Dolar AS menguat tajam pada perdagangan Jumat setelah laporan tenaga kerja Negeri Paman Sam jauh melampaui ekspektasi pasar. Data ini memicu spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) bisa menaikkan suku bunga jika inflasi pekan depan kembali panas. Penguatan dolar ini langsung menekan harga emas, minyak, dan sejumlah mata uang utama dunia.
Data Nonfarm Payrolls Jadi Pemicu Utama
Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada Agustus melonjak ke angka 162 ribu, jauh di atas perkiraan pasar sebesar 56 ribu. Data bulan Juli turut direvisi naik dari minus 23 ribu menjadi 21 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di 4,1 persen, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja naik ke 61,6 persen dari 61,4 persen sebelumnya.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pidatonya di Jackson Hole pekan lalu menilai kondisi pasar tenaga kerja “konsisten dengan kondisi lapangan kerja penuh”. Ia menempatkan inflasi sebagai misi utama bank sentral dan mengambil sikap hawkish.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan bank sentral tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga jika inflasi mereda. Namun ia menegaskan, data yang lemah pekan depan justru akan mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC mendatang.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, lewat sebuah unggahan di LinkedIn menyebut kebijakan moneter saat ini belum bersifat restriktif. Ia menegaskan, “inflasi masih terlalu tinggi, dan semakin lama bertahan di atas target kami, semakin sulit untuk menurunkannya kembali.”
Pasar uang kini memperhitungkan peluang 61 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan September, naik dari 54 persen sehari sebelumnya.
Emas Anjlok Akibat Penguatan Dolar
Harga emas (XAU/USD) turun sekitar 0,80 persen pada hari Jumat, melanjutkan koreksi lebih dari 2 persen sehari sebelumnya. Saat berita ini ditulis, emas diperdagangkan di level $4.437 per ons.
Dolar AS menguat karena data pekerjaan yang kuat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi. Kondisi ini membuat emas kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai, sementara imbal hasil obligasi AS ikut naik dan menekan logam mulia lebih dalam.
Minyak Mentah Tertekan, Tapi Risiko Geopolitik Tetap Tinggi
Minyak mentah jenis WTI turun 1,21 persen pada Jumat dan diperdagangkan di kisaran $88,55 per barel. Meski melemah, harga minyak masih mendekati level tertinggi dan berpotensi mencatat kenaikan mingguan yang kuat akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pasukan militer AS mengawal 40 kapal komersial yang membawa sekitar 18 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Operasi ini sempat meredakan kekhawatiran pasar soal gangguan pasokan minyak global.
Namun risiko belum sepenuhnya reda. Iran menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab pada Kamis, sementara bentrokan di sekitar Selat Hormuz terus berlanjut. Pasukan AS bahkan mencegat sebuah rudal jelajah dan menangkal beberapa serangan drone selama operasi pengawalan berlangsung. Korea Selatan pun dikabarkan bersiap mengirim aset militer untuk menjaga kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Harga solar rata-rata di AS mencapai rekor $5,82 per galon pada Kamis, menurut data GasBuddy yang dikutip Reuters. Serangan Ukraina terhadap kilang penyulingan minyak Rusia turut memperketat pasokan produk energi global.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan keterbukaannya terhadap negosiasi perdamaian. Pernyataan ini memberi sedikit penyeimbang terhadap risiko geopolitik yang membebani pasar energi.
Mata Uang Utama Bergerak Beragam
Indeks dolar AS naik ke level 99,3, pulih dari titik terendah dua minggu terakhir. Pertumbuhan upah tahunan melandai ke 3,1 persen, meski penurunannya lebih kecil dari perkiraan pasar. Menurut CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga September kini mendekati 60 persen.
AUD/USD sempat melemah ke 0,7173 sebelum berbalik menguat ke kisaran 0,7206, level tertinggi sejak 15 Mei. Sikap hawkish Reserve Bank of Australia (RBA) menopang penguatan dolar Australia, dengan pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga lagi bulan ini karena inflasi masih berada di atas target RBA sebesar 2-3 persen.
EUR/USD tertekan ke kisaran 1,1605, turun sekitar 0,18 persen dalam sehari. Penjualan ritel Zona Euro pada Juli turun 0,6 persen secara bulanan, meleset dari perkiraan kenaikan 0,3 persen. Meski begitu, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh European Central Bank (ECB) pada pertemuan 9-10 September membatasi pelemahan euro lebih lanjut.
USD/JPY relatif stabil di kisaran 155,85. Ekspektasi pengetatan moneter di Jepang membuat yen tetap kuat, sehingga menahan penguatan dolar AS terhadap mata uang tersebut meski data tenaga kerja AS positif.
Wall Street Merespons Data Tenaga Kerja
Bursa saham berjangka AS melemah tipis pada Jumat. Kontrak S&P 500, Dow, dan Nasdaq 100 turun ke bawah garis netral setelah pasar tenaga kerja yang kuat membuka peluang lebih besar bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi.
Saham-saham sektor sensitif suku bunga tertekan setelah imbal hasil obligasi kembali naik. Microsoft, Tesla, dan Mastercard masing-masing turun hampir 1 persen. Di sisi lain, produsen chip menguat setelah tertekan sepanjang pekan ini. Lam Research, Applied Materials, dan Sandisk masing-masing naik hampir 3 persen pada sesi pra-pasar. Marvell, Micron, Intel, dan Nvidia melesat lebih dari 1 persen di tengah optimisme pasar terhadap model GPT terbaru OpenAI.
Prospek Harga Emas Senin | 07 September 2026
Pergerakan emas pada grafik H4 masih cenderung bearish karena harga berada di bawah SMA 50 dan tertahan di resistance 4.510, sementara RSI 48,34 menunjukkan momentum yang masih netral. Jika harga gagal menembus 4.510, tekanan jual berpotensi kembali mendorong harga menuju support 4.365, kemudian 4.324 hingga 4.282.
Sebaliknya, jika harga berhasil menembus dan bertahan di atas 4.510, peluang penguatan terbuka menuju resistance berikutnya di 4.565 hingga 4.632.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.510 R2 4.565 R3 4.632
S1 4.396 S2 4.353 S3 4.282
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.365 |
| Profit Target Level | 4.440 |
| Stop Loss Level | 4.320 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.460 |
| Profit Target Level | 4.380 |
| Stop Loss Level | 4.510 |
Prospek Harga US Oil Senin | 07 September 2025
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish karena harga bergerak di atas SMA 50, meski saat ini tertahan di resistance 93,43 dan RSI 65,03 menunjukkan momentum penguatan yang masih cukup kuat namun mulai mendekati area overbought. Jika harga berhasil menembus 93,43, peluang kenaikan terbuka menuju resistance 95,42 hingga 96,94. Sebaliknya, jika gagal menembus 93,43, harga berpotensi mengalami koreksi menuju support 89,52, kemudian 87,64 hingga 85,07.
US Oil INTRADAY AREA
R1 93,43 R2 95,42 R3 96,42
S1 89,50 S2 87,64 S3 85,07
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 89,60 |
| Profit Target Level | 93,40 |
| Stop Loss Level | 87,60 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 93,40 |
| Profit Target Level | 90,00 |
| Stop Loss Level | 95,45 |
Baca analisa sebelumnya: Indeks Dolar AS Melemah Jelang Rilis NFP
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Dari sisi teknikal, Trading Central melihat pergerakan emas pada time frame H4 masih berpotensi bullish. Level pivot berada di 4.444 yang menjadi area penting untuk menentukan arah berikutnya. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka dengan target resistance di 4.571, kemudian 4.602 hingga 4.632.






Pergerakan emas pada grafik H4 mulai kembali bullish setelah rebound dari area 4.282 dan berhasil menembus 4.396. Harga kini berada di atas SMA 50, sementara RSI 57,36 menunjukkan momentum masih cukup positif.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish setelah harga menembus 87,64 dan bergerak di atas SMA 50. RSI yang berada di 70,85 menunjukkan momentum penguatan masih cukup kuat, meski harga mulai memasuki area overbought.
Dari sisi teknikal, Trading Central melihat pergerakan USD/JPY masih cenderung bearish pada time frame H4, dengan level pivot di 157,34. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan bearish masih berpeluang berlanjut dengan target penurunan menuju support 156,00, kemudian 155,82 dan 155,63.

Pada grafik H4, emas masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal bertahan di atas area 4.461 dan kini melakukan rebound dari kisaran support 4.300 an. RSI 41,26 menunjukkan momentum masih cenderung bearish, meski mulai muncul pemulihan dari area oversold.
Pada grafik H4, US Oil masih menunjukkan tren bullish dengan harga bertahan di atas SMA 50 yang terus menanjak. Namun, RSI 68,01 menunjukkan momentum sudah mendekati area overbought sehingga koreksi jangka pendek berpotensi terjadi.
Secara teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa harga silver berpotensi mengalami rebound pada time frame H4, dengan level pivot di 62,82. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, silver berpeluang melanjutkan rebound dengan target resistance di 65,05, kemudian 65,69, hingga 66,32.


Pergerakan emas pada time frame H4 masih cenderung bearish setelah menembus area support 4.396 dan bergerak di bawah SMA 50 yang mulai mengarah turun. Saat ini harga berada di sekitar 4.331, dengan support terdekat di 4.311, kemudian 4.262 dan 4.223, sementara resistance berada di 4.396, 4.464 hingga 4.508.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tren bullish setelah harga menembus resistance 89,30 dan bergerak di atas SMA 50 yang mulai mengarah naik. Saat ini harga berada di sekitar 90,75, dengan resistance terdekat di 91,78, kemudian 93,43 dan 95,42, sementara support berada di 89,30 dan 87,64 hingga 85,07.
