Ketegangan Selat Hormuz kembali mengguncang pasar keuangan global pada awal pekan ini. Indeks Dolar AS (DXY) naik sekitar 0,2% dan bertahan di atas level 99,80 setelah harga minyak melonjak lebih dari 6%. Menariknya, emas dan perak justru ikut naik bersamaan dengan dolar. Permintaan aset aman dan risiko inflasi akibat harga energi mendorong keduanya bergerak searah, sebuah pola yang jarang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Harga Minyak Melonjak akibat Ketegangan Selat Hormuz
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melompat lebih dari 6% dan menyentuh level 81,70 dolar per barel. Lonjakan ini terjadi karena kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz masih jauh dari jelas. Blokade angkatan laut Amerika Serikat memaksa lebih banyak kapal mengubah jalur pelayaran mereka, sehingga premi risiko tetap menempel pada harga minyak dunia.
Emas dan Perak Ikut Menanjak
Harga emas menambah kenaikan sekitar 0,9% ke level 4.380 dolar per ons troi. Penundaan pembukaan Hormuz serta data inflasi AS yang akan segera rilis membuat pelaku pasar tetap berhati-hati. Perak tampil lebih perkasa dengan kenaikan sekitar 3,50% menuju 65,70 dolar per ons.
Data terbaru pada penutupan sesi Senin menunjukkan gambaran serupa. Emas spot naik 1,1% ke 4.389,17 dolar per ons, sementara kontrak berjangka emas naik 1,1% ke 4.448,55 dolar per ons. Kedua instrumen ini sebelumnya sudah melesat lebih dari 7% sepanjang pekan lalu, didorong oleh data ketenagakerjaan AS yang lemah.
Trump dan Iran Saling Melempar Pernyataan
Presiden AS Donald Trump menolak permintaan kompensasi Iran akhir pekan lalu. Trump menyatakan bahwa Teheran harus bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di kawasan tersebut. Di sisi lain, Iran membantah sedang menjalani perundingan dan menetapkan syarat sendiri untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis itu. Kebuntuan diplomatik ini membuat ketegangan Selat Hormuz terus membayangi sentimen pasar hingga awal pekan.
Yen Tertekan, Euro dan Poundsterling Bergerak Variatif
USD/JPY menjadi mata uang mayor dengan pergerakan paling tajam. Pasangan ini naik lebih dari 0,9% menuju area 159,30, melanjutkan tren penguatan akibat kenaikan biaya energi dan imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi.
EUR/USD justru melemah tipis ke bawah level 1,1550 karena ketegangan Timur Tengah memberi dukungan lebih besar terhadap dolar AS. Sementara itu, GBP/USD tampil sebagai satu-satunya mata uang mayor yang menguat terhadap dolar, bertahan di kisaran 1,3500 dan mempertahankan sisi atas rentang pergerakannya belakangan ini.
AUD/USD melemah ke sekitar 0,7055. Reli harga minyak tidak memberi dorongan apa pun bagi dolar Australia karena pelaku pasar memilih menutup posisi menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA).
RBA Bersiap Umumkan Keputusan Suku Bunga
Bank sentral Australia akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Selasa pagi waktu setempat. Pasar memperkirakan RBA akan menahan suku bunga acuan di level 4,35%. Perhatian pelaku pasar kini beralih ke Pernyataan Kebijakan Moneter, Pernyataan Suku Bunga, serta konferensi pers Gubernur Michele Bullock. Sinyal apa pun dari Bullock soal masih terbukanya ruang pengetatan kebijakan berpotensi memicu volatilitas tajam pada dolar Australia, meski keputusan menahan suku bunga sudah diperhitungkan pasar sepenuhnya.
Wall Street Ditutup Melemah
Bursa saham AS mengakhiri perdagangan Senin dengan sedikit koreksi, setelah mencatat pekan terbaik sejak pertengahan April. Kenaikan harga minyak, pelemahan sektor properti, dan tekanan pada saham teknologi menahan laju indeks utama.
Indeks S&P 500 turun 0,1% dan ditutup di level 7.753,46 poin. NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi tergelincir 0,3% ke 26.605,36 poin. Indeks Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,1% dan menutup sesi di 53.975,63 poin.
Meski demikian, pasar saham sempat mencatat rekor tertinggi baru untuk pertama kalinya sejak awal Juni. Penurunan harga minyak sebelumnya, musim laporan keuangan yang solid, dan pemulihan saham semikonduktor menjadi pendorong utama kenaikan tersebut.
Data Tenaga Kerja AS Pengaruhi Ekspektasi The Fed
Laporan data ketenagakerjaan bulan Juli menunjukkan penurunan pertama payroll nonpertanian AS sejak Februari. Sektor pendidikan pemerintah daerah menjadi penyumbang utama penurunan ini. Data payroll bulan Mei dan Juni juga direvisi turun secara kumulatif sebanyak 103 ribu pekerjaan.
Laporan ini menyulitkan posisi The Fed dalam menentukan arah kebijakan. Pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih tergolong solid meski data terbaru melemah. Namun risiko inflasi justru meningkat akibat volatilitas harga minyak yang dipicu konflik di Iran, sehingga sejumlah pembuat kebijakan condong mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli lalu.
Pelaku pasar merespons data ini dengan memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September. Lingkungan suku bunga tinggi biasanya menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas dan memperkuat dolar AS, yang pada akhirnya membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Fokus Hari Ini
Sesi AS nanti malam akan menyajikan dua rilis data sekunder. Rata-rata empat pekan ADP Employment Change diperkirakan berada di kisaran 15 ribu, sementara Existing Home Sales bulan Juli diproyeksikan turun 2,4% secara bulanan. Keduanya bukan rilis kelas satu, namun tetap memberi gambaran awal soal kondisi tenaga kerja dan sektor perumahan menjelang tengah pekan.
Perhatian utama pasar justru tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS yang baru akan rilis Rabu mendatang. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan Selat Hormuz sudah mengangkat risiko inflasi, dan sikap The Fed yang cenderung hawkish membuat rilis CPI ini krusial. Angka inflasi yang panas berpotensi memberi dorongan baru bagi indeks dolar (DXY), sedangkan angka yang lunak bisa memicu pelemahan dolar dalam waktu dekat.
Prospek Harga Emas Selasa | 11 Agustus 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan tren bullish kuat setelah harga berhasil menembus resistance 4.276, 4.313, dan 4.351 yang kini berpotensi menjadi area support. Harga juga bergerak jauh di atas SMA 50 yang mulai menanjak, menegaskan dominasi tekanan beli, sementara RSI 14 berada di level 73,96 sehingga kondisi sudah memasuki area overbought dan membuka peluang terjadinya koreksi jangka pendek.
Selama harga mampu bertahan di atas support 4.351, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance 4.423, dengan target berikutnya di 4.474 dan 4.515, sedangkan penurunan di bawah 4.351 berpotensi memicu koreksi menuju 4.313.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.423 R2 4.474 R3 4.515
S1 4.351 S2 4.313 S3 4.276
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.355 |
| Profit Target Level | 4.420 |
| Stop Loss Level | 4.310 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.420 |
| Profit Target Level | 4.370 |
| Stop Loss Level | 4.450 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 11 Agustus 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 mulai menunjukkan pemulihan setelah sebelumnya terkoreksi tajam hingga membentuk low di 74,16. Harga kini berhasil breakout resistance 79,54 sekaligus menembus SMA 50, sehingga level tersebut berpotensi berubah menjadi support dan menjadi konfirmasi awal pemulihan.
Selama harga mampu bertahan di atas 79,54, peluang kenaikan terbuka untuk menguji resistance 84,40, yang kemudian diikuti area gap 86,14–87,63. Sebaliknya, jika harga kembali bergerak di bawah 79,54, breakout tersebut berisiko menjadi false breakout dan membuka peluang koreksi menuju 77,74 hingga 76,51, dengan support berikutnya di 74,16.
US Oil INTRADAY AREA
R1 84,40 R2 86,14 R3 87,63
S1 79,54 S2 77,74 S3 76,51
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 79,60 |
| Profit Target Level | 82,00 |
| Stop Loss Level | 78,20 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 84,40 |
| Profit Target Level | 82,00 |
| Stop Loss Level | 86,15 |
Baca analisa sebelumnya: Indeks Dolar AS Melemah, Fokus Beralih ke Data CPI AS
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan momentum bullish setelah berhasil menembus resistance 4.276 dan 4.307, yang kini berpotensi menjadi area support terdekat. Harga kemudian bergerak naik menuju resistance 4.382 dan saat ini terlihat berkonsolidasi di bawah level tersebut, sementara RSI 14 berada di 71,51 yang mengindikasikan kondisi mulai overbought.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam fase rebound setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam hingga menyentuh 74,16. Saat ini harga bergerak naik dan berusaha menguji resistance 79,54 yang berdekatan dengan SMA 50, sehingga area tersebut menjadi penentu arah pergerakan berikutnya.
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan perubahan sentimen menjadi bullish setelah berhasil menembus area konsolidasi yang cukup lebar sekaligus menembus resistance 4.203, sehingga level tersebut kini beralih menjadi support terdekat. Meski harga sempat terkoreksi setelah tertahan di resistance 4.307, selama mampu bertahan di atas support 4.203 peluang kenaikan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 4.276, kemudian 4.307, hingga 4.362.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah berhasil rebound dari support 74,16 dan menembus resistance 76,63, sehingga level tersebut kini beralih fungsi menjadi support terdekat. Meski demikian, kenaikan selanjutnya akan menghadapi ujian di resistance 79,54 yang berdekatan dengan SMA 50. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan akan terbuka menuju resistance 81,34 hingga 82,26 sekaligus berupaya menutup gap yang masih terbuka.
Pergerakan emas pada time frame H4 berhasil mengonfirmasi breakout dari fase konsolidasi lebar setelah menembus resistance 4.141, 4.166, hingga 4.203 yang menjadi batas atas area sideways. Breakout tersebut sekaligus menegaskan perubahan struktur pasar menjadi bullish, didukung oleh posisi harga yang bergerak jauh di atas SMA 50.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish setelah penurunan tajam membawa harga membentuk low baru di 74,16. Setelah menyentuh level tersebut, harga sempat mencoba rebound, namun kenaikannya tertahan di area resistance 76,63–77,75 yang sebelumnya merupakan support dan kini telah beralih menjadi resistance.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah sebelumnya terkoreksi tajam dan kini diperdagangkan di sekitar area SMA 50 yang mulai bergerak mendatar. Selama beberapa sesi terakhir, harga terlihat bergerak sideways dalam kisaran sempit, menandakan pasar masih menunggu katalis baru untuk menentukan arah pergerakan berikutnya. Selama harga mampu bertahan di atas support 4.019, peluang penguatan masih terbuka dengan target menguji resistance 4.116, kemudian 4.141 hingga 4.166.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish setelah rebound yang terjadi sebelumnya gagal menutup gap dan kenaikannya tertahan di area SMA 50. Tekanan jual kemudian kembali mendominasi sehingga harga turun tajam dengan menembus support 81,17, 79,54, dan 77,75 yang kini beralih menjadi area resistance.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih cenderung bergerak dalam fase konsolidasi dengan bias bearish setelah kembali gagal menembus area resistance 4.080–4.116. Harga saat ini juga bergerak di sekitar hingga sedikit di bawah SMA 50, yang menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan selama belum mampu kembali bertahan di atas indikator tersebut.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal bertahan di atas area SMA 50 dan kembali bergerak di bawah resistance 82,96. Harga juga belum mampu menutup gap di kisaran 81,17–84,82, sehingga area tersebut tetap menjadi resistance yang kuat dalam jangka pendek.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih cenderung bergerak sideways setelah beberapa kali gagal menembus resistance 4.116 hingga 4.141. Harga saat ini kembali berada di sekitar area SMA 50 yang berada di kisaran 4.064, sehingga level ini menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya. Selama harga masih bertahan di bawah SMA 50 dan resistance 4.116, peluang konsolidasi dengan kecenderungan bearish masih terbuka untuk menguji support 4.027 hingga 3.995.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 kembali berada di bawah SMA 50 setelah mengalami penurunan tajam yang sekaligus membentuk gap bearish di kisaran 81,22 hingga 84,53. Kegagalan harga bertahan di atas area SMA 50 mengindikasikan tekanan jual masih cukup dominan, sehingga selama harga bergerak di bawah resistance 84,82 hingga 85,89, kecenderungan masih bearish dengan peluang melanjutkan pelemahan untuk menguji support 79,54, kemudian 77,75 hingga 76,02.
Pergerakan emas pada time frame H4 sempat melanjutkan penguatannya hingga menguji resistance 4.116. Namun, tekanan jual yang muncul dari area tersebut mendorong harga terkoreksi hingga kembali bergerak di bawah SMA 50 yang berdekatan dengan support 4.060. Koreksi tersebut bahkan sempat membawa harga membentuk low harian di level 4.027 sebelum akhirnya kembali mendapat dorongan beli.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 sebelumnya berada dalam tren bullish yang kuat hingga mencapai puncak di level 93.43. Namun setelah gagal mempertahankan kenaikannya, harga mengalami koreksi tajam hingga menyentuh support 77.88. Dari level tersebut, harga berhasil rebound dengan cukup kuat, tetapi penguatan mulai kehilangan momentum setelah mendekati gap di kisaran 85.89–87.27 yang kini berubah menjadi area resistance.
Pergerakan emas pada time frame H4 mulai menunjukkan perubahan tren setelah sebelumnya berada dalam tekanan bearish yang membawa harga turun hingga menyentuh support 3.995. Dari area tersebut, harga bangkit dengan reli yang cukup kuat hingga berhasil menembus garis downtrend jangka menengah dan bertahan di atas SMA 50 yang kini berada di kisaran 4.060. Penguatan tersebut bahkan sempat membawa harga menguji resistance 4.116 yang juga menjadi level tertinggi dalam pergerakan terbaru.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 sebelumnya berada dalam tren bullish yang kuat hingga berhasil mencapai puncak di level 93.43. Namun, setelah gagal mempertahankan penguatannya, harga mengalami koreksi tajam yang membawa US Oil turun hingga menyentuh support 77.88. Dari area tersebut, harga mulai bangkit dan mencatatkan rebound yang cukup signifikan hingga mencoba menutup gap di kisaran 85.89–87.27, yang kini menjadi area resistance utama.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan harga emas pada time frame H4 masih cenderung bearish, dengan level pivot berada di 4.055. Selama harga tetap bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan potensi menguji area support di 3.982, kemudian 3.964, hingga 3.947.
