Data tenaga kerja AS menjadi fokus utama pasar keuangan global setelah laporan lowongan pekerjaan Amerika Serikat menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang tetap solid. Di saat yang sama, Wall Street menutup kuartal kedua 2026 dengan reli kuat, sementara dolar AS terus menguat karena investor kembali meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Wall Street Akhiri Kuartal Kedua dengan Rekor Baru
Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Selasa dan mengakhiri kuartal kedua dengan performa yang sangat impresif. Indeks Dow Jones naik sekitar 0,3% dan kembali mencetak rekor tertinggi baru setelah sehari sebelumnya berhasil menembus level 52.000 untuk pertama kalinya.
Sementara itu, indeks S&P 500 menguat sekitar 0,8% dan membukukan kinerja kuartalan terbaik sejak 2020. Nasdaq Composite melonjak sekitar 1,5% berkat berlanjutnya reli saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor.
Reli tersebut semakin didukung setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat mempertahankan independensi Federal Reserve. Selain itu, optimisme terhadap dimulainya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Qatar turut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
Indeks Philadelphia Semiconductor bahkan mencatat kinerja kuartalan terbaik sepanjang sejarah. Penguatan sektor chip menjadi motor utama kenaikan pasar saham Amerika sepanjang semester pertama tahun ini, meskipun volatilitas sektor tersebut masih cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Data Tenaga Kerja AS Perkuat Prospek Suku Bunga
Data tenaga kerja AS kembali memberikan sinyal bahwa ekonomi Amerika masih cukup kuat. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan naik menjadi 7,594 juta pada Mei, jauh di atas perkiraan pasar sebesar 7,30 juta. Angka tersebut juga menjadi level tertinggi sejak Mei 2024.
Kenaikan lowongan kerja terjadi di sektor perdagangan grosir, akomodasi, restoran, serta properti. Sebaliknya, sektor kesehatan serta jasa keuangan mengalami penurunan jumlah lowongan kerja.
Meski jumlah perekrutan tetap berada di kisaran 5,2 juta dan tingkat pengunduran diri relatif stabil, laporan tersebut memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja masih bertahan di tengah kenaikan biaya energi akibat konflik Iran.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Fokus investor kini beralih menuju laporan Nonfarm Payrolls yang akan dirilis pada Kamis sebagai penentu arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Komentar Pejabat The Fed Dukung Penguatan Dolar
Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar level 101,20 setelah investor mencerna kombinasi data ekonomi yang cukup kuat dan komentar pejabat Federal Reserve.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, mengatakan inflasi masih berada di atas target bank sentral. Menurutnya, apabila tekanan harga tetap tinggi, Federal Reserve masih dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan.
Komentar tersebut semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat sehingga mendukung penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama.
HSBC juga memperingatkan bahwa reli dolar AS berpotensi menjadi jauh lebih agresif apabila Federal Reserve memberikan sinyal yang lebih hawkish dalam beberapa pertemuan mendatang.
Pergerakan Mata Uang Dipengaruhi Kebijakan Bank Sentral
Pasangan EUR/USD turun menuju area 1,1420 setelah inflasi Jerman melambat menjadi 2,4% pada Juni dari sebelumnya 2,7%. Di sisi lain, penjualan ritel Jerman justru meningkat 1,1% pada Mei sehingga memberikan gambaran bahwa konsumsi domestik masih cukup kuat.
GBP/USD bergerak relatif datar di sekitar 1,3255. Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, mengatakan bank sentral belum terburu-buru mengubah suku bunga. Ia memperkirakan inflasi Inggris masih berpotensi meningkat hingga sekitar 3,2% tahun ini. Namun, kondisi keuangan yang lebih ketat memberi waktu bagi Bank of England untuk mengevaluasi dampak kenaikan harga energi sebelum mengambil keputusan berikutnya.
Di Asia, USD/JPY kembali mencetak level tertinggi dalam hampir empat dekade di sekitar 162,60. Pelemahan yen terus memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Sementara itu, AUD/USD menguat menuju kisaran 0,6920 setelah risalah rapat Reserve Bank of Australia menunjukkan sikap yang masih optimistis. Penguatan juga mendapat dukungan dari membaiknya aktivitas manufaktur dan sektor jasa China, yang menjadi mitra dagang utama Australia.
Harga Minyak Terus Turun
Harga minyak mentah masih berada dalam tekanan karena kekhawatiran gangguan pasokan mulai mereda. Arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pulih lebih cepat dari perkiraan sehingga kekhawatiran kekurangan pasokan berubah menjadi potensi kelebihan suplai.
Harapan terhadap pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran juga ikut meredakan ketegangan di pasar energi. Brent diperdagangkan di bawah 74 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bertahan di sekitar 70 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut menempatkan harga minyak menuju pelemahan bulanan dan kuartalan terbesar sejak 2020.
Emas Tertahan Akibat Penguatan Dolar
Harga emas bergerak terbatas di sekitar 4.020 dolar AS per troy ons. Penguatan dolar AS serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini menunggu data tenaga kerja AS berikutnya sebagai petunjuk yang lebih jelas mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Jika data ketenagakerjaan kembali menunjukkan hasil yang kuat, dolar AS berpotensi mempertahankan penguatannya, sementara harga emas dapat tetap menghadapi tekanan.
Prospek Harga Emas Rabu | o1 Juli 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun sehingga menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar. Sebelumnya, harga sempat menembus support 3.959 hingga menyentuh area 3.942 sebelum berbalik menguat ke kisaran 4.063. Namun, rebound tersebut masih tertahan di area SMA 50 yang berdekatan dengan resistance 4.096, sehingga tekanan jual kembali muncul dan mendorong harga terkoreksi. Meski demikian, harga masih mampu bertahan di atas support 3.959, menjadikan area tersebut sebagai level penting yang perlu dipertahankan.
Sementara itu, indikator RSI berada di kisaran 42 yang menunjukkan momentum bearish mulai mereda, tetapi belum memberikan sinyal pembalikan tren. Selama harga tetap bergerak di bawah resistance 4.096, potensi pelemahan masih terbuka untuk menguji kembali support 3.959, kemudian 3.886, hingga 3.819. Sebaliknya, apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas 4.096, peluang pemulihan dapat berlanjut menuju resistance berikutnya di 4.145 dan 4.199.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.096 R2 4.145 R3 4.199
S1 3.959 S2 3.886 S3 3.819
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.980 |
| Profit Target Level | 4.060 |
| Stop Loss Level | 3.940 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.060 |
| Profit Target Level | 3.980 |
| Stop Loss Level | 4.100 |
Prospek Harga US Oil Rabu | 01 Juli 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish. Hal ini terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Saat ini harga bergerak di kisaran support 68,86. Level ini menjadi area penting untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika support tersebut mampu bertahan, harga berpeluang melakukan rebound menuju resistance 72,80. Level resistance tersebut juga berdekatan dengan SMA 50 sehingga berpotensi menjadi penghalang kenaikan.
Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan support 68,86, tekanan jual diperkirakan kembali meningkat. Penurunan berpotensi berlanjut menuju support 65,79, kemudian 63,57. Sementara itu, indikator RSI berada di kisaran 43. Kondisi ini menunjukkan momentum bearish mulai melemah, tetapi belum memberikan sinyal pembalikan tren yang kuat.
US Oil INTRADAY AREA
R1 72,80 R2 75,16 R3 78,07
S1 68,86 S2 65,79 S3 63,57
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 69,20 |
| Profit Target Level | 71,50 |
| Stop Loss Level | 68,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 71,50 |
| Profit Target Level | 69,50 |
| Stop Loss Level | 73,00 |
Baca analisa sebelumnya: Wall Street Menguat, Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, tercermin dari posisi harga yang terus bergerak di bawah SMA 50 yang masih mengarah turun. Setelah gagal menembus area resistance 4.096 yang berdekatan dengan SMA 50, harga kembali terkoreksi dan kini diperdagangkan di sekitar 4.020, mengindikasikan bahwa tekanan jual masih mendominasi. Sementara itu, indikator RSI bergerak di bawah level 50, yang menunjukkan momentum bearish masih cukup kuat meskipun belum memasuki area jenuh jual.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang tetap bergerak di bawah SMA 50 yang masih menurun. Setelah membentuk rebound dari area support 68,86, harga kini menguji resistance 72,80 yang juga berada tidak jauh di bawah SMA 50, sehingga kenaikan yang terjadi masih berpotensi bersifat korektif. Di sisi lain, indikator RSI mulai menguat namun masih berada di bawah level 50, menunjukkan bahwa momentum beli mulai meningkat tetapi belum cukup kuat untuk mengubah arah tren utama.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish karena harga masih diperdagangkan di bawah SMA 50 yang terus mengarah turun. Setelah membentuk pantulan dari area support 3.959, harga kini mencoba melakukan rebound, namun kenaikan tersebut masih berpotensi menjadi koreksi selama belum mampu menembus resistance terdekat di 4.140. Struktur lower high dan lower low juga masih menunjukkan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish yang kuat. Hal ini terlihat dari posisi harga yang masih bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Setelah membentuk support sementara di area 68,86, harga mencoba melakukan rebound. Namun, kenaikan tersebut diperkirakan hanya bersifat korektif selama harga masih bertahan di bawah resistance 72,80.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa US Oil masih berpotensi melanjutkan tren bearish pada time frame H4, dengan pivot berada di level 70,90. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi, dengan target penurunan menuju support terdekat di 68,60. Jika level support tersebut berhasil ditembus, penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji area support berikutnya di 67,50 hingga 66,50.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish karena harga masih bergerak di bawah garis SMA 50 dan membentuk pola lower high serta lower low. Meski terjadi rebound dari area support, kenaikan diperkirakan masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus resistance di kisaran 4.121 hingga 4.199.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang tetap berada di bawah garis moving average serta struktur lower high dan lower low yang masih terjaga. Meski terdapat potensi rebound jangka pendek dari area support, kenaikan diperkirakan masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus resistance di kisaran 72,80 hingga 75,16.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish yang kuat, terlihat dari harga yang terus bergerak di bawah SMA 50 serta membentuk rangkaian lower high dan lower low. Setelah gagal bertahan di area 4.050, tekanan jual kembali meningkat dan mendorong harga turun mendekati support penting di 3.929. Meskipun indikator RSI menunjukkan kondisi yang sudah berada di area oversold dan membentuk potensi bullish divergence, sinyal tersebut sejauh ini baru mengindikasikan peluang koreksi terbatas, bukan perubahan tren utama.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari harga yang bergerak di bawah SMA 50 dan masih berada di bawah garis tren turun yang membatasi pergerakan sejak awal Mei. Setelah gagal mempertahankan kenaikan di area 4.145, harga kembali melemah dan bergerak di bawah level 4.100, sehingga tekanan jual masih mendominasi dalam jangka pendek. Selama harga bertahan di bawah resistance 4.145, potensi penurunan masih terbuka menuju support 4.072, kemudian 4.052, dan selanjutnya 4.024.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 dan terus membentuk lower high serta lower low. Setelah gagal melanjutkan kenaikan dari resistance 78,49, harga kembali tertekan dan kini menguji support penting di area 72,80. Area ini menjadi level kunci yang akan menentukan arah pergerakan berikutnya.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di area resistance 4.278. Tekanan jual kemudian mendorong harga menembus support 4.218 dan turun hingga membentuk support baru di kisaran 4.118. Dari area tersebut, harga sempat melakukan rebound, namun kenaikan masih tertahan di resistance 4.218 yang kini menjadi resistance terdekat sekaligus berdekatan dengan SMA 50.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Setelah membentuk support di area 72,80, harga sempat mengalami rebound, namun kenaikan tersebut masih terbatas dan belum mampu menembus resistance 78,49 yang kini menjadi hambatan terdekat.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish setelah harga menembus support 4.218 yang kini berbalik menjadi resistance terdekat. Tekanan jual semakin kuat karena area resistance tersebut juga berdekatan dengan SMA 50 yang masih bergerak menurun, sehingga memperbesar peluang munculnya aksi jual saat terjadi rebound.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish meskipun saat ini sedang mengalami rebound dari area support 72,80–75,02. Kenaikan yang terjadi sejauh ini masih bersifat korektif karena harga tetap bergerak di bawah SMA 50 yang menurun, menunjukkan bahwa tekanan jual jangka menengah masih mendominasi pasar.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal mempertahankan penguatan di atas area resistance 4.330–4.364 yang juga berdekatan dengan resistance trendline menurun. Penolakan di area tersebut mendorong harga kembali turun menembus support dinamis SMA dan saat ini bergerak di bawah level 4.278, yang kini berubah menjadi resistance.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tren bearish yang kuat setelah harga menembus beberapa level support penting dan bergerak jauh di bawah SMA yang terus menurun. Tekanan jual yang dominan mendorong harga turun hingga menguji area support 72,80 sebelum mengalami rebound terbatas. Meski demikian, pemulihan yang terjadi sejauh ini masih bersifat korektif selama harga belum mampu menembus area resistance 78,49 yang sebelumnya merupakan support dan kini berbalik menjadi resistance.
