Memanasnya Konflik AS – Iran Dorong Harga Minyak
Memanasnya konflik AS – Iran kembali menjadi katalis utama pergerakan harga minyak global. Harga West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1,5% ke area $95 per barel pada sesi Eropa. Kenaikan ini terjadi karena Selat Hormuz masih ditutup akibat mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Selat Hormuz memegang peran vital karena mengalirkan hampir 20% pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan suplai global.
Negosiasi Buntu, Risiko Pasokan Meningkat
Ketegangan meningkat setelah pemerintah AS membatalkan kunjungan utusan ke Pakistan untuk bertemu pihak Iran. Keputusan ini diambil karena proposal dari Iran dianggap tidak memadai. Di sisi lain, Iran tetap bersikeras bahwa AS harus mencabut blokade pelabuhan sebelum negosiasi dilanjutkan.
Situasi ini menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar energi. Selama kebuntuan diplomatik berlanjut, pelaku pasar terus mengantisipasi potensi lonjakan harga minyak yang lebih besar.
Skenario Bullish: Harga Bisa Tembus $150
Analis pasar memperkirakan harga minyak masih berpotensi naik jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir Juni. Dalam skenario bullish, harga Brent bahkan bisa melonjak hingga $150 per barel. Saat ini, Brent sudah diperdagangkan naik sekitar 2,2% di kisaran $101.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi trader untuk memanfaatkan momentum kenaikan, terutama dalam jangka pendek hingga menengah.
Tekanan Produksi Iran Mulai Terlihat
Memanasnya konflik AS – Iran juga mulai menekan kemampuan produksi Iran. Berdasarkan analisis Societe Generale, Iran kemungkinan hanya mampu mempertahankan produksi penuh dalam waktu terbatas.
Stok minyak yang menumpuk akibat hambatan ekspor mulai memberi tekanan. Produksi diperkirakan mulai dipangkas setelah sekitar 16 hari jika ekspor tetap terhenti. Pemangkasan bisa meningkat hingga 1,7–2 juta barel per hari dalam waktu satu bulan.
Namun, Iran masih memiliki cadangan minyak terapung sekitar 176 juta barel, dengan sebagian besar berada di luar kawasan Teluk. Hal ini memberi ruang bagi Iran untuk tetap menghasilkan pendapatan dalam jangka pendek.
Faktor Tambahan: Kebijakan Bank Sentral
Selain geopolitik, pasar juga menunggu keputusan kebijakan moneter dari bank sentral utama, terutama Federal Reserve dan European Central Bank. Kebijakan suku bunga akan memengaruhi pergerakan dolar AS, yang memiliki korelasi kuat dengan harga minyak.
Indeks dolar sempat berfluktuasi di kisaran 98,5 setelah muncul kabar proposal baru dari Iran untuk meredakan ketegangan. Pergerakan dolar ini turut memengaruhi dinamika harga komoditas energi.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan US Oil masih berada dalam tren bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 94,10. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka dengan target resistance terdekat di 97,80. Jika level ini berhasil ditembus, maka kenaikan berpotensi berlanjut menuju area resistance berikutnya di 99,20 hingga 100,80.
Sebagai alternatif, jika harga turun dan menembus di bawah 94,10, maka tekanan bearish dapat meningkat dengan potensi penurunan menuju area support di 92,40 hingga 91,00.
Resistance 1: 97,80 Resistance 2: 99,20 Resistance 3: 100,80
Support1: 94,10 Support 2: 92,40 Support 3: 91,00
Baca juga: Peluang Trading EUR/USD Pasca Data IFO Jerman
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
