Inflasi AS Memanas Dorong Dolar Menguat
Inflasi AS memanas kembali menjadi perhatian utama pasar global setelah data harga produsen Amerika Serikat naik lebih tinggi dari perkiraan pada April. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak awal 2022 dan memperkuat kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi yang terus meningkat akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Sebelumnya, data inflasi konsumen AS juga menunjukkan kenaikan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan biaya energi menjadi pendorong utama kenaikan harga tersebut. Kondisi ini meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Data inflasi produsen AS turut memperkuat kekhawatiran pasar setelah Producer Price Index (PPI) naik 1,4% pada April secara bulanan, tertinggi sejak Maret 2022 dan jauh di atas perkiraan 0,5%. Secara tahunan, PPI meningkat 6%, tertinggi sejak Desember 2022, seiring kenaikan biaya energi akibat konflik Iran yang masih berlangsung.
Pelaku pasar kini fokus pada dampak inflasi terhadap kebijakan moneter The Fed dan pergerakan suku bunga global. Kekhawatiran tersebut sempat mendorong imbal hasil obligasi tenor panjang AS menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2025.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level 4,471%, sementara yield obligasi 30 tahun naik menjadi 5,04%. Di sisi lain, yield obligasi tenor 2 tahun turun ke 3,979%, mencerminkan evaluasi pasar terhadap prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Wall Street Bergerak Mixed Ditopang Saham Teknologi
Meski tekanan inflasi meningkat, saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan tetap menopang penguatan bursa saham AS. Sektor chip dan teknologi kembali menguat setelah sempat terkoreksi pada sesi sebelumnya.
Dow Jones Industrial Average turun 67,36 poin atau 0,14% ke level 49.693,20. Namun, S&P 500 naik 0,58% menjadi 7.444,25 dan Nasdaq melonjak 1,20% ke 26.402,34. Indeks saham global MSCI turut menguat 0,54% menjadi 1.109,33. Bursa saham Eropa juga bergerak positif dengan indeks STOXX 600 ditutup naik 0,79%.
Inflasi AS memanas memang meningkatkan kekhawatiran pasar. Namun, investor masih melihat sektor teknologi sebagai area yang tetap solid di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian geopolitik.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping Jadi Sorotan Pasar
Perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan tersebut berlangsung selama dua hari dan dihadiri sejumlah tokoh bisnis besar AS, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan Elon Musk.
Donald Trump diperkirakan akan meminta China membuka akses lebih luas bagi bisnis Amerika Serikat. Namun, pasar menilai peluang tercapainya kemajuan besar terkait perang Timur Tengah maupun hubungan dagang masih terbatas.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Pernyataan itu membuat pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap hasil pertemuan kedua negara.
Dolar AS Menguat, Poundsterling Tertekan
Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam dua pekan setelah rilis data inflasi terbaru. Indeks dolar naik 0,16% ke 98,49.
Euro melemah 0,22% ke US$1,1711, sementara dolar AS menguat 0,16% terhadap yen Jepang ke level 157,87. Penguatan dolar terhadap yen juga memicu spekulasi intervensi dari otoritas Jepang. Poundsterling turun 0,1% ke US$1,3523 setelah posisi politik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dinilai melemah.
Harga Minyak dan Emas Terkoreksi
Harga minyak dunia turun karena investor khawatir inflasi tinggi dapat memicu kenaikan suku bunga AS. Pasar juga menunggu perkembangan pertemuan antara Trump dan Xi Jinping di Beijing.
Harga minyak mentah AS ditutup turun 1,14% ke US$101,02 per barel. Sementara itu, Brent melemah 1,99% menjadi US$105,63 per barel. Di pasar logam mulia, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$4.689,91 per ons. Namun, kontrak berjangka emas AS masih naik tipis 0,04% ke US$4.679,60 per ons.
Pada perdagangan kali ini, inflasi AS yang memanas tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global.
Prospek Harga Emas Kamis | 14 Mei 2026
Pergerakan emas di time frame H4 terlihat masih bergerak sideways di area konsolidasi setelah sebelumnya rebound dari support 4.560. Harga saat ini bergerak di sekitar SMA 50 dan mencoba bertahan di atas resistance 4.660 yang kini menjadi support terdekat. Jika mampu bertahan di atas area tersebut, emas berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance 4730, kemudian 4.770 hingga 4.833.
Namun jika kembali turun di bawah 4.660, tekanan bearish berpotensi membawa harga kembali menguji support 4.618 dan 4.560. Sementara itu, indikator RSI berada di kisaran netral 50, yang menunjukkan momentum masih cenderung terbatas sambil menunggu arah pergerakan berikutnya.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.730 R2 4.770 R3 4.833
S1 4.660 S2 4.618 S3 4.560
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.660 |
| Profit Target Level | 4.730 |
| Stop Loss Level | 4.615 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.730 |
| Profit Target Level | 4.660 |
| Stop Loss Level | 4.770 |
Prospek Harga US Oil Kamis | 14 Mei 2025
Pergerakan US Oil di time frame H4 terlihat mulai kehilangan momentum bullish setelah gagal bertahan di atas resistance 100,50 dan kembali bergerak di bawah SMA 50. Koreksi juga terjadi setelah harga menembus garis uptrend jangka pendek, yang membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju support 93,67. Jika tekanan bearish berlanjut, harga berpotensi turun menguji support berikutnya di 91,84 hingga 89,72.
Namun selama harga masih mampu bertahan di atas area 93,67, peluang rebound tetap terbuka untuk kembali menguji resistance 98,98, kemudian 100,50 hingga 102,62. Sementara itu, indikator RSI bergerak di bawah level 50, yang menunjukkan momentum cenderung melemah dalam jangka pendek.
US Oil INTRADAY AREA
R1 98,98 R2 100,50 R3 102,62
S1 93,67 S2 91,84 S3 89,72
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 94,00 |
| Profit Target Level | 97,00 |
| Stop Loss Level | 91,50 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 98,00 |
| Profit Target Level | 94,00 |
| Stop Loss Level | 100,60 |
Baca analisa sebelumnya: Wall Street Tertekan Saat Inflasi AS dan Minyak Naik
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan XAU/USD pada time frame H4 masih cenderung bullish. Level pivot berada di area 4.685. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka. Harga berpotensi menguji resistance 4.725, kemudian 4.745, hingga 4.770.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish setelah berhasil rebound dan bertahan di atas area support 4.660, sekaligus bergerak di atas SMA 50. RSI yang berada di sekitar level 55 juga mengindikasikan momentum kenaikan masih cukup terjaga.
Pergerakan US Oil di time frame H4 sebelumnya sempat menguat setelah breakout di atas SMA 50 dan resistance 99,13, bahkan mencetak high baru di sekitar 102,62. Namun pada pembukaan market hari ini, harga langsung dibuka gap down dan kembali bergerak di bawah SMA 50 serta menembus up trend line yang sebelumnya menopang kenaikan.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan XAG/USD masih cenderung bearish pada time frame H4, dengan level pivot berada di 85,90. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, potensi penurunan masih terbuka untuk menguji support 82,15, kemudian 80,70, hingga 79,60.
Harga emas berhasil rebound setelah bertahan di atas support 4.660 dan kini kembali menguji resistance 4.770. Jika mampu breakout di atas level tersebut, potensi kenaikan masih terbuka untuk melanjutkan penguatan menuju resistance 4.833 hingga 4.890. Namun, selama resistance 4.770 belum ditembus secara meyakinkan, harga masih berisiko mengalami koreksi terbatas untuk menguji support terdekat di 4.696.
Harga US Oil sempat rebound, namun penguatan masih tertahan di bawah SMA 50 serta area resistance 99,13 hingga 101,46. Kegagalan menembus area tersebut menunjukkan momentum bullish masih belum cukup kuat, sehingga harga berisiko kembali bergerak melemah dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan USD/JPY pada time frame H4 masih berada dalam tren bullish, dengan level pivot di 156,45. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji area resistance di 157,65, kemudian 158,00, hingga 158,30.
Pergerakan emas di time frame H4 terlihat mengalami koreksi setelah gagal menembus area resistance 4.730 hingga 4.770. Meski demikian, tekanan turun masih tertahan di area support 4.660 serta SMA 50 di kisaran 4.618 yang masih menjadi penopang pergerakan harga.
Pergerakan US Oil di time frame H4 sempat mengalami koreksi setelah gagal bertahan di atas resistance 99,13. Namun, harga kembali rebound setelah membentuk low baru di area 93,78 yang kini menjadi support terdekat. Saat ini harga masih menguji kembali resistance 99,13 serta area SMA 50 di kisaran 101,46 yang menjadi resistance dinamis.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan emas masih berpotensi bullish pada time frame H4 dengan level pivot di 4.680. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance 4.765, kemudian 4.800, hingga 4.830.
Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan tren bullish setelah harga berhasil menembus resistance 4.618 yang juga bertepatan dengan area SMA 50. Harga kemudian melanjutkan penguatan dengan menembus resistance berikutnya di 4.660, sehingga kedua level tersebut kini berubah fungsi menjadi area support terdekat. Setelah breakout tersebut, harga sempat reli dan mencetak high baru mendekati resistance 4.770 sebelum akhirnya mengalami koreksi sehat.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas support 99,13 dan kembali bergerak di bawah SMA 50 yang berada di area 101,46. Tekanan jual semakin kuat setelah harga membentuk lower high dan bergerak di dalam pola descending trendline, yang menunjukkan dominasi seller masih cukup besar dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan US Oil pada time frame H4 masih cenderung bearish, dengan level pivot berada di 95,80. Selama harga tetap bergerak di bawah level tersebut, potensi pelemahan masih terbuka untuk menguji area support di 89,80, kemudian 87,60, hingga 85,40.
