Dollar AS Menguat Setelah Data Tenaga Kerja
Dolar AS menguat pada perdagangan Rabu setelah pelaku pasar mencerna data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dan pernyataan terbaru dari pejabat Federal Reserve. Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di sekitar level 101,00 dan berhasil pulih tipis setelah bergerak terbatas dalam dua sesi sebelumnya.
Data ADP Employment Change rata-rata empat pekan menunjukkan perlambatan perekrutan tenaga kerja sektor swasta. Angka tersebut turun menjadi 21 ribu dari sebelumnya 24,25 ribu. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum sehingga ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter kembali menjadi perhatian utama investor.
The Fed Tetap Waspadai Inflasi
Dolar AS juga menguat setelah Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan inflasi masih berada di level yang terlalu tinggi. Meski demikian, ia menilai kebijakan moneter saat ini sudah berada pada posisi yang tepat. Williams juga menegaskan bahwa keputusan suku bunga berikutnya akan tetap bergantung pada data ekonomi yang akan datang.
Komentar tersebut membantu dolar AS menguat meskipun data ketenagakerjaan menunjukkan perlambatan. Di sisi lain, survei inflasi konsumen Amerika Serikat juga memperlihatkan ekspektasi inflasi satu tahun ke depan naik menjadi 3,7% pada Juni 2026, level tertinggi sejak September 2023. Ekspektasi inflasi tiga tahun juga meningkat menjadi 3,3%, sedangkan proyeksi lima tahun tetap bertahan di 3,0%.
Survei yang sama menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi pasar tenaga kerja membaik. Probabilitas kehilangan pekerjaan dalam 12 bulan ke depan menurun menjadi 14,1%, sementara peluang memperoleh pekerjaan baru meningkat menjadi 44,9%. Meski kondisi keuangan rumah tangga dinilai lebih baik dibandingkan tahun lalu, masyarakat memperkirakan akses terhadap kredit akan sedikit lebih ketat pada periode mendatang.
Mata Uang Utama Bergerak Beragam
Penguatan Greenback membuat pasangan EUR/USD masih berada di bawah tekanan dan bergerak di sekitar level 1,1415. Sementara itu, GBP/USD turun menuju 1,3360 setelah Sterling gagal mempertahankan kenaikan yang sempat membawanya ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Pelaku pasar masih menilai perbedaan arah kebijakan antara Federal Reserve dan Bank of England. Risiko inflasi yang masih tinggi membuat kedua bank sentral tetap berhati-hati dalam menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Di Asia, USD/JPY naik mendekati level 161,90. Investor kini menunggu sejumlah data ekonomi Jepang, termasuk Neraca Pembayaran, Machine Tool Orders, dan Indeks Harga Produsen (PPI), untuk memperoleh gambaran terbaru mengenai inflasi dan permintaan domestik.
Sementara itu, AUD/USD melemah ke sekitar 0,6930. Dolar Australia kehilangan momentum meskipun data ekonomi China pada pekan lalu menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Minyak Naik, Emas Tertekan
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik mendekati 72 dolar AS per barel. Kenaikan terjadi setelah ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Laporan mengenai sikap Iran yang menolak melanjutkan negosiasi selama ancaman masih berlangsung membuat pasar kembali fokus pada risiko gangguan distribusi minyak, terutama setelah insiden di Selat Hormuz.
Sebaliknya, harga emas bergerak melemah ke sekitar 4.145. Dolar AS menguat serta sikap hati-hati Federal Reserve mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Wall Street Tertekan oleh Saham Teknologi
Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Selasa. Indeks S&P 500 turun 0,4%, Nasdaq 100 kehilangan 1,8%, sedangkan Dow Jones melemah 131 poin setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi.
Tekanan terbesar berasal dari sektor semikonduktor. Investor mulai mempertanyakan besarnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan yang dilakukan perusahaan teknologi. Sentimen juga memburuk setelah muncul laporan bahwa perusahaan AI asal China, DeepSeek, sedang mengembangkan chip buatannya sendiri.
Sejumlah saham teknologi mencatat penurunan cukup tajam. Broadcom, Micron, AMD, dan Intel semuanya berakhir di zona merah, sedangkan Nvidia menjadi salah satu emiten yang masih mampu membukukan kenaikan tipis.
Selain sektor teknologi, kenaikan imbal hasil obligasi juga membebani pergerakan saham. Kekhawatiran terhadap inflasi kembali meningkat setelah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz memicu risiko kenaikan harga energi.
Prospek Harga Emas Rabu | 08 Juli 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan harga sempat mengalami rebound dari area support, namun kenaikannya masih tertahan di garis downtrend yang menjadi resistance utama sehingga kembali terkoreksi. Meski demikian, harga masih mampu bertahan di atas SMA 50 yang kini berdekatan dengan area support 4.063, menandakan momentum bullish jangka pendek belum sepenuhnya hilang.
Area 4.063 menjadi level krusial yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Selama harga bertahan di atas level tersebut, emas berpeluang kembali menguji resistance 4.180, kemudian 4.221 hingga 4.265. Sebaliknya, jika support 4.063 ditembus, tekanan jual berpotensi meningkat dengan target penurunan menuju 4.023 dan selanjutnya 3.942.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.180 R2 4.221 R3 4.265
S1 4.063 S2 4.023 S3 3.942
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.070 |
| Profit Target Level | 4.160 |
| Stop Loss Level | 4.020 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.180 |
| Profit Target Level | 4.100 |
| Stop Loss Level | 4.225 |
Prospek Harga US Oil Rabu | 08 Juli 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah berhasil rebound dari area support 67,00 dan kini telah menembus sekaligus bertahan di atas SMA 50. Kenaikan tersebut mendorong harga menguji resistance 71,52, sementara indikator RSI yang berada di atas level 70 mencerminkan momentum bullish yang cukup kuat meski mulai memasuki area overbought sehingga potensi pullback jangka pendek tetap perlu diwaspadai.
Selama harga mampu bertahan di atas area 69,18–71,52, peluang penguatan masih terbuka untuk menguji resistance berikutnya di 74,69, kemudian 78,07 hingga 81,63. Sebaliknya, jika harga kembali turun dan menembus support 69,18, tekanan jual berpotensi meningkat dengan target pelemahan menuju 67,00.
US Oil INTRADAY AREA
R1 74,69 R2 78,07 R3 81,63
S1 71,52 S2 69,18 S3 67,00
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 69,20 |
| Profit Target Level | 74,00 |
| Stop Loss Level | 67,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 74,50 |
| Profit Target Level | 72,00 |
| Stop Loss Level | 75,00 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar AS Stabil, Pasar Tunggu Risalah The Fed
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa USD/JPY masih bergerak dalam tren bearish pada time frame H4. Level pivot berada di 162,20. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi. Kondisi ini membuka peluang penurunan menuju support 161,50. Jika tekanan berlanjut, harga berpotensi menguji support berikutnya di 161,20 dan 160,90.





Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish jangka menengah. Pada perdagangan sebelumnya, harga sempat menguat dan menguji area resistance 4.221 yang bertepatan dengan trendline bearish, namun gagal menembusnya sehingga kembali terkoreksi. Meski demikian, tekanan jual masih relatif terbatas karena harga tetap mampu bertahan di atas support 4.115. Selama level support tersebut masih terjaga, peluang rebound masih terbuka untuk kembali menguji resistance 4.221. Jika berhasil menembus dan bertahan di atas level tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistance 4.265 hingga 4.310.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang masih bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun sehingga tekanan jual jangka menengah masih mendominasi. Pada perdagangan sebelumnya, harga sempat menguat, namun kembali gagal menembus resistance 69,18 yang juga berdekatan dengan SMA 50, sehingga masih tertahan dalam fase konsolidasi. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, tekanan jual masih berpotensi kembali mendominasi dengan target penurunan menuju support 67,00, kemudian 64,82 hingga 61,72.
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan pemulihan setelah berhasil membentuk dasar di area 3.942 dan menembus resistance 4.063 yang kini beralih menjadi support. Harga saat ini bergerak di atas SMA 50 yang mulai mendatar, mengindikasikan momentum bullish jangka pendek mulai menguat, meskipun tren utama masih dibayangi garis tren turun jangka menengah. Area 4.221 menjadi resistance penting yang bertepatan dengan trendline bearish, sehingga penembusan yang diikuti penutupan harga di atas level tersebut berpotensi membuka jalan menuju resistance 4.265 hingga 4.310.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang masih bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun sehingga tekanan jual jangka menengah masih mendominasi. Setelah sempat rebound dari area 67,00, harga kini bergerak konsolidasi di sekitar resistance 69,18, yang juga berdekatan dengan SMA 50 dan menjadi area krusial untuk menentukan arah pergerakan berikutnya. Apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas 69,18, peluang penguatan akan terbuka menuju resistance 71,52, kemudian 74,69.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa EUR/USD masih bergerak dalam tren bearish pada time frame H4, dengan level pivot di 1.1435. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan target penurunan menuju support 1.1400, kemudian 1.1385, dan 1.1375.

Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa peluang trading GBP/USD pada time frame H4 masih berada dalam tren bullish, dengan level pivot di 1.3325. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance 1.3405, kemudian 1.3430, dan selanjutnya 1.3455.

Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah garis tren turun (descending trendline) jangka menengah. Meski demikian, harga saat ini sedang mengalami rebound dan berhasil naik di atas SMA 50, mengindikasikan adanya momentum pemulihan dalam jangka pendek. RSI yang bergerak di kisaran 65 juga menunjukkan momentum bullish mulai menguat, namun belum memasuki area jenuh beli sehingga ruang kenaikan masih terbuka.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang masih menurun. Setelah membentuk titik terendah di sekitar 67,00, harga mulai mengalami technical rebound, namun kenaikan tersebut masih tertahan di area resistance 69,18 yang berdekatan dengan SMA 50 sehingga tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
