US$71,57 per barel, sedangkan Brent berada di sekitar US$75,72 per barel. Pelaku pasar menilai dampak inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi global lebih besar dibandingkan potensi gangguan pasokan energi.
Seiring kondisi tersebut, indeks dolar AS (DXY) turun 0,15% ke level 100,87. Euro menguat ke US$1,1436, sementara dolar AS juga melemah terhadap yen Jepang.
Pelaku pasar menilai pergerakan aset saat ini masih didominasi oleh sentimen berita terbaru terkait konflik Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut membuat pasar bergerak dalam kisaran terbatas sambil menunggu perkembangan berikutnya.
The Fed Tetap Waspadai Risiko Inflasi
Risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat. Bahkan, beberapa pejabat bank sentral menilai kenaikan suku bunga seharusnya dapat segera dilakukan sebelum akhirnya suku bunga dipertahankan.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengatakan bahwa konflik Timur Tengah belum tentu menyebabkan kenaikan harga energi secara berkelanjutan hingga akhir tahun. Pernyataan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar mengenai lonjakan inflasi jangka panjang.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed akhir Juli turun menjadi 26,2% dari 31% sehari sebelumnya. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September masih berada di kisaran 61,7%, menunjukkan pasar tetap memperkirakan kebijakan moneter akan bertahan ketat.
Sementara itu, klaim pengangguran awal di Amerika Serikat turun menjadi 215.000, lebih rendah dari perkiraan 218.000. Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup solid sehingga tekanan inflasi berpotensi tetap bertahan.
Bank Sentral Global Masih Bersikap Hati-hati
Risalah pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan proyeksi inflasi diperkirakan masih berada di atas target hingga tahun depan meski suku bunga sudah dinaikkan.
Di Jepang, Bank of Japan menilai perang Iran berpotensi mendorong perusahaan menaikkan harga pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut dapat memperkuat alasan bagi bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga.
Pemerintah Jepang juga berencana menegaskan kembali independensi Bank of Japan dalam cetak biru kebijakan ekonominya setelah muncul kekhawatiran terhadap campur tangan politik dalam kebijakan moneter.
Harga Emas Tertekan Menjelang Data Inflasi
Saat dolar melemah, harga emas justru turun ke sekitar US$4.100 per ons dan mencatat pelemahan sekitar 1,5% sepanjang pekan. Kenaikan harga minyak dan meningkatnya konflik AS-Iran memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat pekan depan serta kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan House Committee on Financial Services. Kedua agenda tersebut diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan moneter berikutnya.
Di sisi lain, bank sentral China melaporkan kenaikan cadangan emas bulanan terbesar dalam lebih dari dua setengah tahun pada Juni. Sementara itu, permintaan emas di China tetap stabil meski harga masih berfluktuasi.
Wall Street Menguat Berkat Optimisme Sektor AI
Dolar Melemah juga diikuti penguatan bursa saham Amerika Serikat pada akhir pekan. Indeks S&P 500 naik 0,42% ke 7.575,39, Nasdaq menguat 0,29% ke 26.281,61, sedangkan Dow Jones bertambah 0,29% menjadi 52.637,01.
Sentimen positif datang dari debut pencatatan saham SK Hynix di Amerika Serikat yang ditutup melonjak sekitar 13% dari harga penawarannya. Antusiasme terhadap industri kecerdasan buatan kembali mendorong optimisme investor terhadap sektor semikonduktor.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran telah meminta agar pembicaraan dilanjutkan dan Amerika Serikat menyetujuinya, meski ia juga menyatakan gencatan senjata pada Juni telah berakhir. Pernyataan tersebut sempat membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar.
Musim laporan keuangan kuartal kedua juga akan dimulai pekan depan dengan laporan dari sejumlah bank besar Amerika Serikat. Investor berharap kinerja sektor perbankan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan aktivitas konsumen.
Analis memperkirakan laba emiten dalam indeks S&P 500 akan tumbuh sekitar 24% dibandingkan tahun lalu, terutama ditopang oleh sektor teknologi. Namun, valuasi saham yang sudah tinggi membuat ruang kesalahan menjadi semakin sempit sehingga hasil laporan keuangan akan menjadi faktor penting bagi arah pasar selanjutnya.
Fokus Pasar Pekan Depan
Dolar Melemah masih menjadi tema utama pasar menjelang sejumlah agenda penting. Investor akan mencermati data inflasi Amerika Serikat, kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh, serta laporan keuangan bank-bank besar. Hasil dari ketiga agenda tersebut diperkirakan akan menentukan ekspektasi suku bunga The Fed sekaligus arah pergerakan dolar AS, emas, dan pasar saham global dalam jangka pendek.
Prospek Harga Emas Senin | 13 Juli 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari harga yang bergerak di bawah garis downtrend jangka menengah dan SMA 50. Setelah gagal menembus area resistance sekaligus trendline di kisaran 4.134–4.180, tekanan jual kembali meningkat sehingga harga berbalik melemah.
Selama harga masih tertahan di bawah area tersebut, peluang penurunan menuju support 4.021 hingga 3.972 masih terbuka. Sementara itu, RSI yang berada di sekitar level 43 menunjukkan momentum bearish masih mendominasi meski belum memasuki area jenuh jual.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.134 R2 4.180 R3 4.221
S1 4.021 S2 3.972 S3 3.942
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.980 |
| Profit Target Level | 4.060 |
| Stop Loss Level | 3.940 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.105 |
| Profit Target Level | 4.030 |
| Stop Loss Level | 4.140 |
Prospek Harga US Oil Senin | 13 Juli 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah berhasil rebound dari area support 67,00 dan menembus SMA 50. Namun, kenaikan tersebut masih tertahan oleh garis downtrend jangka menengah yang telah menjadi resistance dinamis sejak pertengahan Mei, sehingga harga kembali mengalami koreksi. Selama harga masih mampu bertahan di atas support 69,18 sekaligus SMA 50, peluang untuk kembali menguji area downtrend dan resistance 76.02 masih terbuka.
Jika berhasil menembus garis downtrend tersebut, kenaikan berpotensi berlanjut menuju resistance 78,07 hingga 81,63. Sementara itu, RSI yang berada di kisaran 60 menunjukkan momentum bullish masih terjaga meski tekanan jual mulai muncul di area resistance.
US Oil INTRADAY AREA
R1 76,02 R2 78,07 R3 81,63
S1 69,18 S2 67,00 S3 64,82
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 71,00 |
| Profit Target Level | 75,00 |
| Stop Loss Level | 69,10 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 76,00 |
| Profit Target Level | 72,50 |
| Stop Loss Level | 78,10 |
Baca analisa sebelumnya: Harga Emas Naik di Tengah Ketegangan AS-Iran
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat bahwa pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bearish dengan level pivot berada di 72,50. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan potensi menguji area support di 70,70, kemudian 70,10, hingga 69,40.
Pergerakan emas pada time frame H4 mulai menunjukkan perbaikan setelah membentuk pola symmetrical triangle dan berhasil bergerak di atas SMA 50, menandakan momentum beli mulai menguat. RSI yang berada di kisaran 53 juga mendukung peluang kenaikan lanjutan. Meski demikian, harga masih bergerak di bawah garis downtrend jangka menengah sehingga penguatan saat ini masih berpotensi menjadi fase koreksi.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang masih berada di bawah garis downtrend jangka menengah meskipun telah berhasil rebound dari area support 67,00. Rebound tersebut sempat membawa harga menembus SMA 50 dan menguji resistance 76,02, namun kembali terkoreksi sehingga kini bergerak di sekitar area SMA 50 yang menjadi support dinamis. RSI berada di kisaran 50, menunjukkan momentum yang mulai netral dan membuka peluang pergerakan ke arah berikutnya.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah garis downtrend. Setelah sempat menguat dan menguji area resistance 4.180, harga kembali berbalik melemah hingga menembus SMA 50 serta support 4.092 yang kini berubah menjadi resistance.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 mulai menunjukkan perubahan ke arah bullish setelah berhasil rebound dari area support 67,00. Harga kini telah menembus SMA 50 sekaligus resistance 69,18 dan 71,52 yang kini berubah menjadi area support, mengindikasikan momentum beli semakin menguat. Penguatan tersebut membawa harga bergerak mendekati resistance 74,50, sehingga selama harga mampu bertahan di atas 71,52, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance berikutnya di 78,07, bahkan berpotensi berlanjut ke 81,63.
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan harga sempat mengalami rebound dari area support, namun kenaikannya masih tertahan di garis downtrend yang menjadi resistance utama sehingga kembali terkoreksi. Meski demikian, harga masih mampu bertahan di atas SMA 50 yang kini berdekatan dengan area support 4.063, menandakan momentum bullish jangka pendek belum sepenuhnya hilang.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah berhasil rebound dari area support 67,00 dan kini telah menembus sekaligus bertahan di atas SMA 50. Kenaikan tersebut mendorong harga menguji resistance 71,52, sementara indikator RSI yang berada di atas level 70 mencerminkan momentum bullish yang cukup kuat meski mulai memasuki area overbought sehingga potensi pullback jangka pendek tetap perlu diwaspadai.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish jangka menengah. Pada perdagangan sebelumnya, harga sempat menguat dan menguji area resistance 4.221 yang bertepatan dengan trendline bearish, namun gagal menembusnya sehingga kembali terkoreksi. Meski demikian, tekanan jual masih relatif terbatas karena harga tetap mampu bertahan di atas support 4.115. Selama level support tersebut masih terjaga, peluang rebound masih terbuka untuk kembali menguji resistance 4.221. Jika berhasil menembus dan bertahan di atas level tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistance 4.265 hingga 4.310.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang masih bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun sehingga tekanan jual jangka menengah masih mendominasi. Pada perdagangan sebelumnya, harga sempat menguat, namun kembali gagal menembus resistance 69,18 yang juga berdekatan dengan SMA 50, sehingga masih tertahan dalam fase konsolidasi. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, tekanan jual masih berpotensi kembali mendominasi dengan target penurunan menuju support 67,00, kemudian 64,82 hingga 61,72.
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan pemulihan setelah berhasil membentuk dasar di area 3.942 dan menembus resistance 4.063 yang kini beralih menjadi support. Harga saat ini bergerak di atas SMA 50 yang mulai mendatar, mengindikasikan momentum bullish jangka pendek mulai menguat, meskipun tren utama masih dibayangi garis tren turun jangka menengah. Area 4.221 menjadi resistance penting yang bertepatan dengan trendline bearish, sehingga penembusan yang diikuti penutupan harga di atas level tersebut berpotensi membuka jalan menuju resistance 4.265 hingga 4.310.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang masih bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun sehingga tekanan jual jangka menengah masih mendominasi. Setelah sempat rebound dari area 67,00, harga kini bergerak konsolidasi di sekitar resistance 69,18, yang juga berdekatan dengan SMA 50 dan menjadi area krusial untuk menentukan arah pergerakan berikutnya. Apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas 69,18, peluang penguatan akan terbuka menuju resistance 71,52, kemudian 74,69.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah garis tren turun (descending trendline) jangka menengah. Meski demikian, harga saat ini sedang mengalami rebound dan berhasil naik di atas SMA 50, mengindikasikan adanya momentum pemulihan dalam jangka pendek. RSI yang bergerak di kisaran 65 juga menunjukkan momentum bullish mulai menguat, namun belum memasuki area jenuh beli sehingga ruang kenaikan masih terbuka.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang masih menurun. Setelah membentuk titik terendah di sekitar 67,00, harga mulai mengalami technical rebound, namun kenaikan tersebut masih tertahan di area resistance 69,18 yang berdekatan dengan SMA 50 sehingga tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun sehingga menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar. Sebelumnya, harga sempat menembus support 3.959 hingga menyentuh area 3.942 sebelum berbalik menguat ke kisaran 4.063. Namun, rebound tersebut masih tertahan di area SMA 50 yang berdekatan dengan resistance 4.096, sehingga tekanan jual kembali muncul dan mendorong harga terkoreksi. Meski demikian, harga masih mampu bertahan di atas support 3.959, menjadikan area tersebut sebagai level penting yang perlu dipertahankan.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tren bearish yang kuat, terlihat dari posisi harga yang terus bergerak di bawah SMA 50 yang menurun sehingga mengindikasikan tekanan jual masih mendominasi pasar. Setelah gagal mempertahankan area support sebelumnya, harga kembali melemah dan saat ini bergerak di sekitar 67,95, mendekati support penting di 65,79. Selama harga masih berada di bawah resistance 69,18, potensi penurunan diperkirakan tetap terbuka untuk menguji support 65,79. Jika level tersebut ditembus, pelemahan berpotensi berlanjut menuju 63,57 hingga 61,72.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun sehingga menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar. Sebelumnya, harga sempat menembus support 3.959 hingga menyentuh area 3.942 sebelum berbalik menguat ke kisaran 4.063. Namun, rebound tersebut masih tertahan di area SMA 50 yang berdekatan dengan resistance 4.096, sehingga tekanan jual kembali muncul dan mendorong harga terkoreksi. Meski demikian, harga masih mampu bertahan di atas support 3.959, menjadikan area tersebut sebagai level penting yang perlu dipertahankan.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish. Hal ini terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Saat ini harga bergerak di kisaran support 68,86. Level ini menjadi area penting untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika support tersebut mampu bertahan, harga berpeluang melakukan rebound menuju resistance 72,80. Level resistance tersebut juga berdekatan dengan SMA 50 sehingga berpotensi menjadi penghalang kenaikan.
